Kamis, 13 September 2018

MANAJEMEN STRES KERJA GURU




MANAJEMEN STRES KERJA GURU
(Studi Deskriptif Kualitatif di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu)





PROPOSAL TESIS
Disampaikan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Penulisan Tesis
Dalam Rangka Mendapatkan Gelar Magister Pendidikan
Bidang Ilmu Administrasi Pendidikan



Oleh

JON SASTRO
A2K012116




PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2014



KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahim

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayahnya kepada kita semua.Sehingga kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridho-Nya. Syukur Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan  proposal tesis ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Penulisan proposal tesis berjudul Manajemen Stres Kerja Guru (Studi Deskriptif Kualitatif di Smp Negeri 4 Kota Bengkulu)’ diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan penulisan tesis dalam rangka mendapatkan gelar Magister Pendidikan  Bidang Ilmu Administrasi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu 2014.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal tesis ini masih jauh dari sempurna karena kemampuan dan pengetahuan penulis yang masih terbatas serta  berbagai hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi, namun berkat bimbingan, dukungan, motivasi serta saran dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikan proposal tesis ini dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu dengan keridahan hati penulis ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1.      Bapak Prof. Dr. Rambat Nur Sasongko, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
2.      Bapak Prof. Dr. Rohiat, M.Pd selaku pembimbing I dan Bapak Dr. Osa Juarsa, M.Pd, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan, masukan, motivasi dan dukungan kepada penulis dalam penyususna proposal tesis ini
3.      Bapak Dr. Aliman, M.Pd selaku ketua Program Pascasarjana Administrasi Pendidikan FKIP UNIB, yang telah memberikan bimbingan kepada penulis selama perkuliahan berlangsung.
4.      Seluruh dosen MAP dan Staf MAP yang selalu membantu kesulitan penulis dalam menyelesaikan proposal tesis ini.
5.      Bapak Hery Suryadi, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Kota Bengkulu yang memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SMP N 4 Kota Bengkulu.
6.      Seluruh dewan guru beserta staf tata usaha SMP N 4 Kota Bengkulu yang menerima dengan kerendahan hati kepada penulis untuk melakukan penelitian ini.
7.      Kedua orang tua saya ayahanda Islanto dan ibunda Wasniah yang telah memberikan doa dan dukungan moral maupun materi demi keberhasilan penulis dalam penulisan proposal tesis ini
8.      Kakak saya Hengki Hermansyah, SH, beserta istri, kakak perempuan saya Heni Puspita, S.Pd berserta suami dan keponakan tercinta saya Afnan, berkat dukungan kalian penulis semakin semangat dalam menyelesaikan proposal tesis ini.
9.      Yang paling special buat seseorang calon masa depan saya Enne Puri Kencana yang selalu setia, mendukung, memotivasi dan menemani saya selama ini.
10.  Dan yang tidak terlupakan yaitu rekan-rekan seperjuangan Mahasiswa MAP angkatan 2012 berkat kebersamaan dan kerja samanya penulis dapat menyelesaikan proposal tesis ini dengan baik.
 Tak Ada Jalan Yang Tak Berlubang” perumpamaan ini menggambarkan bahwa proposal tesis ini belum lah sempurna, maka kritik dan saran yang bersifat membangun penulis harapkan demi kesempurnaan proposal tesis ini. Semoga Prposal tesis ini secepatnya menuju ke penulisan Tesis. Amin
Wassalamualaikum wr.wb


Bengkulu,      Juni 2014

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................  i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................  iv

BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ............................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah.......................................................................................... 6
C.     Tujuan Penelitian........................................................................................... 7
D.    Kegunaan Penelitian...................................................................................... 8
E.     Ruang Lingkup Penelitian............................................................................. 8
F.      Definisi Konsep............................................................................................. 9

BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A.      Deskripsi Teoritik ....................................................................................... 10
1.      Manajemen Stres...................................................................................... 10
2.      Stres Kerja................................................................................................ 21
3.      Kerja Guru............................................................................................... 43
B.      Hasil Penelitian Yang Relevan....................................................................... 48
C.      Paradigma Penelitian...................................................................................... 50

BAB III. METODE PENELITIAN
A.    Rancangan Penelitian..................................................................................... 52
B.     Subjek Penelitian .......................................................................................... 54
C.     Teknik Pengumpulan Data dan Pengembangan Instrumen........................... 54
D.    Teknik Analisis Data...................................................................................... 62
E.     Pertanggungjawaban Peneliti......................................................................... 65

BAB IV. AGENDA PENELITIAN
A.    Jadwal Penelitian........................................................................................... 69
B.     Dukungan Fasilitas ....................................................................................... 70
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 71







LEMBAR PENGESAHAN


MANAJEMEN STRES KERJA GURU
(Studi Deskriptif Kualitatif di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu)


PERNYATAAN
“Proposal ini merupakan karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan
Atas pernyataan saya ini, saya siap menaggung resiko dan sanksi jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran dalam karya saya”

Bengkulu,    Juni 2014
Penulis,



JON SASTRO
NIM. A2K012116

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH
Pembimbing I



Prof. Dr. Rohiat, M.Pd
NIP: 19500521.198312.1.001
Pembimbing II



Dr. Osa Juarsa, M.Pd
NIP: 19620615.198603.1.027

Mengetahui
Ketua program Administrasi Pendidikan
PPs FKIP Universitas Bengkulu



Dr. Aliman, M.Pd
NIP: 19551023.198303.1.001






BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu upaya mewujudkan amanat Pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 bahwa, Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang. Isi pasal 31 UUD 1945 tersebut merupakan hak setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan, pelaksanaannya diselenggarakan melalui Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan dan menjunjung tinggi hak azasi manusia. Penerapan ketentuan dalam undang-undang ini diharapkan dapat mendukung segala upaya untuk memecahkan masalah pendidikan, guna memberikan sumbangan yang signifikan terhadap masalah-masalah makro bangsa Indonesia. Semua lapisan masyarakat terkait langsung maupun tidak langsung, baik sebagai konseptor maupun pengambil keputusan serta pelaksana dunia pendidikan diharapkan memiliki pemahaman tentang undang-undang tersebut sehingga mampu memberikan makna dalam pengembangan pendidikan dalam rangka terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Dalam dunia  pendidikan sangat mengharapkan tenaga pendidik yang berkualitas untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia.
Hidup di dunia modern yang penuh kecanggihan teknologi ini menuntut banyak perubahan-perubahan. Terutama dalam bidang pendidikan telah terjadi perubahan filosofi, metode atau teknik, proses maupun produk atau hasil pembelajaran bahkan kurikulum juga yang silih berganti. Saat ini pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran dari pada produk serta lebih mengembangkan kemandirian siswa (independent learning) dan bukan lagi berpusat pada guru (teacher centre). Perubahan ini menuntut guru bersikap lebih positif seperti aktif, innovatif,kreatif serta mempunyai kemampuan affektif yang tinggi seperti komunikatif, berempati, peramah, mempunyai emosi yang stabil, menjadi motivator dan fasilitator,sabar dan sebagainya karena sikap seperti itu akan membawa kepada peningkatan interaksi sosial guru dan siswa yang lebih harmonis yang akan mendukung kemandirian siswanya. Sehingga berdasarkan UU RI N0. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa “Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik” (Supardi, 2013:52).
Pendidikan saat ini semakin mendesak para guru untuk menjadi guru yang berprestasi dibidangnya sesuai dengan perubahan dan tuntutan masyarakat. Namun banyaknya tuntutan ini membuat para guru mengalami stres. disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis. Perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas.
Kenyataan ini mengharuskan guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan, maka setiap usaha peningkatan mutu pendidikan perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan kinerja guru. Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Untuk meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolak ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Sehingga banyaknya tuntutan ini membuat para guru mengalami stres.
Salah satu pembaharuan dalam pendidikan saat ini di Indonesia yaitu perubahan kurikulum yaitu kurikulum 2013. Dalam pengembangan kurikulum 2013 tidak semudah yang kita bayangkan, karena banyak sekali terdapat hambatan. Muzamiroh (2013:120) menjelaskan ada beberapa masalah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, salah satunya yaitu kesiapan guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum disebabkan beberapa hal yaitu kurang waktu, kekurang sesuaian pendapat, baik dengan sesama guru maupun kepala sekolah & administrator karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri Persoalan guru dirasakan krusial karena apabila guru tidak siap mengimplementasikan kurikulum baru, maka kurikulum sebaik apa pun tidak akan membawa perubahan apa pun pada dunia pendidikan nasional.  
Berdasarkan hasil observasi awal peneliti bahwa hal di atas sependapat dengan Kepala Sekolah SMPN 4 Kota Bengkulu Hery Suryadi, terkait pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolahnya. Beliau mengatakan, "Guru sudah terbiasa pada gaya lama, yaitu berorientasi pada konten untuk menyelesaikan materi. Sementara pada kurikulum 2013, orientasi guru adalah mengarahkan siswa berpikir kritis dan analitis,". Tugas guru kini, tidak hanya mendidik siswa mampu menjawab pertanyaan, tetapi guru juga harus mampu membuat siswa mampu membuat pertanyaan. "Untuk bisa berubah ke arah itu memerlukan waktu”. Hal ini sedikit membuat para guru stress menghadapinya, namun sebagai sekolah perintis kami harus bangga karena kami dipercaya untuk merintis kurikulum 2013 ini, jadi, siap tidak siap kami harus siap, dengan beriringnya waktu, dengan pendekatan-pendekatan dan pelatihan-pelatihan, beberapa guru sudah mulai terbiasa menyesuaikan dengan kurikulum baru ini walaupun belum secara menyeluruh”.
Tidak hanya perubahan kurikulum saja yang membuat para guru SMP Negeri 4 Kota Bengkulu mengalami stress, tetapi perubahan terhadap pencapaian nilai standar Ujian Nasional (UN) juga mengakibatkan stress, karena nilai standar Ujuan Nasional setiap tahun terus ditingkatkan oleh pemerintah. Ironisnya, setiap menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN), perhatian orang tua atau masyarakat lebih banyak atau lebih terfokus pada siswa, mulai dari persiapan maupun pelaksanaannya. Berbagai teknik atau strategi mempersiapkan UN bagi para siswa banyak dibicarakan. Bimbingan-bimbingan belajar UN semakin menjamur. Tabligh atau zikir akbar dikumandangkan untuk para siswa yang akan menghadapi UN. Sayangnya perhatian pada para guru terlupakan. Padahal para guru juga tidak kalah sibuknya. Mulai dari mempersiapkan bahan ajar yang praktis untuk siap menjawab UN, atau untuk di review agar siswa mampu menjawab UN dengan lancar, membuat latihan-latihan soal agar siswa terlatih dalam mengerjakan UN, hingga meluangkan waktunya untuk memberikan les tambahan, dan sebagainya. Menjelang pelaksanaan UN tersebut sudah dapat dipastikan tingkat stres para tenaga pendidik itu mengalami peningkatan.
Selain tingkat stres para pendidik karena pekerjaan atau kegiatan mereka yang meningkat menjelang UN, guru juga mempunyai beban psikologis karena mereka dituntut agar para siswanya harus lulus. Bahkan orang tua, sekolah dan masyarakat mempunyai asumsi bahwa keberhasilan siswa dalam UN mutlak dipengaruhi oleh peran guru. Pendapat yang lebih ekstrim lagi dari masyarakat bahwa kegagalan siswa dalam UN dikarenakan ketidakmampuan guru dalam mengajar. Sesungguhnya,ketidakberhasilan siswa dalam UN bukan hanya dari faktor guru tapi dipengaruhi oleh banyak hal misalnya kesehatan siswa pada saat mengerjakan UN, emosi siswa yang mengakibatkan mereka panik atau tidak teliti serta tuntutan orang tua yang membuat siswa stress.
Dari latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengkaji secara ilmiah melalui penelitaian tentang Bagaimana Manajemen Stres Kerja Guru dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui kinerja guru yang diharapkan. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian di SMP N 4 kota Bengkulu karena melalui sejarah SMP N 4 bukan termasuk sekolah unggulan jika di bandingkan dengan sekolah yang unggul di kota Bengkulu seperti SMP N 1 dan SMP N 2 kota Bengkulu. Namun dengan kepemimpinan sekarang SMP 4 mampu bersaing dengan sekolah unggul dan sama-sama mendapatkan kepercayaan untuk menyelenggarakan kurikulum 2013. Bahkan SMP N 4 kota Bengkulu mampu meraih penghargaan ADIWIYATA tingkat nasional tahun 2013, penghargaan ini merupakan untuk kali pertamanaya di kota Bengkulu. Sehingga peneliti sangat tertarik dengan kepemimpinan SMP N 4 Kota Bengkulu terutama dalam mengelola stress kerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui kinerja guru.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian  dijabarkan dalam permasalahan umum dan permasalah khusus sebagai berikut:
1.      permasalahan umum
Bagaimana manajemen stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu?


