Selasa, 11 September 2018

DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN




DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN

MAKALAH
Disampaikan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
Menempuh Mata Kuliah Perencanaan Pendidikan
Program Studi Magister/Manajemen Pendidikan
PPs FKIP Universitas Bengkulu Semester 1 Tahun Akademik 2012/1013
Dosen Dr. Manap Somantri, M.Pd

Oleh:

JON SASTRO



PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI/MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2013




KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahim

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan” Makalah ini berisikan informasi tentang Perencanaan Pendidikan atau lebih rincinya tentang pengertian perencanaan pendidikan, tujuan perencanaan pendidikan, dan tentang perencanaan untuk menjadi guru yang professional.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen mata kuliah Dr. Manap Somantri, M.Pd serta rekan-rekan seperjuangan di semester 1 Program Studi Magister/Manajemen Pendidikan Tahun Akademik 2012/1013.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin Ya robbal’Alamin.
Wassalamualaikum wr.mb

                                                                        Bengkulu,        Mei 2013


Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB 1. PENDAHULUAN
Latar Belakang ..................................................................................... 1
Rumusan Masalah ................................................................................ 1
Tujuan .................................................................................................. 2
Manfaat ................................................................................................ 2

BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Tujuan perencanaan Pendidikan............................. 3
1. Rngkaian pembelajaran guru  ...................................................... 6
2. Kontroversi yang Belum Terselesaikan........................................ 8
3. Persiapan Awal Guru Formal..................................................... 11

BAB III. PENUTUP
Kesimpulan ........................................................................................ 19

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 21





BAB I
PEDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu investasi yang sangat penting dalam upaya pengembangan dan pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Oleh karena itu perencanaan pendidikan mutlak diperlukan dan harus disusun secara terarah, sistematis, terpadu, berkelanjutan, bersifat aspiratif, partisipasif dan inovatif agar dapat menempah guru-guru yang professional.
Di negara berkembang seperti Indonesia terdapat beberapa perencanaan dalam mengupayakan bagaimana sebuah pendidikan itu dapat berkualitas dan bagaimana cara untuk mempertahankan guru yang professional dari masa ke masa, yang memungkinkan guru untuk terus-menerus beradaptasi dan menyempurnakan keterampilan mereka serta praktek guru secara langsung di dalam kelas dengan adanya perubahan kontekstual dan ekonomi di lingkungan yang ada.

B.   RumusanMasalah
Adapun Rumusan Masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Apa pengertian dari perencanaan pendidikan
2.      Bagaimana tujuan perencanaan pendidikan
3.      Apa point-point yang menunjukan guru profesional
4.      Bagaimana gagasan-gagasan guru masa depan
5.      Bagaimana kebijakan dan praktek guru dalam mengajar
C.   Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
1.      Untuk mengetahui pengertian dari perencanaan pendidikan
2.      Untuk mengetahui bagaimana tujuan perencanaan pendidikan
3.      Untuk mengetahui bagaimana point-point sebagai guru profesional
4.      Untuk mengetahui bagaimana gagasan-gagasan guru masa depan
5.      Untuk mengetahui bagaimana kebijakan dan praktek guru dalam mengajar

D.   Manfaat
Supaya mengetahui tentang dasar-dasar perencanaan pendidikan, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, serta bisa dijadikan sebagai referensi tentang dasar-dasar perencanaan pendidikan dan bagaimana perencanaan-perencanaan yang dilakukan untuk menjadi seorang guru yang profesional.