2.      Permasalahan Khusus
a.       Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu?
b.      Bagaimana upaya kepala sekolah dalam manajemen stres untuk mengatasi stres kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu?
c.       Bagaimana hasil dari pelaksanaan manajemen stress di SMP N 4 Kota Bengkulu?

C.    Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini dapat dijabarkan melalui tujuan umum dan tujuan khusus sebagai berikut:
1.      Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan manajemen stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu
2.      Tujuan khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:
a.       Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu
b.      Upaya kepala sekolah dalam manajemen stres untuk mengatasi stres kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu
c.       Hasil dari pelaksanaan manajemen stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu

D.    Kegunaan Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan kegunaan yang optimal baik secara teoritis maupun secara praktis. Dengan demikian hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia ilmu pendidikan.
1.      Kegunaan Teoritis
1)      Menjadi masukan untuk pihak sekolah melalui manajemen stress dalam meningkatkan motivasi dan kinerja guru
2)      Menjadi bahan untuk menambah atau memperkaya khazanah ilmu manajemen stress bagi guru, dan khususnya bagi kepala sekolah
2.      Kegunaan Praktis
1)      Menjadi kerangka acuan bagi manajer pendidikan dan pengelola kegiatan pendidikan disekolah guna meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
2)      Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dan bahan referensi bagi yang akan melakukan penelitian lanjutan.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini terletak pada kajian manajemen stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu, dan sebagai subjek penelitian ini adalah kepala sekolah beserta wakil dan guru-guru di SMP N 4 Kota Bengkulu dengan batasan variabel penelitian yaitu focus kepada factor penyebab stress kerja, upaya kepala sekolah dalam manajemen stres, dan hasil dari pelaksanaan manajemen stres kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu.
F.     Definisi Konsep
1.      Manajemen stress kerja guru
Manajemen stres adalah kecakapan menghadapi tantangan dengan cara mengendalikan tanggapan secara proporsional atau kemampuan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Kerja guru yaitu suatu tugas seorang guru yang dapat menghasilkan sebuah karya yang meliputi proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan bersama, dengan tugas sebagai mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Jadi manajemen stress kerja guru merupakan kemampuan kepala sekolah dalam mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional pada guru dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas kerja guru itu agar menjadi lebih baik.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Deskripsi Teoritik
1.      Manajemen Stres
Kehidupan manusia amat kompleks yang menyebabkan stress atau tekanan. Stres merupakan bagian dari kehidupan manusia sejak dahulu kala tanpa disadari hanya berubah wajah seiring dari perubahan masa. Stress dialami oleh semua manusia jika mereka berada dalam keadaan tidak menyenangkan. Secara umum, perkataan stress telah digunakan secara meluas dalam beberapa konteks yang berbeda. Tekanan dan kehidupan saling berkaitan dengan gaya hidup, pribadi, faktor keluarga, perbedaan budaya, perkembangan teknologi yang mendadak. Stress merupakan satu penyakit yang sering dikaitkan dengan kesehatan mental dan yang kerap menyerang masyarakat saat ini. Dalam konteks guru, stress terjadi karena banyaknya tuntutan atau perubahan yang harus dihadapi oleh guru. Salah satu upaya untuk menghilangkan stress yaitu dengan manajemen stress. Dalam membahas manajemen stress ini perlu terlebih dahulu dimengerti secara umum pengertian atau konsep dasar tentang manajemen dan stress.
Menurut Daft (2010:06) Manajemen adalah pencapaian tujuan-tujuan organisional secara efektif dan efisien melalui perencanaan, pengelolaan, kepemimpinan, dan pengendalian sumber daya-sumber daya organisasional. Sebagai manajer arti manajemen adalah menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain, dalam artiannya seorang manajer tidak dapat menyelesaikannya sendirian. Sehingga tugas manajer adalah menciptakan lingkungan dan kondisi yang melibatkan orang lain dalam mencapai suatu tujuan.
Menurut Davis yang dikutip oleh Badeni (2013:62), menyebutkan bahwa “Stres adalah kondisi ketegangan emosi pada diri seseorang yang berproses baik pada pikiran atau mental maupun fisik. Apabila ini terjadi berlebihan maka akan mengancam kemauannya dalam menghadapi lingkungannya“. Adapun menurut Robbins dalam bukunya perilaku organisasi (2003:793) stress adalah suatu kondisi dinamik dimana seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
Sehingga, manajemen stress adalah kemampuan penggunaan sumber daya-sumber daya secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stress itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik (Khoyunita.blogspot.com, 2013).
Stress dalam pekerjaan dapat dicegah timbulnya dan dapat dihadapi tanpa memperoleh dampaknya yang negative. Manajemen stress lebih daripada sekedar mengatasi, yakni belajar menanggulangi secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Sebagian para pengidap stress ditempat kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara bekerja lebih keras yang berlebihan. Ini bukanlah cara efektif yang bahkan tidak menghasilkan apa-apa untuk memecahkan sebab dari stress, justru akan menambah masalah lebih jauh. Sebelum masuk ke cara-cara yang lebih spesifik untuk mengatasi stressor tertentu, harus diperhitungkan beberapa pedoman umum untuk memacu perubahan dan penanggulangan. Pemahapan prinsip dasar, menjadi bagian penting agar seseorang mampu merancang solusi terhadap masalah yang muncul terutama yang berkaitan dengan penyebab stress dalam hubungannya di tempat kerja. Dalam hubungannya di tempat kerja, stress dapat timbul pada beberapa tingkat, belajar dari ketidakmampuan bekerja dengan baik dalam peranan tertentu karena kesalahpahaman atasan atau bawahan. Atau bahkan dari sebab tidak adanya keterampilan manajemen hingga sekedar tidak menyukai seseorang dengan siapa harus bekerja secara dekat (Margianti, 1999) dalam (Rivai dan Mulyadi, 2011:319).
a.      Strategi manajemen stress kerja
Dari sudut pandang organisasi, manajemen mungkin tidak khawatir jika karyawannya mengalami stres yang ringan. Karena pada tingkat stres tertentu akan memberikan akibat positif, hal ini akan mendesak mereka untuk melakukan tugas lebih baik. Tetapi pada tingkat stres yang tinggi atau ringan yang berkepanjangan akan membuat menurunnya kinerja karyawan.
Stres ringan mungkin akan memberikan keuntungan bagi organisasi, tetapi dari sudut pandang individu hal tersebut bukan merupakan hal yang diinginkan. Maka manajemen mungkin akan berpikir untuk memberikan tugas yang menyertakan stres ringan bagi karyawan untuk memberikan dorongan bagi karyawan, namun sebaliknya itu akan dirasakan sebagai tekanan oleh karyawan. Maka diperlukan pendekatan yang tepat dalam  mengelola stres, ada dua pendekatan yaitu pendekatan individu dan pendekatan organisasi (Sunyoto, 2013:63).
                    Pertama, pendekatan individual seorang karyawan dapat berusaha sendiri untuk mengurangi level stresnya. Strategi yang bersifat individual yang cukup efektif yaitu: pengelolaan waktu, latihan fisik, latihan relaksasi dan dukungan sosial. Dengan pengelolaan waktu yang baik maka seorang karyawan dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tanpa adanya tuntutan kerja yang tergesa-gesa. Dengan latihan fisik dapat meningkatkan kondisi tubuh agar lebih prima sehingga mampu menghadapi tuntutan tugas yang berat. Selain itu untuk mengurangi stres yang dihadapi pekerja perlu dilakukan kegiatan-kegiatan santai. Dan sebagai strategi terakhir untuk mengurangi stres adalah dengan mengumpulkan sahabat, kolega, keluarga yang akan dapat memberikan dukungan dan saran-saran bagi dirinya.
Kedua pendekatan organisasional dapat dilihat bahwa beberapa penyebab stres adalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur organisasi yang semuanya dikendalikan oleh manajemen, sehingga faktor-faktor itu dapat diubah. Oleh karena itu strategi-strategi yang mungkin digunakan oleh manajemen untuk mengatasi stres karyawannya adalah melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, redesain pekerjaan, pengambilan keputusan partisipatif, komunikasi organisasional dan program kesejahteraan. Melalui strategi tersebut akan menyebabkan karyawan memperoleh pekerjaan sesuai dengan kemampuannya dan mereka bekerja untuk tujuan yang mereka inginkan serta adanya hbungan interpersonal yang sehat serta perawatan terhadap kondisi fisik dan mental.
Gitosurdawo dalam buku Mulyasa (2011:279) mengemukakan manajemen stres secara individual dan organisasi sebagai berikut:
Tabel 2.1. Manajemen Stres
Secara individu
Secara organisasi
·         Meningkatkan keimanan
·         Meditasi dan pernapasan
·         Olah raga
·         Relaksasi
·         Dukungan social dari teman-teman dan keluarga
·         Menghindari kebiasaan rutin yang membosankan
·         terapi
·         memperbaiki iklim keluarga
·         memperbaiki lingkungan fisik
·         menyediakan sarana olah raga
·         melakukan analisis dan kejelasan tugas
·         mengubah struktur dan proses organisasi
·         meningkatkan partisipasi dalam pengambilan keputusan
·         restukturisasi tugas
·         menetapkan konsep manajemen berdasarkan sasaran

Sopiah (2008:94) berpendapat bahwa ada lima hal yang harus diperhatikan dalam strategi manajemen stress yang dapat di lihat pada gambar,seperti di bawah ini:
Remove the stressors
Stress management strategies
Receive social support
Control stress consequences
Withdraw from the stressor
Change stress perception
 






Gambar2.1. Strategi manajemen stress
1.      Remove the strssors
Ada banyak cara untuk menghilangkan stress di tempat kerja. Salah satu solusi terbaik adalah dengan memberdayakan para pegawai sehingga mereka memiliki control yang lebih atas pekerjaan dan lingkungan pekerjaan mereka. Stress yang berhubungan dengan tugas dapat diminimumkan lebih efektif melalui seleksi dan penempatan pegawai sehingga persyaratan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka. Selogan the right man on the right place at the right time cocok diterapkan pada saat seleksi dan penempatan pegawai.
Family friendly and work/life initiatives menghilangkan atau mengurangi stressor yang menyebabkan time based conflict. tiga hal yang paling lazim dalam family friendly and work/life initiatives yaitu sebagai berikut:


a.       Pengguna atau pemanfaatan yang fleksibel
Beberapa perusahaan mengajak pegawainya untuk menentukan kapan mulai dan berakhirnya waktu kerja sehingga mereka dapat lebih mudah menyesuaikan antara aktivitas pribadi dan pekerjaan
b.      Job sharing
Yakni memisahkan posisi karier antara dua orang sehingga mereka yang mengalami stress time based lebih sedikit di antara pekerjaan dan keluarga
c.       Telecommuting
Telecommuting adalah bekerja dari rumah, biasanya dilakukan dengan menghubungkan computer ke kantor sehingga mudah untuk menukar kegiatan pekerjaan dan bukan pekerjaan.
2.      With drawing from the stressors
Para pegawai biasanya mengalami stress ketika tinggal dan bekerja dalam kultur yang berbeda. Tidak cukup dengan asumsi-asumsi dan harapan yang umum. Para ekspatriat harus membayar kontan bagaimana cara berfikir, bersikap dan bertindak dipersepsikan atau direspons lingkungannya. Perlu waktu dan keinginan yang kuat agar mampu beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan baru.
3.      Canging stress perceptions
Tingkat stress yang dialami pegawai dalam situasi yang sama mungkin dapat berbeda antara satu individu dengan yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbadaan persepsi. Oleh karena itu sebenarnya stress dapat diminimumkan melalui perubahan persepsi atas situasi yang ada. Kita dapat memperkuat sell-efficacy dan self-esteem kita sehingga dapat menerima pekerjaan sebagai tantangan dan bukan ancaman.
4.      Controlling the consequences of stress
Kadang-kadang para pegawai tidak dapat mengendalikan stress yang dialaminya. Mereka seringkali membutuhkan bantuan untuk mengatasi stress dengan perilaku disfungsional seperti mengkonsumsi alcohol dan obat-obatan terlarang. Program gaya hidup sehat akan membantu pegawai belajar bagaimana gaya hidup yang sehat. Mengendalikan stress dengan baik tentu sangat bermanfaat, walau tidak semua orang mampu melakukannya. Kebanyakan orang memerlukan orang lain untuk membantunya agar dapat mengatasinya dengan baik
5.      Received social support
Dukungan lingkungan sekitar dapat mengurangi stress yang dialami seseorang. Dalam suatu organisasi, ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk memberikan dukungan kepada pegawai yang meengalami stress, yaitu: pertama, memperbaiki persepsi mereka bahwa mereka bernilai dan berguna. Kedua, menyediakan informasi untuk membantunya memahami masalah yang sesunggunya yang memungkinkan untuk menghilangkan stress. Ketiga, dukungan emosional dari yang lain dapat secara langsung membantu mengurangi stress.
b.      Tips Untuk Kepala Sekolah Dalam Manajemen Stres
Tidak semua kepala sekolah memiliki kemampuan dalam manajemen stress, bahkan tanpa pengalaman yang memadai bisa salah langkah dan justru akan menambah masalah. Menurut Mulyasa (2011:280) ada beberapa tips untuk kepala sekolah dalam penanggulangan stres kerja, yaitu:
1)      Mengelola waktu
Waktu bagi kepala sekolah itu jarang dipakai untuknya sendiri, ia harus mampu berbagi waktu dengan peserta didik, tokoh masyarakat, dinas pendidikan, organisasi profesi, dan lembaga swadaya masyarakat. Tak jarang tenaga kependidikan minta waktu untuk berkonsultasi dengan kepala sekolah ketika sedang bersiap untuk pulang. Sebagai kepala sekolah yang professional, harus mampu mengelola waktu sedemikian rupa, agar seluruh tugas dapat diselesaikan secara proporsional, tepat wantu, dan tepat sasran, termasuk bagaimana berbagi rasa dengan guru-guru lainnya sehingga kepala sekolah mampu berbaur dengan guru lain.
2)      Mengembangkan energi
Kepala sekolah harus tampil beda dan lebih energik dari para tenaga kependidikan yang lainnya, Karena kepala sekolah sebagai contoh, jika kepala sekolahnya punya semangat secara tidak langsung itu dapat memotivasi guru lain, selain itu, kepala sekolah juga sering terpilih menjadi pengurus organisasi yang harus mencurahkan energy untuk memenuhi berbagai macam harapan, misalnya memberikan sambutan, mencari pemecahan masalah, merancang penelitian bahkan melakukan ceramah keagamaan dan hal ini dapat mengurangi tingkat stress pada guru.
3)      Memecahkan masalah
Kepala sekolah harus mampu berperan sebagai penyangga di sekolahnya, harus menyerapdan memahami penderitaan serta masalah yang dialami oleh tenaga kependidikan agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik. Tidak sedikit guru yang mengalami stress karena masalah pembelajaran, disiplin peserta didik, beban yang terlalu berat, tidak adanya kerja sama dengan guru lain. Tetapi mereka enggan dan banyak yang merasa takut untuk menyampaikannya. Oleh karena itu kepala sekolah harus memberikan kesempatan, dan perlakuan yang sama kepada seluruh tenaga kependidikan, jangan  membedakan mereka karena predikat sebelumnya. Ciptakan suasana yang menyenangkan di antara guru agar mereka memiliki keberanian untuk mengungkapkan setiap masalah dan mencari solusinya.
Sedangkan menurut Higrad dalam buku Badeni (2013) berpendapat bahwa ada beberapa pedoman untuk menaggulangi stress, yaitu:
1)      Mengelola waktu
Seorang kepala sekolah harus mampu menghargai waktu, karena sering terjadi banyak waktu yang terbuang hanya untuk beberapa kegiatan tertentu. Manejer harus bisa membagi waktu terutam kapada tenaga kependidikan lainnya, karea tidak sedikit guru  itu yang mengalami stress kerja dan butuh penanggulangan dari atasan
2)       Seleksi dak Penempatan
Seleksi dan penempatan sangat mempengaruhi tingkat stress kerja guru, apabila terjadi seleksi dan penempatan yang tidak sesuai yang bukan kemampuan dia, maka akan mengakibatkan beban kerja yang terlalu berat. Jadi untuk menanggulangi stress kerja seleksi dan penempatan harus sesuai dengan pengalaman dan kemampuan.
3)      Penentuan tujuan
Penentuan tujuan yang jelas dan tepat dapat merupakan hal penting dalam mengelola stress. Karena tujuan yang jelas akan memotivasi guru dalam melaksanakan tugasnya dengan lebih baik.
4)      Rancangan ulang pekerjaan
Perancangan ulang pekerjaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan, minat dan spesialisasi serta keinginan idividu pelaksana merupakan salah satu usaha yang mungkin bisa dilakukan oleh kepala sekolah untuk mengurangi frustasi dan stress guru.


5)      Keterlibatan guru
Untuk mengurangi stress guru, kepala sekolah harus melibatkan guru-guru lain dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang langsung terkait dengan kinerjanya.
6)      Komunikasi
Peningkatan komunikasi dengan dewan guru dapat mengurangi ketidakpastian karena mengurangi ambiguitas peran dan konflik peran. Kepala sekolah dapat juga menggunakankomunikasi yang efektif sebagai cara untuk membentuk persepsi guru.
7)      Program pengembangan
Program pengembangan adalah usaha terencana dalam rangka memotivasi dan membantu peningkatan kesehata fisik dan mental guru melalui kegiatan-kegiatan tertentu, misalnya kegiatan olah raga bersama, lokakarya, menghindari rokok, dan sebagainya.

2.      Stres Kerja
a.      Pengertian stress kerja
Masalah-masalah tentang stres kerja pada dasarnya sering dikaitkan dengan pengertian stres yang terjadi di lingkungan pekerjaan, yaitu dalam proses interaksi antara seorang karyawan dengan aspek-aspek pekerjaannya. Di dalam membicarakan stres kerja ini perlu terlebih dahulu mengerti pengertian stress  secara umum (Rivai dan Mulyadi, 2010:307).
Menurut Davis yang dikutip oleh Badeni (2013:62), menyebutkan bahwa:
“Stres adalah kondisi ketegangan emosi pada diri seseorang yang berproses baik pada pikiran atau mental maupun fisik. Apabila ini terjadi berlebihan maka akan mengancam kemauannya dalam menghadapi lingkungannya“.
Adapun menurut Robbins dalam bukunya perilaku organisasi (2003:793) stress adalah suatu kondisi dinamik dimana seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
 Stres berasal dari bahasa latin “stringere“ yang digunakan pada abad XVII untuk menggambarkan kesukaran, penderitaan dan kemalangan. Stres yang terlalu berat dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Sebagai akibatnya, pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu kinerja mereka. Stres Kerja menurut Landy seperti dikutip Rivai dan Mulyadi (2011:308) ”Stres kerja adalah ketidakseimbangan keinginan dan kemampuan memenuhinya sehingga menimbulkan konsekuensi penting bagi dirinya”.
Kemudian menurut Anoraga  (2009:108) ” Stres kerja adalah suatu bentuk tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun mental, terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Seorang ahli menyebut tanggapan tersebut dengan istilah “fight or fight”. Jadi sebenarnya stress adalah sesuatu yang amat alamiah”.
Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa terjadinya stres kerja adalah karena adanya ketidakseimbangan antara karakteristik kepribadian karyawan dengan karakteristik aspek-aspek pekerjaannya dan dapat terjadi pada semua kondisi pekerjaan sehingga dapat mengakibatkan beberapa dampak positif maupun dampak negatif.
b.      Jenis Stres
Quick dan Quick dalam Rivai dan Mulyadi (2011:308) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
1.      Eustress, yaitu: hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang di asosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
2.      Distress, yaitu: hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan desduktrif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat kehadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan dan kematian.