BAB II
Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan

  1. Pengertian dan tujuan perencanaan
Untuk mengembangkan sebuah pendidikan maka diperlukan perencanaan yang baik, dimana pendidikan akan saat erat hubungan dengan pembangunan secara nasional. Jika pada tahun 1967 perencanaan telah mengalami perubahan substansial, yang dianggap kaku dan harus ditinggalkan, namun tidak untuk saat ini karenanya perencanaan juga merupakan cara untuk mengatur pembelajaran, pemetaan, target, bertindak dan bagaimana cara untuk memperbaikinya.
Tujuan dari perencanaan yaitu untuk  memantau perkembangan
dan perubahan serta pengaruh  yang ada pada pendidikan ,menyoroti isu-isu pendidikan
dan menganalisis dalam konteks historis dan  peraturan sosial, yang dapat dikembangkan di negara-negara berkembang. Perencanaan pendidikan pertama merupakan persiapan guru, yang menjadi perencanaan seluruh dunia dengan menjadikan guru profesional, yang memungkinkan guru untuk terus beradaptasi dan menyempurnakan keterampilan mereka dalam praktek di dalam kelas sesuai dengan perubahan kontekstual dan ekonomi. Sementara semua orang setuju bahwa pendidikan guru dan pelatihan guru sangat penting, pertanyaannya adalah berapa banyak persiapan guru yang dibutuhkan? Jawabannya tergantung pada beberapa faktor, seperti tingkat sumber daya finansial, jumlah guru untuk dilatih, tingkat pengetahuan guru, dan daya tarik pengajaran profesi. Proses persiapan guru dimulai saat masa guru yang dipilih melakukan pelatihan pra-jabatan, sampai mereka di sekolah, yang akhirnya mereka mencapai titik penghujung dari karir mereka.
Di berbagai negara berkembang seperti Indonesia, Amerika Latin, Arab terdapat beberapa kontroversi dalam mengupayakan bagaimana sebuah pendidikan itu dapat berkualitas dan bagaimana cara untuk mempertahankan guru yang professional dari masa ke masa, yang memungkinkan guru untuk terus-menerus beradaptasi dan menyempurnakan keterampilan mereka serta praktek guru secara langsung di dalam kelas dengan adanya perubahan kontekstual dan ekonomi di lingkungan yang ada. Dimana, Mark Bray mengatakan salah satu upaya bagi negara berkembang dalam meningkatkan kualitas dari belajar mengajar adalah dengan mendistribusikan buku-buku pelajaran dan teknologi (ICT) di sekolah-sekolah.
Ada beberapa point yang dapat menunjukan bahwa seorang guru itu dapat dikatakan sebagai guru profesional. Pertama, guru bertindak sebagai mediator dan efektifitas inovasi bagi siswa di dalam maupun di luar kelas. Kedua, guru yang mampu memacu minat siswa dalam belajar sehingga siswa mampu dengan mudah dalam menguasai topik pelajaran, dimana seorang guru menjadi dorongan dan antusiasme seorang siswa dalam belajar, dan yang ketiga adalah guru yang akan selalu memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada siswanya, dengan begitu berarti guru akan selalu menyuruh siswa belajar tanpa didampingi oleh guru di rumah. Dari ketiga pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa guru professional itu adalah guru yang jika berpikir secara analitis, inisiatif , memilki rasa ingin tahu yang besar, motivasi untuk belajar kembali, adanya kepercayaan yang dimiliki oleh siswa kepada guru, dan rasa adil dari setiap siswa serta dapat menghormati orang lain.
Selanjutnya adalah bagaimana persiapan dari seorang guru dalam mengajar? Tentu saja setiap guru akan memiliki persiapan-persiapan yang berbeda sesuai dengan apa yang mereka butuhkan saat mengajar. Namun yang menjadi masalah atau kendala saat ini adalah tidak sedikit guru yang tidak melakukan persiapan sama sekali untuk mengajar di dalam kelas. Mereka hanya bermodalkan pengalaman yang didapatkan saat memperoleh pendidikan sebagai seorang guru tanpa harus melakukan persiapan kembali ketika sekarang telah benar-benar menjadi seorang guru. Anggapan dari mereka yang merasa cukup dari pendidikan selama ini benar-benar bertolak belakang dari bagaimana pencapaian seorang guru professional dalam mempersiapkan diri sebelum mengajar.