c.       Gejala stress kerja
Akibat adanya stres kerja tersebut yaitu orang menjadi nervous, merasakan kecemasan yang kronis, peningkatan ketegangan pada emosi, proses berpikir dan kondisi fisik individu. Sebagai hasil dari adanya stres kerja karyawan mengalami beberapa gejala yang dapat mengancam dan mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Gejala stres ditempat kerja menurut Rivai & Mulyadi (2011:309) ada 7, yaitu;
a.       Kepuasan kerja rendah.
b.      Kinerja yang menurun,
c.       Semangat dan energy menjadi hilang,
d.      Komunikasi tidak lancer,
e.       Pengambilan keputusan jelek,
f.       Kreativitas dan inovasi kurang, dan
g.      Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif
Sedangkan menurut Robbins (2003:800) gejala-gejala stres tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori umum yaitu:
1. Gejala Fisiologis
Gejala fisiologis merupakan gejala awal yang bisa diamati, terutama pada penelitian medis dan ilmu kesehatan. Stress cenderung berakibat pada perubahan metabolisme tubuh, meningkatnya detak jantung dan pernafasan, peningkatan tekanan darah,timbulnya sakit kepala, serta yang lebih berat lagi terjadinya serangan jantung.
2. Gejala Psikologis
Dari segi psikologis, stres dapat menyebabkan ketidakpuasan. Hal itu merupakan efek psikologis yang paling sederhana dan paling jelas. Namun bisa saja muncul keadaan psikologis lainnya, misalnya ketegangan, kecemasan, mudah marah, kebosanan, suka menunda-nunda. Bukti menunjukkan bahwa ketika orang ditempatkan dalam pekerjaan dengan tuntutan yang banyak dan saling bertentangan atau dimana ada ketidakjelasan tugas, wewenang, dan tanggung jawab pemegang jabatan , maka stres maupun ketidakpuasan akan meningkat.
3. Gejala Perilaku
Gejala stress yang berkaitan dengan perilaku meliputi perubahan dalam tingkat produktivitas, absensi, kemangkiran, dan tingkat keluarnya karyawan, juga perubahan dalam kebiasaan makan, merokok dan konsumsi alkohol, bicara cepat, gelisah, dan gangguan tidur.
Menurut Braham dalam buku Rivai dan Mulyadi (2010:309), gejala stres dapat berupa tanda-tanda berikut ini:
1.      Fisik, yaitu sulit tidur atau tidur tidak teratur, sakit kepala, sulit buang air besar, adanyagangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-gatal, punggung terasa sakit, urat-urat pada bahu dan leher terasa tegang, keringat berlebihan, berubah selera makan, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kehilangan energi.
2.      Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung dan terlalu sensitif, gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-berubah, sedih, mudah menangis dan depresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan mudah bermusuhan serta mudah menyerang, dan kelesuan mental.
3.      Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit untuk berkonsentrasi, suka mlamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja.
4.      Interpersonal, yaitu acuh dan mendiamkan orang lain, kepercayaan pada orang lain menurun, mudah mengingkari janji pada oranglain, senang mencari kesalahn orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup diri secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang di mana ia terpaksa memberikan tanggapan melebihi kemampuan penyesuaian dirinya terhadap suatu tuntutan eksternal (lingkungan) yang akan  menimbulkan gejala-gejala seperti gejala fisiologis, gejala psikologis dan gejala prilaku, sehingga akan mempengaruhi kinerja mereka.
d.      Penyebab atau Sumber Stres Kerja
Pekerjaan bertujuan memenuhi kebutuhan ekonomi kita dan menunjukan posisi kita dalam masyarakat. Kerja tidak selamanya membuat kita puas, bahkan sebagian besar pekerjaanlah yang membuat kita stress. Pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan akan meracuni gairah hidup yang akan menimbulkan berbagai kekacauan dikehidupan kita. Kurangnya penghargaan, tempat kerja yang penuh gossip, lingkungan fisik yang tidak sehat, pekerjaan tanpa masa depan, dan atasan kurang menghargai, semua memberikan sumbangan bagi kekacauan dan stress di tempat kerja (Gibson, 2004:107)
Menurut Dwiyanti dalam Rivai & Mulyadi (2011:310) Terdapat dua factor penyebab atau sumber munculnya stress kerja, yaitu factor lingkungan kerja dan factor personal. Factor lingkungan kerja dapat berupa kondisi fisik, manajemen kantor maupun hubungan social di lingkungan pekerjaan. Sedangkan factor personal bisa berupa tipe kepribadian, peristiwa atau pengalaman pribadi maupun kondisi social-ekonomi keluarga di mana pribadi berada dan mengembangkan diri. Betapa pun factor kedua tidak secara langsung berhubungan dengan kondisi pekerjaan, namun karena dampak yang ditimbulkan pekerjaan cukup besar, maka factor pribadi ditempatkan sebagai sumber atau penyebab munculnya stress. Secara umum penyebab stress dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Penyebab Stres dari Aspek Perilaku yaitu:
a.       Tidak adanya dukungan sosial. Artinya, stres akan cenderung muncul pada para karyawan yang tidak mendapat dukungan dari lingkungan sosial mereka. Dukungan sosial di sini bisa berupa dukungan dari lingkungan pekerjaan maupun lingkungan keluarga. Banyak kasus menunjukkan bahwa, para karyawan yang mengalami stres kerja adalah mereka yang tidak mendapat dukungan (khususnya moril) dari keluarga, seperti orang tua, mertua, anak, teman dan semacamnya. Begitu juga ketika seseorang tidak memperoleh dukungan dari rekan sekerjanya (baik pimpinan maupun bawahan) akan cenderung lebih mudah terkena sires. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya dukungan social yang menyebabkan ketidaknyamanan menjalankan pekerjaan dan tugasnya.
b.      Tidak adanya kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di kantor. Hal ini berkaitan dengan hak dan kewenangan seseorang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. Banyak orang mengalami stres kerja ketika mereka tidak dapat memutuskan persoalan yang menjadi tanggung jawab dan kewcnangannya. Stres kerja juga bisa terjadi ketika seorang karyawan tidak dilibatkan dalam pembuatan keputusan yang menyangkut dirinya.
c.       Pelecehan seksual. Yakni, kontak atau komunikasi yang berhubungan atau dikonotasikan berkaitan dengan seks yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual ini bisa dimulai dari yang paling kasar seperti memegang bagian badan yang sensitif, mengajak kencan dan semacamnya sampai yang paling halus berupa rayuan, pujian bahkan senyuman yang tidak pada konteksnya. Dari banyak kasus pelecehan seksual yang sering menyebabkan stres kerja adalah perlakuan kasar atau pengamayaan fisik dari lawan jenis dan janji promosi jabatan namun tak kunjung terwujud hanya karena wanita. Stres akibat pelecehan seksual banyak terjadi pada negara yang tingkat kesadaran warga (khususnya wanita) terhadap persamaan jenis kelamin cukup tinggi, namun tidak ada undang-undang yang melindunginya.
2.      Penyebab Stres dari Aspek Psikis
a.       Kondisi lingkungan kerja. Kondisi lingkungan kerja fisik ini bisa berupa suhu yang terlalu panas, terlalu dingin, tcrlalu sesak, kurang cahaya, dan semacamnya. Ruangan yang terlalu panas menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya, begitu juga ruangan yang terlalu dingin. Panas tidak hanya dalam pengertian temperatur udara tetapi juga sirkulasi atau arus udara. Di samping itu, kebisingan juga memberi andil tidak kecil munculnya stres kerja, sebab beberapa orang sangat sensitif pada kebisingan dibanding yang lain.
b.      Manajemen yang tidak sehat. Banyak orang yang stres dalam pekerjaanketika gaya kepemimpinan para manajernya cenderung neurotis, yakni seorang pemimpin yang sangat sensitif, tidak percaya orang lain (khususnya bawahan), perfeksionis, terlalu mendramatisir suasana hati atau peristiwa. sehingga mempengaruhi pembuatan keputusan di tempat kerja. Situasi kerja atasan selalu mencurigai bawahan, membesarkan peristiwa/kejadian yang semestinya sepele dan semacamnya, seseorang akan tidak leluasa menjalankan pekerjaannya, yang pada akhirnya akan menimbulkan stress.
c.       Tipe kepribadian. Seseorang dengan kcpribadian tipe A cenderung mengalami stres dibanding kepribadian tipe B. Bcbcrapa ciri kepribadian tipe A ini adalah sering merasa diburu-buru dalam menjalankan pekerjaannya, tidak sabaran, konsentrasi pada lebih dan satu pekerjaan pada waktu yang sama, cenderung tidak puas terhadap hidup (apa yang diraihnya), cenderung berkompetisi dengan orang lain meskipun dalam situasi atau peristiwa yang non kompetitif. Dengan begitu, bagi pihak perusahaan akan selalu mengalami dilema kctika mengambil pegawai dengan kepribadian tipe A. Sebab, di satu sisi akan memperoleh hasil yang bagus dan pekerjaan mereka, namun di sisi lain perusahaan akan mendapatkan pegawai yang mendapat resiko serangan atau sakit jantung.
3.     Penyebab Stres dari Aspek Kecemasan yaitu:
a.       Peristiwa atau pengalaman pribadi. Stres kerja sering disebabkan pengalaman pribadi yang menyakitkan, kematian pasangan, perceraian, sekolah, anak sakit atau gagal sekolah, kehamilan tidak diinginkan, peristiwa traumatis atau menghadapi masalah (pelanggaran) hukum. Banyak kasus menunjukkan bahwa tingkat stress paling tinggi terjadi pada seseorang yang ditinggal mati pasangannya, sementara yang paling rendah disebabkan oleh perpindahan tempat tinggal.
b.      Disamping itu, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kesepian, perasaan tidak aman, juga termasuk kategori ini.
4.     Penyebab Stres dari Aspek Ketegangan yaitu:
a.       Adanya tugas yang terlalu banyak. Banyaknya tugas tidak selalu menjadi penyebab stres, akan menjadi sumber stres bila banyaknya tugas tidak. Sebanding dengan kemampuan baik fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia bagi karyawan.
b.      Supervisor yang kurang pandai. Scorang karyawan dalam menjalankan tugas sehari-harinya biasanya di hawah bimbingan sekaligus mempertanggung jawabkan kepada supervisor. Jika seorang supervisor pandai dan menguasai tugas bawahan, ia akan membimbing dan memberi pengarahan atau instruksi secara baik dan benar.
c.       Terbatasnya waktu dalam mengerjakan pekerjaan. Karyawan  biasanya mempunyai kemampuan normal menyelesaikan tugas kantor atau perusahaan yang dibebankan kepadanya. Kemampuan bcrkaitan dengan keahlian, pcngalaman, dan waktu yang dimiliki. Dalam kondisi tertentu, pihak atasan seringkali memberikan tugas dengan waktu yang lerbatas. Akibatnya, karyawan dikejar waktu untuk menyelesaikan tugas sesuai tepat waktu yang ditetapkan atasan.
d.      Kurang mendapat tanggungjawab yang memadai. Faktor ini berkaitan dengan hak dan kewajiban karyawan. Atasan sering memberikan tugas kepada bawahannya tanpa diikuti kewenangan (hak) yang memadai. Sehingga, jika harus mengambil keputusan harus berkonsultasi, kadang menyerahkan sepenuhnya pada atasan.
e.       Ambiguitas peran. Agar menghasilkan performan yang baik, karyawan perlu mengetahui tujuan dari pekerjaan, apa yang diharapkan untuk dikerjakan serta scope dan tanggungjawab dari pekerjaan mereka. Saat tidak ada kepastian tentang definisi kerja dan apa yang diharapkan dari pekerjaannya akan timbul ambiguitas peran.
f.       Perbedaan nilai dengan perusahaan. Situasi ini biasanya terjadi pada para karyawan atau manajer yang mempunyai prinsip yang berkaitan dengan profesi yang digeluti maupun prinsip kemanusiaan yang dijunjung tinggi (altruisme).
g.      Frustrasi. Dalam lingkungan kerja, perasaan frustrasi memang bisa disebabkan banyak faktor. Faktor yang diduga berkaitan dengan frustrasi kerja adalah terhambatnya promosi, ketidakjelasan tugas dan wewenang serta penilaian/evaluasi staf, ketidakpuasan gaji yang diterima.
h.      Perubahan tipe pekerjaan, khususnya jika hal tersebut tidak umum. Situasi ini bisa timbul akibat mutasi yang tidak sesuai dengan keahlian dan jenjang karir yang di lalui atau mutasi pada perusahaan lain, meskipun dalam satu grup namun lokasinya dan status jabatan serta status perusahaannya berada di bawah perusahaan pertama.
i.        Konflik peran. Terdapat dua tipe umum konflik peran yaitu (a) konflik peran intersender, dimana pegawai berhadapan dengan harapan organisasi terhadapnya yang tidak konsisten dan tidak sesuai; (b) konflik peran intrasender, konflik peran ini kebanyakan terjadi pada karyawan atau manajer yang menduduki jabatan di dua struktur. Akibatnya, jika masing-masing struktur memprioritaskan pekerjaan yang tidak sama, akan berdampak pada karyawan atau manajer yang berada pada posisi dibawahnya, terutama jika mereka harus memilih salah satu alternative.
Luthans dikutip oleh Rivai dan Mulyadi (2011:313) menyebutkan bahwa penyebab stres (stresor) terdiri atas empat hal utama, yakni:
1.      Extra organizational stresors, yakni terdiri dari perubahan social teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal.
2.      Organizational stresors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi.
3.      Group stresors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan social, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergroup.
4.      Individual stresors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis.
Mulyasa (2011:275) juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa kondisi kerja yang sering menimbulkan stress, sebagai berikut:
1)      Beban kerja yang terlalu berat,
2)      Tekanan atau desakan waktu,
3)      Perbedaan nilai atau persepsi anggota dan organisasi,
4)      Pemeriksaan atau supervise yang berlebihan,
5)      Umpan balik yang tidak memadai,
6)      Konflik antar pribadi anggota dan kelompok,
7)      Perubahan yang sulit dipahami,
8)      Wewenang tidak sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan,
9)      Peranan yang bertentangan (antagonis), atau mendua (ambiguity),
10)  Frustasi atau kecewa berat,
11)  Hukuman (punisment) dan penghargaan (reward) yang tidak memadai.
Copper dan Davidson juga berpendapat yang dikutip oleh Rivai dan Mulyadi (2011:313) membagi penyebab stres dalam pekerjaan menjadi dua, yakni:
1.      Group stresors, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan social dari sesame karyawan di dalam perusahaan.
2.      Individual stresor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, control personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran.
Sedangkan menurut Pahmi (2013:257) stress yang dialami oleh seseorang biasanya dibagi pada 2 (dua) factor yang menjadi penyebabnya, yaitu:
a.       Stress karena tekanan dari dalam (internal factor) dan,
b.      Stress karena tekanan dari luar (external factor)
Namun sering juga stress tersebut dialami oleh kedua factor tersebut, yaitu disebabkan oleh factor internal dan factor eksternal. Kondisi seperti ini biasanya membuat seseorang betul-betul berada dalam keadaan yang sangat tidak nyaman. Contohnya ketika didalam keluarga ia merasa sangat tertekan karena berbagai masalah yang sedang ia hadapi d keluarga, sedangkan di tempat ia kerja, ia juga mendapatkan tekanan, seperti beban kerja, konflik dengan rekan kerja bahkan konflik dengan pimpinan. Kasus seperti inilah disebut stress yang dating dari internal factor dan external factor.
Untuk lebih jelasnya, dari penjelasan tentang penyebab stress di atas  dan sesuai dengan kutipan dalam buku Badeni (2013:65) bahwa dapat dilukiskan seperti gambar dibawah ini:
STRESSOR
1.      Pekerjaan dan lingkungan kerja
a.       Beban kerja
b.      Konflik peran
c.       Wewenang yang tidak seimbang
d.      Ketidak jelasan tugas
e.       Lingkungan kerja yang buruk
f.       Atasan yang tidak menyenangkan
g.      Rekan kerja yang tidak menyenangkan

2.      Lingkungan
a.       Kematian anggota keluarga
b.      Perceraian broken home
c.       Kenakalan anak-anak
S
T
R
E
S
 











Gamabar 2.2. Sumber Stres
Sumber : Marihot Tua Efendi Harianja (2006) : Prilaku Organisasi

Factor lingkungan

·         Ketidak pastian ekonomi
·         Ketidakpastian politik
·         Ketidak pastian teknologi
Sumber Potensial                                                                              Konsekuensi
Faktor Organisasi

·         Factor tugas
·         Factor sarana
·         Tuntutan antar personal
·         Struktur organisasi
·         Kepemimpinan organisasi
·         Tahap perkembangan organisasi
Factor individu

·         Masalah keluarga
·         Masalah ekonomi
·         kepribadian
Perbedaan individu

·         Persepsi
·         Pengalaman kerja
·         Dukungan social
·         Percaya terhadap letak pengawasan
·         permusuhan
Gejala Fisiologis

·         Sakit kepala
·         Tekanan darah tinggi
·         Sakit hati
Gejala Psikhologis

·         Gelisah
·         Depresi
·         Penurunan Kepuasan Kerja
Gejala Perilaku

·         Produktivitas
·         Tidak hadir
·         perpindahan
Pengalaman Stres
 













Gambar 2.3. Sumber Stres
Sumber: Stephen P. Robbins(1996): Organization Behavior
Menurut Rahayu dalam (www.academia.edu) Studi tentang Penyebab stress pada guru telah dilakukan (Louden 1987, Dinham 1993, Punch and Tuetteman 1996, Pithers and Soden 1999, Kyriacou 2001,Sinclair and Ryan 1987, Dinham 1992). Pada studi mereka ini disimpulkan bahwa stress muncul jika:
a.       Hubungan buruk siswa dan guru
1.      Motivasi siswa dan rasa hormat pada guru rendah
2.      Ada perilaku buruk siswa yang sulit diatasi dan selalu terjadi berulang-ulang di kelas
3.      Ada kesalah pahaman atau kurang pengertian antara guru dan murid yang berbeda kemampuan, kelas, etnik, dan latar belakang budaya
b.      Waktu
1.      waktu yang kurang untuk persiapan mengajar
2.      tuntutan yang tidak realistis dari administrasi/atasan
3.      keputusan batas waktu (dealine) yang tidak realistis
4.      harus mengerjakan beban kerja yang berlebihan dalam waktu yang pendek
c.       Konflik
1.      Ada konflik antara perubahan filosofi pendidikan dengan pandangan guru yang selama ini telah diyakininya bertahun-tahun
2.      Kebijakan Diknas yang menuntut inovasi dan perubahan
3.      Aturan baru yang harus diterapkan dan dilaksanakan tanpa adanya pelatihan
4.      Tuntutan kelengkapan administrasi kelas yang harus dikerjakan
d.      Kondisi pekerjaan yang memprihatinkan seperti:
1.      Fasilitas dan sarana dan sumber belajar yang kurang
2.      Jumlah siswa yang terlalu besar dalam kelas
3.      Lingkungan sekolah yang mengganggu
4.      Letak sekolah yang terisolasi.
e.       Kepemimpinan sekolah
1.      Birokrasi sekolah yang sangat hierarchical dan ketidak adilan dalammengambil keputusan
2.      Kepemimpinan yang otoriter
f.       Buruknya hubungan teman sejawat seperti
1.      Kurang adanya kepercayaan, kerjasama diantara teman sejawat.
2.      Adanya persaingan yang tidak sehat
g.      Perasaan ketidak mampuan
1.      Guru merasa tidak mampu atau kurang terampil
2.      Guru harus mengajar diluar bidangnya
3.      Tidak adanya reward dari pimpinan akan keberhasilan yang telahdicapai guru
h.      Tekanan ekstra lainnya
1.      Sikap masyarakat yang negative terhadap guru dan sekolah
2.      Kehidupan guru yang tidak stabil dan tidak berkecukupan
e.       Dampak stress
Menurut Rivai dan Mulyadi (2011:316), Dampak stres kerja ada yang menguntungkan maupun merugikan bagi perusahaan. Namun, pada taraf tertentu pengaruh yang menguntungkan perusahaan diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan, konsekuensi tersebut dapat berupa turunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustasi dan sebagainya. Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja saja, tetapi dapat meluas ke aktivitas lain diluar pekerjaan, seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi, dan sebagainya.
Stress dapat berdampak positif atau membantu (fungsional), dapat pula berdampak salah (disfungsional) atau merusak prestasi kerja secara sederhana. Hal tersebut berarti bahwa stress memiliki potensi untuk mendorong atau mengganggu pelaksanaan kerja, bergantung seberapa besar tingkat stress tersebut. Jika tidak ada stress tantanan kerja juga kurang, maka prestasi kerja cendrung biasa-biasa saja, meskipun tidak dapat dikatakan rendah. Dengan adanya stress prestasi kerja cendrung naik, sampai tingkat tertentu membantu seseorang untuk mengerahkan segala sumber daya dalam memenuhi kebutuhan pekerjaan. Mulyasa (2011:277)
Stress yang tidak teratasi menimbulkan gejala badaniah, jiwa dan gejala social. Dapat ringan, sedang dan berat. Suatu stress tidak langsung memberi akibat saat itu juga, walaupun banyak di antaranya yang segera meperlihatkan manifestasinya. Dapat juga bermanifestasi beberapa hari, minggu, bulan, atau setahun kemudian. Anoraga (2009:109)
Beerhr dan Newman dalam Rivai dan Mulyadi (2011:317) mengkaji ulang beberapa kasus stress pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stress pada individu, yaitu:
1.      Gejala psikologis, meliputi:
Kecemasan, ketegangan, bingung, marah, sensitif, memendam perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan mengasingkan diri, kebosanan, ketidakpuasaan kerja, lelah mental, menurunnya fungsi intelektual, kehilangan daya konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas, kehilangan semangat hidup dan menurunnya harga diri dan rasa percaya diri.
2.      Gejala fisik, meliputi:
Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin, gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung), mudah terluka, mudah lelah secara fisik, kematian, gangguan kardiovaskuler, gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat, gangguan pada kulit, kepala pusing, migrain, kanker, ketegangan otot, problem tidur (sulit tidur, bahkan terlalu banyak tidur).
3.      Gejala perilaku, meliputi:
Menunda atau menghindari pekerjaan atau tugas, penurunan prestasi dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk, perilaku sabotase, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan), kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi seperti berjudi, meningkatnya agresifitas dan kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman serta kecenderungan bunuh diri.
Tidak jauh berbeda dengan akibat stres kerja menurut Robbins (2003:800) bahwa dampak stress kerja dikelompokkan dalam tiga kategori umum, yaitu:
a.        Gejala Fisiologis
Pengaruh awal stres biasanya berupa gejala-gejala fisiologis. Ini terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa topic stres pertama kali diteliti oleh ahli ilmu kesehatan dan medis.
b.      Gejala Psikologis
Stres dapat menyebabkan ketidakpuasan. Stres yang berkaitan dengan pekerjaan yang menyebabkan ketidakpuasan terkait dengan pekerjaan. Ketidakpuasan kerja, kenyataannya, adalah “efek psikologis paling sederhana dan paling nyata” dari stres.

c.       Gejala Perilaku
Gejala-gejala stres yang berkaitan dengan perilaku meliputi perubahan dalam tingkat produktivitas, kemangkiran, dan perputaran karyawan, selain juga perubahan dalam kebiasaan makan, pola merokok, konsumsi alkohol, bicara yang gagap, serta kegelisahan dan ketidakteraturan waktu tidur.

3.      Kerja Guru
Guru adalah seseorang yang pekerjaannya mengajar. Maka, dalam hal ini guru yang dimaksudkan adalah guru yang memberi pelajaran atau memberi materi pelajaran pada sekolah-sekolah formal dan memberikan pelajaran atau mengajar materi pelajaran yang diwajibkan kepada semua siswanya berdasarkan kurikulum uang ditetapkan. Guru adalah seorang figur yang mulia dan dimuliakan banyak orang. Kehadiran guru di tengah-tengah kehidupan manusia sangat penting, tanpa ada guru atau seseorang yang dapat ditiru dan diteladani oleh manusia untuk belajar dan berkembang, manusia tidak akan memiliki budaya, norma, dan agama.
Berdasarkan Undang-Undang Guru (pasal 1 ayat 1) dalam buku Supardi (2013:8) dinyatakan bahwa: Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dulu, guru berperan sebagai penyampai materi ajar, pengalihan pengetahuan, pengalih keterampilan, serta merupakan satu-satunya sumber belajar. Namun kini guru sudah berubah peran menjadi pembimbing, pembina, pengajar, dan pelatih.
Beratnya tanggung jawab bagi guru menyebabkan pekerjaan guru harus memerlukan keahlian khusus. Untuk itu pekerjaan guru tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Sekali guru berbuat salah, maka akan berdampak terhadap tercorengnya dunia pendidikan secara global. Meskipun guru sebagai pelaksana tugas otonom, guru juga diberikan keleluasaan untuk mengelola pembelajaran, apa yang harus dikerjakan oleh guru, dan guru harus dapat menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan semua aspek yang relevan atau menunjang tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengambil keputusan. (Faidah.blogspot.com, 2012).
Depdiknas (2005) Dalam  proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merukan salah satu dari kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa. Tugas guru perpusat pada:
1.      Mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun panjang.
2.      Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalaui pengalaman belajar yang memadai.
3.      Membantu perkembangan aspek- aspek pribadi, seperti sikap, nalai- nilai, dan penyesuaian diri.
Sedangkan  menurut Himalaya dalam hafizhimala.blogspot.com (2012)  menjelaskan bahwa tugas guru itu meliputi:
1.      Tugas pengajaran atau guru sebagai pengajar
Sepanjang sejarah keguruan, tugas guru yang sudah tradisional adalah mengajar. Karenanya sering orang salah menduka, bahwa tugas guru hanyalah semata-mata mengajar. Sebagai pengajar, guru bertugas membina perkembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Guru mengetahui bahwa pada akhir setiap satuan pelajaran kadang-kadang hanya terjadi perubahan dan perkembangan pengetahuan saja. Mungkin pula guru telah bersenang hati bila telah terjadi perubahan dan perkembangan dibidang pengetahuan dan keterampialan, karena dapat diharapkannya efek tidak langsung melalui proses transfer, bagi perkembangan dibidang sikap dan minat murid.
2.      Tugas bimbingan atau guru sebagai pembimbing dan pemberi bimbingan
Guru sebagai pembimbing dan pemberi bimbingan adalah dua macam peranan yang mengandung banyak perbedaan dan persamaannya. Keduanya sering dilakukan oleh guru yang ingin mendidik dan yang ingin bersikap mengasihi dan mencintai murid.