Hal ini dikarenakan atas ketidak tahuan mereka atau adanya penyebab lain. Oleh karena itu, pengembangan guru professional harus diberikan sejak dini, dengan maksud untuk mempertahankan kualitas guru. Sehingga jika ada guru professional yang meninggal dan pesiun maka akan cepat tergantikan dengan guru baru dengan kualitas sama. Salah satu cara untuk mempertahankan kualitas guru tersebut dengan sering diadakannya pelatihan-pelatihan guru professional. Di Indonesia pemerintah seharusnya telah mempersiapkan bagaimana menjaga kualitas guru dan pengembangan professional berkelanjutan guru SD yang merupakan dasar pertama siswa untuk mendapatkan pendidikan secara baik. Di bawah ini beberapa hal yang dapat membantu kita untuk mempertahankan guru professional secara berkelanjutan:
1.      Rangkaian Pembelajaran Guru: Sebuah Kerangka Konseptual
Untuk mempertahankan guru professional yang berkelanjutan secara optimal maka guru harus memiliki kerangka kerja yang komprehensif, dengan begitu akan lebih mudah untuk mengatur dan memahami bagaimana guru dapat mengajar secara professional. Selain itu dengan adanya kerangka Konseptual maka guru juga akan mengetahui apa yang telah dipelajari sebelumnya dan apa yang akan dipelajari selanjutnya. Hal ini sangat memudahkan bagi seorang guru dalam memberikan materi, sehingga siswa tidak merasa bosan di dalam kelas. Dengan begitu masing-masing guru telah memiliki agenda yang akan mereka berikan kepada siswa disetiap pertemuannya. Semua agenda tersebut akan terstruktur dengan baik.
Apabila kita telah memiliki rangkaian pembelajaran dengan baik maka saya yakin untuk guru-guru selajutnya tidak begitu sulit dalam membimbing mereka menjadi guru professional, Lortie (1975), mengatakan bahwa guru belajar tentang mengajar dengan mengamati guru-guru mereka sebelumnya, sebagian mereka akan mengajar seperti bagaimana guru mereka mengajar dahulu. Hal ini, menunjukan jika rangkaian pembelajaran pada guru itu akan sangat erat hubungannya dengan guru yang akan datang. Oleh sebab itu, rangakain pembelajaran guru sangat berpengaruh kuat untuk guru dimasa mendatang, selain pendidikan yang akan mereka peroleh pada saat sekolah tentunya.
Ada beberapa bentuk dari pembelajaran guru yang diikuti oleh guru selanjutnya yaitu mentode guru dalam mengajar dengan metode ceramah, metode diskusi dan metode CBSA. Metode-merode tersebut akan sangat membosankan jika dilakukan secara berkelanjutan tanpa disertai dengan ide-ide cemerlang yang diberikan oleh guru professional. Sehingga ini memperkuat bahwa kelas merupakan tempat belajar yang tidak mengasyikkan bagi sebagian siswa namun upaya menentang dari siswa pun tidak ada. Untuk itu perlu adanya rangkaian pembelajaran guru secara terstuktur dengan konsep yang membuat siswa tertarik untuk belajar.
Jika sebelumnya kita membahasa tetang bagaimana seorang calon guru itu akan mengajar dengan melihat bagaimana dahulu gurunya mengajar maka hal ini disebut dengan istilah fase atau tahap pra-service, namun setelah calon guru itu benar-benar mengambil tanggung jawab penuh untuk mengajar baik di Sekolah Dasar (SD) atau sekolah menengah (SMP) maka guru tersebut telah memasuki fase atau tahap induksi dari seorang guru. Fase induksi adalah proses formal maupun informal dimana seorang guru mulai berlatih beradaptasi dan telah berperan sebagimana selayaknya seorang guru professional. Jika pada fase pra-service calon guru masih dibiarkan untuk belajar sendiri dari pengalaman, hal ini tidak untuk fase induksi yang telah melibatkan orang lain atau organisasi sebagai mentor dalam meningkatkan pembelajaran guru professional. Dan akhirnya seorang calon guru akan masuk ketahapan professional, yaitu tahap dimana seorang guru benar-benar bertanggung jawab atas pembelajaran yang diberikan dengan karakteristik guru professional.
Contoh dari praktek pengembangan guru professional dapat kita lihat di negara Cina dan Jepang,  yang pada fase pra-service mereka telah mempersiapkan universitas untuk memberikan kredit mata kuliah “praktek mengajar di kelas”. Mereka telah belajar bagaimana menjadi seorang guru professional dan penting bagi mereka untuk bekerja sama dalam pengembangan guru professional. Kedua negara tersebut merupakan negara yang pengembangan professional gurunya sangat baik, dimana terdapat pusat-pusat pelayanan yang baik, dengan bangunan, peralatan dan ketenagaan yang sangat memadai, yang semua infrastruktur tersebut jarang terdapat di negara-negara lain.