3.      Tugas administrasi
Guru bertugas pula sebagai tenaga administrasi, bukan berarti sebagai pegawai kantor, melainkan sebagai pengelola kelas atau pengelola (manager) interaksi belajar mengajar. Terdapat dua Aspek dari masalah pengelolaan yang perlu mendapat perhatian yaitu:
a.       Membantu perkembangan murid sebagai individu dan kelompok
b.      Memelihara kondisi kerja dan kondisi belajar yang sebaik-baiknya didalam maupun di luar kelas.
Guru akan menunaikan tugasnya dengan baik atau dapat bertindak sebagai tenaga pengajar yang efektif, jika padanya terdapat berbagai kompetensi keguruan, dan melaksanakan fungsinya sebagai guru. Pada dasarnya guru harus memiliki tiga kompetensi yaitu:
1.       Kompetensi kepribadian
Setiap guru memiliki kepribadiannya sendiri-sendiri yang unik. Tidak ada guru yang sama, walaupun mereka sama-sama memiliki pribadi keguruan. Jadi pribadi keguruanpun unik pula, dan perlu diperkembangkan secara terus menerus agar guru itu terampil dalam:
a.       Mengenal dan mengakui harkat dan potensi dari setiap individu atau murid yang diajarkannya.
b.      Membina suatu suasana social yang meliputi interaksi belajar mengajar sehingga amat bersifat menunjang secara moral atau batiniah terhadap murid bagi terciptanya kesepahaman dan kesamaan arah dalam fikiran serta perbuatan murid dan guru
c.       Membina suatu perasaan saling menghormati, saling bertanggung jawab dan saling mempercayai antara murid dan guru.
2.       Kompetensi  penguasaan atas bahan pengajaran
Penguasaan yang meliputi bahan bidang studi sesuai dengan kurikulum dan bahan pendalaman aplikasi bidang studi. Kesemuanya itu amat perlu dibina karena selalu dibutuhkannya dalam:
a.       menguraikan ilmu pengetahuan atau kecakapan dan apa-apa yang harus diajarkannya kedalam bentuk komponen – komponen dan informasi-informasi yang sebenarnya dalam bidang ilmu atau kecakapan yang bersangkutan
b.      Menyusun komponen atau informasi itu sedemikian rupa baiknya sehingga akan memudahkan murid untuk mempelajari pelajaran yang diterimanya.
3.       kompetensi dalam cara-cara mengajar
Kompetensi dalam cara-cara mengajar atau keterampilan mengajar sesuatu bahan pengajaran sangat diperlukan guru khususnya keterampilan dalam:
a.       Merencanakan atau menyusun setiap program suatu pelajaran, demikian pula merencanakan dan menyusun keseluruhan kegiatan untuk satu kesatuan waktu (catur wulan/semester atau tahun ajaran).
b.      Mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan (alat Bantu atau alat peraga) bagi murid dalam proses belajar yang diperlukan.
c.       Mempergunakan dan mengembangkan semua metode-metode pengajaran sehingga terjadilah kombinasi –kombinasi dan variasinya yang efektif.
Ketiga aspek kompetensi tersebut diatas harus berkembang secara selaras dan tumbuh terbina dalam kepribadian guru. Dengan demikian itu dapat diharapkan dari padanya untuk mengerahkan segala kemampuan dan keterampilan dalam mengajar secara professional dan efektif.

B.     Hasil Penelitian Yang Relevan
Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berhubungan dengan stress kerja guru antara lain sebagai berikut:
1.      Rahmat Kurnia (2011), meneliti tentang hubungan antara stress kerja dan motivasi berprestasi dengan kinerja guru SMA Negeri di Kabupaten Bengkulu Selatan, dalam penelitiannya terdapat hasil yang pertama, bahwa terdapat hubungan yang cukup signifikan antara stress kerja dengan kinerja guru SMA Negeri Bengkulu Selatan, kedua terdapat hubungan yang sangat signifikan antara motivasi berprestasi dengan kinerja guru SMA Negeri di Bengkulu Selatan, dan yang ketiga, secara bersama-sama tidak terdapat hubungan antara motivasi berprestasi sangat signifikan dengan kinerja guru, dan tidak terdapat hubungan antara stress kerja dengan motivasi berprestasi
2.      Akif Khilmiyah (2012) meneliti tentang stres kerja guru perempuan di kecamatan kasihan bantul Yogyakarta. Hasil dari penelitiannya Pertama, perempuan menjadi guru karena; aktualisasi diri, bersosialisasi, pendapatan dan kebahagiaan. Kedua, bentuk-bentuk stres; fisik dan psikis. Ketiga, peyebab stres; (1). Tugas rumah dan kantor bersamaan, (2). disiplin ketat, (3). tuntutan karir, (4). menjemput anak, (5). punya bayi, (6). atasan otoriter, (7). suasana kantor tidak nyaman, (8). kenaikan pangkat atau jabatan. Keempat, Faktor ketidakadilan gender; (1). beban ganda, (2). direndahkan (3). anggapan guru perempuan irasional, (4). kekerasan psikis atau kekerasan verbal (5). peminggiran atau pemiskinan. Kelima, Solusi; (1). saling menghormati (2). sabar, terbuka, bertanggung jawab, saling pe- duli, atau menghindar dari kedekatan dengan yang berwatak keras dan menya- kitkan. (3). sakit ringan tetap kerja dan curhat pada teman dekat, tetapi sakit berat minta ijin (5). membuat skala prioritas pekerjaan.
3.      Syamsul Rizal (2013) meneliti tentang Stres Kerja dan Kinerja Guru di SMA Negeri I Lamno. Penelitian ini menemukan bahwa stres kerja yang didasarkan pada gejala fisiologis, gejala psikologis dan gejala perilaku berpengaruh negatif terhadap kinerja guru pada SMA Negeri 1 Lamno. Semakin tinggi intensitas stres kerja seseorang guru yang terlihat dari gejala fisiologis, psikologis dan gejala perilaku, semakin rendah kinerja guru tersebut.
4.      Da’ud Nur Solichin (2013) meneliti tentang pengaruh stres kerja dan kompensasi terhadap kepuasan kerja guru di sekolah mutiara hati bandung. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa stres kerja dan kompensasi pada sekolah Mutiara Hati Bandung secara umum telah berjalan dengan baik. Stres kerja dan kompensasi memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja baik secara simultan maupun parsial. Kontribusi kedua variabel bebas tersebut dalam menjelaskan kepuasan kerja guru mencapai 52,8% yang berarti masuk kategori cukup kuat dan 47,2% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Sedangkan secara parsial variabel stres kerja sebesar 12,8% dan sisanya kompensasi sebesar 40,02% berpengaruh terhadap kepuasan kerja Guru.

C.     Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian merupakan kerangka acuan bertindak untuk menjawab permasalahan penelitian. Paradigma penelitian ini juga berfungsi sebagai acuan filosofis yang mengarahkan penelitian untuk menyelesaikan penelitian secara operasional.
Untuk lebih jelas paradigma penelitian ini dapat di gambarkan melalui gambaran pola manajemen stress kerja guru sebagai berikut:

Manajemen Stres
Stres kerja guru
Faktor penyebab stress kerja guru
Upaya Kepala sekolah dalam Manajemen Stres Kerja Guru
Hasil dari Manajemen Stres Kerja Guru
 











Gambar 2.4. Paradigma Penelitian

Sesuai dengan paradigma penelitian di atas tentang manajemen stress hal yang pertama dilakukan peneliti yaitu mencari tahu faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu, setelah itu peneliti melihat bagaimana upaya kepala sekolah dalam mengatasi stress kerja guru yaitu melihat bagaimana perencanaannya, dan bagaimana pelaksanaannya, dan yang terakhir melihat hasil dari upaya kepala sekolah dalam mengatasi stress kerja guru  di SMP N 4 Kota Bengkulu, yaitu bagaimana evaluasi yang dilakukan kepala sekolah setelah melaksanakan manajemen stress kerja guru.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Sugiono (2013:09) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrument kunci. Penelitian deskriptif merupakan penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga penelitian ini berkehendak mengadakan akomolasi data dasar belaka.
Menurut Arikunto (2010:234) penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Moleong (2007:06) juga berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan, secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Pengertian tersebut memberikan gambaran tentang adanya kekhasan penelitian kulitatif. Dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki, penelitian kualitatif memiliki keunikan sendiri.
Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kulitatif dengan desain studi kasus. penelitian studi kasus merupakan penelitian mengenai sebuah unit terpisah yang tunggal seperti sebuah kelompok. Penelitian studi kasus mencoba menggambarkan subjek penelitian penelitian didalam keseluruhan tingkah laku, yakni tingkah laku itu sendiri beserta hal-hal yang melingkunginya, hubungan antara tingkah laku dengan riwayat timbulnya tingkah laku (Arikunto, 2010:238).
Dalam studi kasus peneliti mencoba untuk mencermati individu atau sebuah unit secara mendalam. Peneliti mencoba menemukan semua variabel penting yang melatarbelakangi timbulnya serta perkembangan variabel tersebut. Tekanan dari penelitiannya adalah. (1) mengapa individu tersebut bereaksi demkian. (2) apa wujud tindakan itu, dan (3) bagaimana ia bertindak bereaksi terhadap lingkungannya. Jadi penelitian studi kasus ini bertujuan untuk meneliti suatu kasus yang terjadi pada tempat dan wamtu tertentu dengan mencari materi kontekstual tentang seting kasus tersebut serta mengumpulkan material yang banyak dari sumber-sumber informasi yang banyak untuk mendapatkan gambaran kasus yang detail (Satori, 2013:36).
Metode ini digunakan peneliti yaitu metode deskriptif kualitatif karena berdasarkan judul tesis peneliti yaitu Manajemen Stres Kerja Guru Di SMP Negeri 4 Bengkulu, peneliti tertarik untuk memecahkan kasus atau permasalahan yang terdapat di sekolah tersebut yaitu dengan melihat bagaimana manajemen stress kerja guru, Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya stress kerja guru, seperti apa perencanaan kepala sekolah untuk memperkecil tingkat stress kerja guru, langkah-langkah pelaksanaan manajemen stres dalam mengatasi stress kerja guru serta bagaimana hasil yang Nampak dari upaya manaajemen stress kerja guru yang di lakukan oleh kepala sekolah SMP N 4 Bengkulu.
B.     Subjek Penelitian
Menurut Arikunto (2010:89) subjek penelitian adalah benda, hal atau orang, tempat data untuk variabel melekat, dan yang dipermasalahkan. Subjek penelitian tidak selalu berupa orang     melainkan dapat berupa benda, berupa kegiatan serta dapat berupa tempat. Jadi yang menjadi subjek penelitian ini adalah kepala sekolah beserta wakil sebagai mananer di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu, dan seluruh guru yang ada di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu.

C.    Teknik Pengumpulan Data dan Pengembangan Instrumen Penelitian
1.      Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, barbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting). Bila dilihat dari sumbernya, maka pengupulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber skunder. Sumber primer adalah suber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), kuesioner (angket), dan dokumentasi.
TEKNIK PENGUMPULAN
 DATA
WAWANCARA
DOKUMENTASI
OBSERVASI
 






Gambar 3.1. Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan apa yang akan peneliti teliti yaitu berkaitan dengan Manajemen Stres Kerja Guru, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai prosedur pengumpulan data. Dalam pengamatan ini peneliti menggunakan bentuk observasi non partisipatif dimana peneliti datang di tempat kegiatan orang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya wawancara yang digunakan yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, sehingga dimana pihak yang diajak wawancara juga dapat diminta pendapat dan ide-idenya. Kemudian peneliti juga melakukan dokumentasi untuk melengkapi data yang bersumber bukan dari orang.
Berikut ini adalah uraian prosedur pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a.      Observasi
Observasi dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti pengamatan atau peninjauan secara cermat. Dalam buku Satori (2013:104) ada beberapa para ahli memberikan pemahaman observasi sebagai berikut:
Alwasilah C (2003) menyatakan bahwa, observasi adalah penelitian atau pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan leliabilitasnya.  Nasution (2003) observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Syaodih N (2006) mengatakan bahwa observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Margono (2005) berpendapat bahwa observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Hadi S (Sugiono:2005) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Bungin (2007) observasi adalah metode pengumoulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindaran.
Dari semua pendapat tersebut terdapat satu kesamaan pemahaman bahwa observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun secara tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian. Secara langsung adalah terjun kelapangan terlibat seluruh panca indra. Secara tidak langsung adalah pengamatan yang dibantu melalui media visual atau audio visual. Namun yang terakhir ini dalam penelitian kualitatif berfungsi sebagai alat bantu karena sesungguhnya observasi adalah pengamatan langsung pada natural setting bukan setting yang sudah direkayasa. Dengan demikian pengertian observasi penelitian kualitatif adalah pengamatan langsung terhadap objek, situasi, konteks dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian.
Dalam observasi ini peneliti menggunakan bentuk observasi non partisipatif dimana peneliti mengamati perilaku dari jauh tanpa ada interaksi dengan subjek yang sedang diteliti. Observasi non partisipatif sama dengan pengamatan biasa diamana peneliti tidak diperbolehkan terlibat dalam hubungan-hubungan emosi pelaku yang menjadi sasaran penelitian. Sehingga peneliti hanya mengamati bagaimana manajemen stress kerja guru di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu.
b.      Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Melaksanakan teknik wawancara berarti melakukan interaksi komunikasi atau percakapan antara pewawancara dan terwawancara dengan maksud menghimpun informasi dari wawancara. Wawancara dapat digunakan sebaga teknik pengumpulan data apabila peneliti menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan peneliti berkeinginan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan informan lebih mendalam. Sebagai pegangan peneliti dalam penggunaan metode interview adalah bahwa subjek adalah informan yang tahu tentang dirinya sendiri, tentang tindakannya secara ideal yang akan diinformasikan secara benar dan dapat dipercaya. Dengan demikian mengadakan wawancara atau interview pada prinsipnya merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih dalam dari sebuah kajian dari sumber yang relevan berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainya.
Beberapa definisi wawancara dikemukakan beberapa ahli dalam buku Satori (2013:129) sebagai berikut:
Berg (2007), membatasi wawancara sebagai suatu percakapan dengan suatu tujuan, khususnya tujuan untuk mengumpulkan informasi. Sudjana (2000) wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak pennya dengan pihak yang ditanya atau penjawab. Esterberg (2002) wawancara merupakan suatu pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu.
Dari beberapa pengertian dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau Tanya jawab. Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam karena ingin mengekplorasi informasi secara holistic dan jenis informan.
Estenberg dalam Sugiyono (2013:233) mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semistrutur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah jenis wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur, dimana dalam wawancara terstruktur peneliti telah menyiapkan instrument penelitian sebagai pedoman yang berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya pun sudah disiapkan. Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersususun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
c.      Dokumentasi
Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Hasil observasi dan wawancara akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oleh dokumen yang terkait dengan focus penelitian Satori (2013:149).
Sugiono (2013:240) berpendapat bahwa dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Sedangkan menurut Satori (2013:148) dengan teknik dokumentasi ini, peneliti dapat memperoleh informasi bukan dari orang sebagai narasumber, tetapi mereka memperoleh informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari dokumen yang ada pada informan dalam bentuk peninggalan budaya, karya seni dan karya piker. Studi dokumen dalam penelitian kulitatif merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.
2.      Pengembangan Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan dapat digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatantersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen merupakan alat bantu bagi penelit didalam menggunakan metode pengumpulan data. Dengan demikian terdapat kaitan antara metode pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya satu jenis instrument dapat digunakan untuk berbagai macam metode (Arikunto, 2010:101).
Menurut Kartowagiran dalam (staff.uny.ac.id) ada lima langkah untuk mengembangkan instrumen sebagai alat ukur, yaitu: 1) Menyusun spesifikasi alat ukur termasuk kisi-kisi dan indicator, 2) Menulis pertanyaan, 3) Menelaah pertanyaan, 4) Menganalisis butir instrument, dan 5) Merakit instrument.
Berdasarkan langkah-langkah pengembangan instrument di atas peneliti telah menyiapkan kisi-kisi instrument berdasarkan jenis teknik pengumpulan data, sebagai berikut: 1) instrument observasi, peneliti melakukan observasi langsung ke lokasi tentang hal-hal yang perlu diamati berdasarkan kisi-kisi. 2) instrument wawancara, peneliti telah menyiapkan pedoman wawancara dalam bentuk susunan pertanyaan berdasarkan kisi-kisi dan 3) instrument dokumentasi, peneliti telah menyiapkan kamera, laporan-laporan, buku, data-data dan alat dokumentasi pendukung lainnya. Kisi-kisi pengembangan instrumen dapat dilihat pada tabel, sebagai berikut:
Tabel 3.1. Kisi-kisi pengembangan instrumen.
No
Rumusan Masalah
Indikator
Teknik Pengumpulan Data
Sumber Data
OBS
WCR
DOK
1
Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya stress kerja guru?
·         Penyebab fisik
·         konflik
·         Beban kerja
·         Sifat pekerjaan
·         Lingkungan kerja
·         Kebebasan
·         Kesulitan
·         Kepemimpinan
·         Hubungan kerja
·         Tekanan ekstra lainnya
Ka. Sekolah dan
Guru
2
Bagaimana upaya kepala sekolah dalam manajemen stress kerja guru?
·         Pendekatan individu
·         Pendekatan organisasi
·         Mengelola waktu
·         Seleksi dan penempatan
·         Penentuan tujuan
·         Rancangan ulang pekerjaan
·         Keterlibatan guru
·         Komunikasi
·         Program pengembangan

Ka. Sekolah dan Waka. sekolah
3
Bagaimana hasil dari manajemen stress kerja guru?

·         Tindakan apa yang dilakukan atas keberhasilan manajemen stress
·         Tindakan apa yang dilakukan atas kegagalan manajemen stress

Ka. Sekolah dan Waka. sekolah

D.    Teknik Analisis Data    
Teknik analisis data adalah proses pengumpulan data secara sistematis untuk mempermudah peneliti dalam memperoleh kesimpulan. Analisis data menurut Bogdan dalam Sugiyono, (2013: 244) yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematik data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga dapat disimpulkan apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila hipotesis dapat diterima maka berkembang menjadi teori.
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai dilapangan. Menurut Nasution yang dikutip Sugiono (2013:244) menyatakan analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data. Dalam kenyataannya analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data dari pada setelah selesai pengumpulan data.
1.      Analisis sebelum dilapangan
Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan focus penelitian. Namun demikian focus penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.
2.      Analisis data di lapangan
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjudkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu hingga diperoleh data yang dianggap kredibel.
            Menurut Miles dan Huberman (2007:16) analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersama-sama yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Adapun siklus dari keseluruhan proses analisis data oleh Miles dan Huberman digambarkan dalam skema berikut:

Data collection
Data display
Data reduction
Verifiying
SIKLUS PROSES ANALISIS DATA





Gambar3.2. Komponen-Komponen Analisis Data: Model Interaktif (Miles dan    Huberman, 2007)
1.      Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung terus menerus selama penelitian di lapangan. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadi tahapan reduksi selanjutnya membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis memo. Reduksi data atau proses transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun.
2.      Penyajian Data
Langkah selanjutnya sesudah mereduksi data adalah menyajikan data. Teknik penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti table, grafik, dan sejenisnya. Lebih dari itu, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dengan demikian yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian adalah dengan teks naratif.
3.        Menarik Kesimpulan atau Verifikasi
Langkah ketiga yaitu penarikan kesimpulan sebagai dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi merupakan tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan dengan peninjauan kembali sebagai upaya untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Singkatnya, makna-makna yang muncul dari data harus diuji kebenaranya, kekokohannya dan kecocokannya yakni yang merupakan validitasnya.

E.     Pertanggungjawaban Peneliti  
1.      Keabsahan data
Satori (2013:164) mengatakan bahwa penelitian kualitatif dinyatakan absah apabila memiliki:
a.       keterpercayaan (kredibilitas) yaitu ukuran kebenaran data yang dikumpulkan, yang menggambarkan kecocokan konsep peneliti dengan hasil penelitian. Dikarenakan penelitian berangkat dari data, maka kredibilitas data diperiksa melalui kelengkapan data yang diperoleh dari berbagai sumber. Sehingga peneliti akan memberikan data yang akurat dan lengkap sebagai kredibilitas penelitian ini. 
b.      keteralihan (transferabilitas), suatu penelitian yang nilai transferabilitasnya tinggi senantiasa dicari orang lain untuk dirujuk, dicontoh, dipelajari lebih lanjut untuk diterapkan di tempat lain. Sehingga peneliti akan membuat laporan ini yang baik agar terbaca dan memberikan informasi yang lengkap, jelas, sistematis dan dapat dipercaya.
c.       kebergantungan (dependabilitas) dalam penelitian kualitatif digunakan criteria kebergantungan yaitu bahwa suatu penelitian merupakan refresentasi dari rangkaian kegiatan pencarian data yang dapat ditelusuri jejaknya. Jadi dalam penelitian ini peneliti benar-benar terjun kelapangan untuk mencari data.
d.      Kepastian (confirmabilitas) dalam praktiknya konsep konfirmabilitas dilakukan melalui member check, triangulasi, pengamatan ulang atas rekaman, pengecekan kembali, melihat kejadian yang sama di lokasi atau tempat kejadian sebagai konfimasi. Sehingga keberadaan data dapat ditelusuri secara pasti dan penelitian dikatakan objektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang.
2.      Orisinalitas penelitian
Untuk menjaga orisinalitas penelitian ini, peneliti menyatakan bahwa proposal ini sepenuhnya karya sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan peneliti tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, peneliti siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada peneliti apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya peneliti ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya peneliti ini.
3.      Kejujuran, keterpercayaan dan kebenaran proses dan hasil penelitian
Dalam pencarian kebenaran ilmiah peneliti menjunjung sikap ilmiah: 1) kritis, yaitu pencarian kebenaran yang terbuka untuk diuji; 2) logis, yaitu memiliki landasan berpikir yang masuk akal dan betul, dan 3) empiris, yaitu memiliki bukti nyata dan absah. Sehingga tidak ada usaha peneliti untuk memanipulasi data dan peneliti akan menampilkan data yang sebenar-benarnya.
4.      Kaidah karya ilmiah
Kaidah penulisan proposal ini berpedoman pada pedoman penulisan karya ilmiah yang merupakan terbitan dari program pascasarjana administrasi pendidikan universitas Bengkulu tahun 2011. Serta peneliti juga berpedoman dari sumber lain seperti buku Prof. Dr. Arikunto yang berjudul manajemen Penelitian (2010) dan sebagainya. Sehingga penulisan karya ilmiah ini sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah.
5.      Kemandirian peneliti
Penelitian ini bersifat mandiri, Karena seluruh kegiatan penelitian ini murni kegiatan ilmiah dalam rangka penulisan proposal untuk menuju penulisan tesis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Administrasi Pendidikan Universitas Bengkulu. Segala biaya yang ditimbulkan dalam kegiatan penelitian inimerupakan beban tanggunganbagi peneliti sehinggapenelitian iniakan lebih mandiri dan independen.
6.      Inovasi, produk dan sumbangan penelitian
Produk dari hasil penelitian ini merupakan suatu inovasi dalam dunia pendidikan yaitu masalah manajemen stress kerja guru, diharapkan dapat memberikan kegunaan dan sumbangsi bagi setiap sekolah dalam mengatasi permasalahan yang ada dalam organisasi sekolah tersebut terutama dalam mengatasi masalah stress kerja guru.