2.      Kontroversi yang Belum Terselesaikan
Kita ketahui bersama masih banyak terdapatkan kontroversi-kontroversi mengenai bagaimana cara mencetak atau menghasilkan seorang guru professional dikemudian hari. Salah satu kontroversi yang masih berlangsung adalah apakah program fase pra-service untuk pengembangan guru professional itu masih diperlukan atau tidak? Karena di universitas atau pasca-sekunder perguruan tinggi di Amerika dan Inggris gencar dilakukan penghapusan pra-service pada lembaga pendidikan guru .
Ada beberapa asumsi yang menyatakan bahwa fase pra-service tidak dibutuhkan dalam pendidikan guru. Asumsi pertama, dimana Kennedy dan Hundersmarck (dikuti dalam Wilson dan Youngs, 2005) mengatakan bahwa perdebatan tentang kebijakan perlunya pendidikan guru telah didorong dengan asumsi yang berbeda tentang karakteristik apa yang sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan guru baru. Asumsi kedua menyebutkan bahwa guru yang dibutuhkan adalah guru yang memiliki pengetahuan umum secara mendasar, guru yang professional dalam pengetahuan subjek dan padagogi mereka yang sangat bagus. Selanjutnya di asumsi yang ketiga adalah meningkatkan kebijakan dari karakter seorang guru dengan mempunyai nilai-nilai professional sebagai calon seorang guru, seperti toleransi dan kesabaran.
Namun pada akhirnya seorang guru yang professional itu terlahir dari individu dan karakter kepribadian yang baik. Jika itu terjadi, maka apapun pendidikan yang mereka capai akan tetap menjadikan mereka sebagai seorang guru professional. Guru merupakan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dengan memperdalam karakteristik pendidikan. Oleh karena itu fase pre-service yang diperdebatkan tidak akan menjadi masalah besar dalam membentuk kepribadian guru professional, seandainya karekteristik kepribadian yang baik telah ada pada diri mereka masing-masing.
Kontroversi lain yang masih hangat diperbincangkan adalah berapa banyak persiapan normal yang dibutuhkan dari seorang guru? Dimana sistem pendidikan tidak akan mampu menyediakan guru dengan gaji dan kondisi kerja yang benar-benar kompetitif seperti pekejaan lainnya. Menurut statistik dari lembaga internasional (OECD, 2001) ada 59 juta guru sekolah dasar (SD) dan Menengah (SMP), lebih dari dua pertiga diantaranya berada di negara berkembang, Tiyab dan Vianou (2004) menunjukan sebagai antisipasi pada tahun 2015, maka 180 juta anak-anak akan bersekolah.  Negara-negara yang sudah memiliki guru dalam jumlah besar adalah negara China (6,4 juta guru), India (2,8 juta guru), Indonesia (1,4 juta guru), Brasil (0,8 juta guru) dan Nigeria (0,5 juta guru).
Apabila disebuah negara tersebut telah memiliki jumlah guru dalam jumlah  besar maka secara otomatis persiapan mengajar yang dibutuhkan oleh guru tidaklah begitu banyak, karena mereka akan saling berbagi, namun gaji dan kondisi mereka bekerja pun juga akan terbagi khususnya di negara berkembang.
Masih dengan kontroversi yang ada pada pengembangan pengajaran dalam mencapai guru professional, yaitu apakah di dalam mengajar posisi dan karir itu perlu di capai? Dimana ada yang beranggapan bahwa guru sebagai  karir atau guru sebagai pekerjaan. Jika guru menempatkan dirinya sebagai karir maka guru diharapkan untuk tetap berada dipelayanan publik selama masa kerja nya. Guru sebagai karir akan sangat dilihat dari bagaimana mereka mengajar, pengetahuan yang mereka miliki. Sebaliknya jika guru memposisikan profesi dirinya sebagai sebuah pekerjaan.
Untuk meningkatkan pendidikan khususnya di negara-negara berkembang, maka pemerintah memberikan solusi dengan adanya pengajar sukarelawan yang diberikan pelatihan hanya tiga bulan lalu selanjutnya pelatihan selama enam bulan. Dari pengajar sukarelawan tersebut maka diberi kebijakan oleh pemerintah dengan menciptakan kategori baru yaitu guru kontrak. Guru kontrak ini sangat sedikit sekali mendapatkan pre-service pengajaran berbeda sekali dengan guru PNS, namun hasil yang mereka berikan tidak begitu mengecewakan. Sehingga, ada asumsi yang menyebutkan kalau pre-service untuk tenaga pengajar (guru) itu tidak penting.


3.      Persiapan Awal Guru Formal: Kebijakan, Institusi dan Praktek
Persiapan untuk guru-guru yang berada pada negara berkembang akan sangat berbeda dengan persiapan guru yang berada di negara maju. Sehinggah banyak di negara berkembang yang mengurangi durasi program persiapan guru mereka, pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan cara kerja professional bagi seorang guru pun juga banyak ditiadakan. Sehingga, kurang adanya penyaringan bagi guru yang sangat penting dalam mencari guru professional di negara-negara berkembang. Bahkan mereka menjadikan seorang mantan guru menjadi guru kembali tanpa memperdulikan akibat dimasa mendatang.
Kita dapat meneliti bagaimana cara penyaringan guru professional yang ada di negara-negara maju. Salah satunya di Negara Republik Korea yang sangat ketat penyaringannya untuk masuk ke program pendidikan guru, sehingga keluar dari pendidikan guru mereka akan langsung bisa praktek dan mengembangkan keprofessionalan seorang guru. Bila di Amerika Serikat hanya satu saringan dalam pengembangan professional guru yaitu dengan sertifikasi guru.
Meskipun di negara-negara maju sangat ketat dalam penyaringan untuk menjadi seorang guru namun, tidak semua proses penyaringan yang ada di negara maju bisa  dijadikan pedoman dalam merekrut guru yang professional di negara berkembang. Hal ini masih dapat kita lihat apakah strategi itu benar-benar dapat digunakan di negara berkembang atau tidak. Dengan kata lain kita juga harus selektif untuk menentukan strategi pengembangan guru professional.
Dibawah ini terdapat beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan sebagai acuan penyaringan guru professional.
1.      Apakah visi mereka dalam mengajar yang baik dan bagaimana visi mereka untuk menjadi seorang guru yang baik?
2.      Seberapa besar pemahaman yang dicapai oleh seorang calon guru dalam belajar dan mengajar?
3.      Berapa banyak pengalaman yang mereka miliki dalam mempersiapkan diri mereka sebagai calon seorang guru?
4.      Apakah mereka mencipakan kerjasama yang baik diantara guru dan siswa yang merupakan guru masa depan?
5.      Apa yang dapat mereka lakukan jika mereka kekurangan sesuatu dalam mengajar?
Dari pertanyaan di atas maka seorang guru akan menerima tanggung jawab untuk membangun pengetahuan dan bangsanya sebagai persiapan menciptakan generasi di masa mendatang.
Dalam meningkatkan kebijakan pengembangan guru professional tentu saja mengalami beberapa kegagalan, namun sebuah kegagalan akan menjadi sebuah kebijakan dan perencanaan untuk mengalokasikan sumber daya secara langsung terhadap peningkatan pengembangan guru professional. Ada empat gagasan besar yang mampu menciptakan rasa luas bahwa guru masa depan harus bisa mencari pengetahuan sendiri, sehinggah, gagasan yang pertama adalah mereka harus memiliki tanggung jawab lebih dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Dimana, ini akan membentuk karakter guru untuk lebih bisa mandiri, menetapkan norma-norma mereka sendiri, dan menegakkan norma-norma itu sendiri pula.
Kebijakan kedua adalah bahwa mengajar yang baik itu membutuhkan tindakan, guru harus memiliki kebiasaan untuk berpikir kritis dan mendalam, dan bagaimana seorang guru dapat memperbaiki kondisi pendidikan yang sudah hilang nama baiknya. Menurut (Feimen-Nemser, 2001) ada empat tradisi yang harus dilakukan dalam mengajar efektif yaitu akademik, sosial, developmatis, dan rekontruksi. Ketiga, menekankan bahwa semua peserta didik membangun diri mereka sendiri, gerakan untuk konstruktivisme dalam pengajaran dan pembelajaran bagi calon guru yang merupakan pengalaman pribadi bagi mereka nantinya. Dan yang terakhir adalah meningkatkan kebijakan dan praktek yang dipelajari, dalam mengajar ada sebuah perencanaan sehingga pelajaran yang disampaikan dicerna secara baik.
Selain itu cara lain yang dapat meningkatkan pengembangan guru secara professional diantaranya adalah pendidikan jarak jauh, dimana kita ketahui pendidikan jarak jauh tentu memakan dana yang tidak sedikit namun pengalaman yang diperoleh bagi seorang guru akan sangat banyak. Program pendidikan jarak jauh sangat bervariasi tidak hanya dalam penggunaan metode tatap muka, tetapi juga dalam isi pembelajaran dan penekanan relatif untuk materi pembelajaran, pedagogi dan pengetahuan pada umumnya.
Setelah kita mempelajari penelitian yang dilakukan di negara-negara berkembang dan maju guna untuk meningkatkan pemgembangan guru professional di masing-masing negara. Dan pada akhirnya pengembagan guru professional itu dapat dilakukan juga melalui tingkat provinsi atau kabupaten pada setiap negara. Biasanya sebagai guru pemula, ketika mulai mengajar maka dibutuhkan tentor untuk mendampingi agar dapat mengamati apakah sebagai pemula kita dapat menyampaikan materi ajar seperti guru professional lainnya. Selanjutnya seorang guru pemula akan siap menerima komentar, kritikan, dan saran dari mentor. Dengan kata lain sebagai seorang guru pemula kita membutuhkan Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman dalam mengajar.
Dengan menggunakan Rencana Pelaksaan Pembelajaran maka guru akan memiliki waktu cukup dalam mengajar, misalnya dengan topik “berbicara” seorang guru memilki waktu sepuluh menit untuk membuka pelajaran dan menyapa siswa, serta mengarahkan setiap siswa materi apa yang akan dipelajari hari ini. Lima menit untuk guru menyiapakan multimedia yang ingin digunakan, dan empat puluh menit untuk menyampaikan materi, serta dua puluh menit untuk latihan. Sehingga, proses pembelajaran akan tersusun dengan efektif.
Selain dari adanya mentor yang dibutuhkan dalam memberi penilaian untuk guru baru, masih banyak hal-hal penting yang perlu diperhatikan diantaranya adalah: 1) memberikan kesempatan kepada guru baru dalam mengamati guru lain dalam mengajar, 2) menugaskan mentor untuk mendampingi guru baru, 3) menyediakan kelas untuk guru baru sebagai obeservasi kelas, 4) Adanya co-perencaaan untuk guru baru. Serta strategi yang paling bagus untuk guru baru yang akan menjadi guru professional adalah : 1) memegang sesi orientasi khusus sebelum awal tahun, 2) menyediakan buku panduan khusus untuk mengajar, 3) memengang pengembangan professional dalam satu tahu, 4) mengurangi tugas non mengajar, 5) mengadakan pertemuan informal khusus untuk guru baru, 6) menawarkan atau mengadakan perjalanan (studi banding) sebagai bahan perbandingan dalam mengajar.
Sebagai seorang guru tentu kita tahu untuk menjadi guru professional tidaklah mudah, telah banyak strategi yang dipaparkan di atas dan bagaimana cara melakukannya. Namun upaya untuk menjadi guru professional masih mengalami kendala, hal ini disebabkan oleh guru yang masih terlalu sering kembali ke kelas tanpa ada kesempatan memberikan umpan balik dari lingkungan dan aplikasi yang ada. Lingkungan akan sangat besar pengaruhnya untuk meningkatkan kualitas mengajar demi tercapainya tingkat professional dari seorang guru. Dimana sebuah pengembangan professional itu terjadi melalui proses partisipatif dan meningkatkan keterampilan serta pengetahuan dari kita semua (guru dan siswa). Dengan demikian, semua akan terlibat dalam meningkatkan pengembangan professional guru dalam mengajar.
Sehingga untuk meningkatkan perspektif global pada pembelajaran guru maka perlu adanya kebijakan dan praktek mengajar dalam bentuk:
1.      Fokus pada konten
Meningkatkan dan memperdalam pengatahuan dari setiap metode mengajar guru
2.      Belajar aktif
Guru hanya berpeluang dalam menganalisi kegiatan belajar mengajar, sedangkan keaktifan diciptakan oleh siswa.


3.      Koherensi
Terus terjadinya komunikasi yang baik antara guru dan siswa yang selaras dengan standar kurikulum siswa.
Kita ambil satu kasus dari penelitian ini demi memperjelas bagaimana pengembangan professional yang efektif di negara maju seperti Jepang dan Cina dan apa pengaruhnya untuk negara yang sedang berkembang seperti Guinea. Penelitiaan terbaru pada negara Cina dan Guinea tentang “Lesson Study” atau Rencana Pembelajaran yang dilakukan oleh negara Cina berdampak positif bagi negara Guinea. Adapun praktek yang dilakukan oleh negara Cina dalam mengembangkan professional Guru mereka adalah:
*      Guru menggunakan kelas mereka sendiri sebagai laboratorium untuk mengembangan professional mereka.
*      Sifat publik yang mereka miliki, bahwa Guru di negara Jepang dan Cina terbiasa untuk diamati oleh rekan-rekan mereka dari pihak luar, sehingga ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka dalam mendiskusikan kelebihan dan kelemahan diri mereka pada saat mengajar.
*      Guru di negara Jepang dan Cina sangat suka untuk bekerja sama, atau mereka sering melakukan segala sesuatu secara berkelompok dan hasil yang diperoleh pun sangat memuaskan, dan masalah yang ada akan terselesaikan dengan baik.
*      Rencana pembelajaran bukan hanya dikembangkan untuk kurikulum melainkan juga untuk penelitian-penelitian. Dimana guru bersama-sama melakukan eksperimen, membuat hipotesis bagaimana mereka akan bekerja dan mengumpulkan data apakah sebenarnya mereka telah bekerja sesuai dengan hipotesis yang ada.
*      Penekanan pada pemahaman berpikir siswa, hal ini secara tidak langsung akan membuat siswa berpikir di dalam kelas.
*      Dampak kumulatif bagi seorang guru dalam menulis laporan, salah satu aspek yang sangat penting di Barat yang mereka sangat sulit dalam menulis laporan.
*      Kesimbangan antara inisiatif guru dan saran yang diperoleh dari luar. Sementara proses dari rencana pembelajaran adalah pengetahuan tambahan yang diperoleh dari luar.
Dari penelitian di atas sangat besar sekali manfaat bagi negara berkembang bukan saja untuk negara Guinea namun negara berkembang lainnya seperti Indonesia, jika apa yang dilakukan oleh negara Cina untuk mengembangkan professional guru juga diterapkan di Indonesia. Karena hampir dari semua guru SD di setiap negara (89 persen tenaga pengajar) sekitar 6.000 guru atau 35 persen dari tenaga pengajar di seluruh negara mampu berpartisipasi di dalamnya.
Program di atas didasarkan pada asumsi bahwa guru mengejar pengembangan professional yang efektif. Sebuah titik awal untuk mewujudkan guru professional. Hal ini memungkinkan guru dalam melakukan tindakan secara alami dengan hasil respon yang baik. Sehingga guru akan diakui sebagai kunci dalam perbaikan sistem belajar mengajar.
Sekarang yang perlu kita sadari, bagaimana sebuah negara kecil dan berkembang seperti Guinea dapat mengubah rencana pembelajarannya seperti Cina, hal ini pasti disebabkan oleh beberapa kesamaan yang mereka miliki yaitu:
1.      Keduanya memiliki kesamaan atas kebutuhan guru.
2.      Keduanya berupaya untuk mempertahankan kefokusan siswa pada saat belajar.
3.      Keduanya menyediakan akses keahlian eksternal, dan lain sebagainya.
Semoga penelitian yang dilakukan antara negara Cina dan Guinea tersebut menjadi bahan tolak ukur untuk Indonesia dalam mengembangkan professional guru. Sehingga akan lebih banyak guru yang mempertahankan model pembelajaran sebagai tanggung jawab dari seorang pendidik. Tentu masih banyak contoh lain yang bisa dijadikan pembelajaran untuk guru-guru di Indonesia, namun kita juga harus selektif dalam memilihnya, yang dapat digunakan oleh setiap guru, finansial yang memadai dan apakah metode tersebut cocok dilakukan di negara kita.



BAB III
SIMPULAN

 Jelas sekali dengan apa yang telah dijelaskan diatas bahwa pendidikan itu cenderung dengan dua arah yang berlawanan, satu kelompok menekankan kepada sesuatu ketidaefektifan peraturan yang telah dibuat, dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas pendidikan dan professionalisme dari seorang guru.  Namun kelompok lain tetap cenderung dengan gaya berhati-hati dan lambat dalam mengubah peraturan yang ada, walaupun mereka difungsionalkan. Pengembangan professional guru tetap bermasalah, namun rasa optimisme yang ada pada negara-negara berkembang khusunya: Pakistan, Guinea, Kenya, Tanzania, dan Namibia tetap mengesankan. Ada tiga kelompok yang mendorong peningkatan pengembangan yang mendasari professional guru yaitu:
1.      Beberapa pertanyaan yang akan disampaikan untuk mengetahui persiapan awal dalam melanjutkan pengembangan professional guru, yaitu;
a.       Apakah ada visi pengajaran yang baik yang diwujudkan dalam nasional dan dokumen kebijakan institusi, dan jika ada seberapa baik itu diimplementasikan?
b.      Apa bakat yang paling memungkinkan dalam mengajar? Berapa banyak orang-orang yang memiliki kemampuan dan kualitas dalam mengajar? Dan apa jenis perubahan yang diinginkan sebagai calon guru baru?
c.       Apakah antara guru baru dan guru kontrak perlu diubah cara perekrutannya di dalam sumber daya yang tersedia?
d.      Apa yang dapat dilakukan dalam meningkatkan perekrutan, persiapan kinerja pada guru?
e.       Apa inisiatif dan disinsentif bagi administrator untuk pendidikan awal bagi guru yang baik?
2.      Menjadikan kontroversi yang ada dalam pengembangan professional guru sebagai bahan acuan untuk menjadi lebih baik lagi. Bahwa setiap kontroversi yang timbul pasti disebabkan oleh pola pikir dan niat yang baik, dengan tujuan yang sama yaitu menuju pendidikan berkualitas.
3.      Dibutuhkannya persiapan guru secara matang, agar proses mengajar dan belajar berjalan dengan sempurna.



DAFTAR PUSTAKA

Feimen, Nemser, S. 2001. From Preparation to Practice: Designing a Continuum to Strengthen and Sustain Teaching. Teacher College Record. 103, 1013-1055.
Kennedy, M. 1999. The Role of Pre-Service Teacher Education, In: L. Darling-Hammond and G.Syker (Eds). Teaching as the Learning Prefession Hand Book of Policy and Practice (PP-54-85). San Fransisco: Jossey-Bass.

Lotie, D. 1975. Schoolteacher: a Sociological Study. Chiago: University of Chicago Press.
Schwille, John and Dembele, Martial. 2007. Fundamentals of Education Planning. Paris: International Institute for Education Planning







Tidak ada komentar:

Posting Komentar