BAB IV
AGENDA PENELITIAN

Agenda penelitian merupakan rencana kegiatan yang akan dilakukan peneliti untuk menyelesaikan keseluruhan rangkaian penelitian secara sistematis dan terukur. Dalam agenda ini peneliti menuliskan langkah-langkah yang akan dilakukan, menentukan waktu penyelesaian, dan fasilitas pendukung. Agenda mencakup dua rencana, yaitu jadwal penelitian dan dukungan fasilitas.
A.    Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian berisikan tentang kegiatan yang dirancang secara sistematis sebagai panduan menyelesaiakn penelitian. Jadwal mencakup rincian kegiatan mulai dari persiapan, pelaksanaan, penyusunan laporan, dan ujian tesis
Untuk lebih jelas jadwal penelitian dibuat dalam bentuk Gann-chart sebagai berikut:
Tabel 4.1. Gann-Chart Jadwal Penelitian
No
KEGIATAN
Bulan ke :


5
6
7
8
9
10
11
12
A
PERSIAPAN

1
Memperbaiki desain penelitian
X







2
Mengurus izin Penelitian

X






3
Menyusun instrument penelitian

X






B
PELAKSANAAN

1
Pengumpulan data

X
X
X




2
Analisis data


X
X




C
PENYUSUNAN LAPORAN

1
Penyusunan draft tesis


X
X




2
Penyusunan konsep tesis akhir




X



D
UJIAN TESIS

1
Progress report





X


2
Ujian tahap 1





X


3
Ujian tahap 2






X

B.     Dukungan Fasilitas
Dalam penelitian ini peneliti membutuhkan fasilitas yang berupa sarana dan prasarana sebagai mendukung kelancaran dalam penyelesaian penyusunan tesis. Fasilitas tersebut yaitu:
1.      Notebook
2.      Kamera digital
3.      Referensi (Buku, jurnal, dst)
4.      Jaringan internet
5.      Tape recorder

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Panji. 2009. Psikologi Kerja. Jakarta: Renika Cipta
Apriliaswati, Rahayu. 2013. Stres Pada Guru.  https://www.academia.edu (diunduh 04 Mei 2014)
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Renika Cipta
Badeni. 2013. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta
Daft, Richard, L. 2010. New Era of Management. New York: Cengage Learning
Fahmi, Irham. 2013. Perilaku Organisasi. Bandung: CV. Alfabeta
Faidah, Lulu. 2012. Peran Guru sebagai pendidik, pembimbing, pengajar dan pelatih. http://lolo-faidah.blogspot.com  (diunduh 15 Mei 2014)
Gibson, Katherine. 2004. Reducing Stress Creating Harmony. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer
Himalaya, Hafiz. 2012. Guru. http://hafizhimala.blogspot.com  (diunduh 15 Mei 2014)
Kartowagiran, Badrun. 2009. Instrumen Pengukuran Kinerja. http://staff.uny.ac.id (diunduh 25 Mei 2014)
Khilmiyah, Akif. 2012. Stres Kerja Guru Perempuan di Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta. Yogyakarta: FAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Khoyunita. 2013. Stres Kerja. http://Khoyunita.blogspot.com (diunduh 09 Mei 2014)
Kurnia, Rahmat. 2011. Hubungan Antara Stres Kerja dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Guru SMA Negeri di Bengkulu Selatan. Tesis. Bengkulu: Prodi MAP PPs FKIP Universitas Bengkulu
Miles, M.B. & Huberman, A.M. 2007. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Moleong, L.J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyasa. 2011. Manajemen & kepemimpinan kepala sekolah. Jakarta: Bumi Aksara
Muzamiroh, Mida Latifatul. 2013. Kupas Tuntas Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena
Sasongko, Rambat Nur, Dkk. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bengkulu: Prodi MAP PPs FKIP Universitas Bengkulu
Rivai, Veithzal dan Mulyadi, Deddy. 2011. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Rizal, Syamsul. 2013. Stres Kerja dan Kinerja Guru di SMA Negeri I Lamno. Aceh: FE Universitas Muhamadiyah Aceh
Robbins, Stephen P. 2003. Organization Behevior. New Jersey: Prentice-Hall
Satori, Djam’an dan Komariah, Aan. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Solichin, Da’ud Nur. 2013. Pengaruh Stres Kerja Dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja Guru Di Sekolah Mutiara Hati Bandung. Bandung: FE Universitas Pasundan Bandung
Sopiah. 2008. Perilaku organisasi. Yogyakarta: CV. Andi Offset
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sunyoto, Danang. 2013. Teori, Kuesioner, dan Analis Data Sumber Daya Manusia. Jakarta: Buku Seru
Supardi. 2013. Kinerja Guru. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Tentang Pendidikan. Jakarta: Kemendiknas
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Kemendiknas
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Kemendiknas

KISI-KISI PENGEMBANGAN INSTRUMEN

MANAJEMEN STRES KERJA GURU
(Studi Deskriptif Kualitatif di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu)

No
Rumusan Masalah
Indikator
Teknik Pengumpulan Data
Sumber Data
OBS
WCR
DOK
1
Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya stress kerja guru?
·         Penyebab fisik
·         konflik
·         Beban kerja
·         Sifat pekerjaan
·         Lingkungan kerja
·         Kebebasan
·         Kesulitan
·         Kepemimpinan
·         Hubungan kerja
·         Tekanan ekstra lainnya












Ka. Sekolah dan
Guru
2
Bagaimana upaya kepala sekolah dalam manajemen stress kerja guru?
·         Pendekatan individu
·         Pendekatan organisasi
·         Mengelola waktu
·         Seleksi dan penempatan
·         Penentuan tujuan
·         Rancangan ulang pekerjaan
·         Keterlibatan guru
·         Komunikasi
·         Program pengembangan









Ka. Sekolah dan Waka. sekolah
3
Bagaimana hasil dari manajemen stress kerja guru?

·         Tindakan apa yang dilakukan atas keberhasilan manajemen stress
·         Tindakan apa yang dilakukan atas kegagalan manajemen stress







Ka. Sekolah dan Waka. sekolah

PEDOMAN WAWANCARA

MANAJEMEN STRES KERJA GURU
(Studi Deskriptif Kualitatif di SMP Negeri 4 Kota Bengkulu)

Responden                              :
Jabatan                                                :
Hari/tanggal                            :
Waktu                                     :
Lokasi                                     :
Bentuk wawancara                 :

BUTIR PERTANYAAN
SUBJEK
1.      Bagaimana manajemen stress kerja guru di SMP N 4 kota Bengkulu?
2.      Apakah ada guru di sekolah ini yang mengalami stress kerja?
3.      Bagaimana tingkat stress yang dialami guru anda?
4.      Apakah ada gejala-gejala yang nampak dari guru yang mengalami stress kerja?
5.      Gejala-gejala seperti apa yang biasanya nampak saat guru itu sedang stress??
6.      Bagaimana kepuasan kerja saat guru mengalami stress kerja?
7.      Bagaimana pengaruhnya dengan kinerja guru saat guru mengalami stress kerja ?
8.      Bagaimana semangat dan energy kerja guru saat guru mengalami stress kerja?
9.      Bagaimana pola guru dalam mengambil keputusan saat guru mengalami stress kerja?
10.  Bagaimana pengaruhnya terhadap kreativitas guru saat guru mengalami stress kerja ?
11.  Bagaimana pengaruh terhadak produktifitas guru saat guru mengalami stress kerja ?
12.  Apakah stress perlu dikelola?
13.  Bagaimana strategi anda dalam menglola stress kerja guru?
Ka. Sekolah
14.  Apakah anda sering mengalami konflik di sekolah?
15.  Apakah anda pernah mengalami stress kerja?
16.  Bagaimana bisa terjadinya stress kerja?
17.  Apa saja yang menyebabkan anda stress kerja?
18.  Apakah anda selalu terbebani dengan tugas anda sebagai guru?
19.  Apakah anda sering mengalami kesulitan saat diberi tugas dari kepala sekolah?
20.  Bagaimana kondisi lingkungan kerja anda?
21.  Apakah pekerjaan anda sering menempatkan dalam kondisi tidak sehat (polusi, bising, gersang dll)? Kenapa?
22.  Apa saja akibat dari stress kerja yang anda alami?
23.  Apa dampak yang anda terima saat sedang mengalami stress kerja?
24.  Bagaimana menurut anda dengan kepemimpinan saat ini?
25.  Bagaimana hubungan anda dengan atasan anda?
26.  Apakah sering mendapat dukungan dari atasan?
27.  Bagaimana hubungan anda dengan teman kerja anda?
28.  Bagaimana hubungan anda dengan siswa anda?
Ka. Sekolah, waka sekolah dan Guru
29.  Bagaimana upaya anda dalam manajemen stres dalam mengatasi stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu?
30.  Langkah-langkah apa saja yang dilakukan dalam membuat perencanaan untuk memperkecil tingkat stress kerja guru di SMP N 4 Kota Bengkulu?
31.  Bagaimana perencanaan manajemen stress kerja dengan pendekatan individu?
32.  Bagaimana perencanaan manajemen stress kerja dengan pendekatan organisasi?
33.  Bagaimana cara anda dalam Mengelola waktu?
34.  Bagaimana strategi anda dalam Seleksi dan Penempatan guru?
35.  Bagaimana strategi anda dalam penentuan tujuan?
36.  Apakah ada rancangan ulang pekerjaan?
37.  Bagaimana langkah anda dalam membuat rancangan ulang pekerjaan?
38.  Bagaimana cara anda dalam melibatan guru dalam pengambilan keputusan?
39.  Seperti apa Komunikasi yang anda bangun di sekolah?
40.  Apakah ada program pengembangan yang anda lakukan di sekolah guna mengurangi tingkat stress kerja guru?
41.  Program pengembangan yang seperti apa yang anda laksanakan?
Ka. Sekolah
42.  Bagaimana hasil dari pelaksanaan manajemen stress di SMP N 4 Kota Bengkulu?
43.  Apakah evaluasi manajemen stress perlu dilakukan?
44.  Apa yang anda lakukan jika manajemen stress kerja guru berhasil dalam mengatasi stress kerja guru?
45.  Apa yang anda lakukan jika manajemen stress kerja guru kurang efektif dalam mengatasi stress kerja guru?
Ka. Sekolah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar