Selasa, 11 September 2018

PERANAN FILSAFAT ILMU DALAM PENGEMBANGAN ILMU MANAJEMEN PENDIDIKAN




PERANAN FILSAFAT ILMU DALAM PENGEMBANGAN ILMU MANAJEMEN PENDIDIKAN

MAKALAH

Disampaikan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
Menempuh Mata Kuliah Filsafat ilmu
Program Studi Magister/Manajemen Pendidikan
PPs FKIP Universitas Bengkulu Semester 1 Tahun Akademik 2012/1013
Dosen Dr.Osa Juarsa, M.Pd


 





Oleh
JON SASRTO
NIM A2K012116

PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI/MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2013









KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahim

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Peranan Filsafat Ilmu Dalam Pengembangan Ilmu Manajemen Pendidikan
Makalah ini berisikan tentang informasi pengertian filsafat, manajemen, pendidikan dan manajemen pendidikan, dasar ontologi, epistemologi  dan aksiologi manajemen pendidikan Dan analisis filsafati manajemen pendidikan berbasis paradigma konservatif, liberal dan kritis.  Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang peranan filsafat ilmu dalam pengembangan ilmu manajemen pendidikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada dosen mata kuliah Dr. Osa Juarsa, M.Pd serta rekan-rekan seperjuangan di semester 1 Program Studi Magister/Manajemen Pendidikan Tahun Akademik 2012/1013.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin Ya robbal’Alamin.
Wassalamualaikum wr.mb

                                                                        Bengkulu,      Juni 2013

Penulis,
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................  I
DAFTAR ISI ...........................................................................................................  II

BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang .............................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C.     Tujuan ........................................................................................................... 2
D.    Manfaat ......................................................................................................... 3

BAB II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian
1.      Filsafat .................................................................................................... 4
2.      Manajement ............................................................................................ 4
3.      Pendidikan .............................................................................................. 5
4.      Manajemen Pendidikan .......................................................................... 5
B.     Dasar Ontology, Epistemology, dan Aksiologi Manajemen Pendidikan
1.      Ontology Manajemen Pendidikan .......................................................... 6
2.      Epistemology Manajemen Pendidikan ................................................... 9
3.      Aksiologi Manajemen Pendidikan .......................................................... 11
C.     Analisis Filsafati Mananemen Pendidikan .................................................... 15

BAB III. SIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 23
B.     Saran ............................................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 25


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Membahas tentang filsafat manajemen pendidikan, tidak bisa kita pisahkan dengan sejarah filsafat. Seperti kita ketahui filsafat mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, segala ilmu pengetahuan lahir dari rahim filsafat. Bisa dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu pengetahuan. Pada fase awalnya filsafat hanya melahirkan dua ilmu pengetahuan, yakni ilmu alam (Natural Philosophy) dan ilmu sosial (Moral Philosophy) maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan (Suriasumantri, 2005:92). Hal ini, menurut Ibnu Khaldun disebabkan oleh berkembangnya kebudayaan dan peradaban manusia
Dalam abad ke 18 dengan bermunculannya negara-negara maju dibelahan dunia, muncul cabang ilmu pengetahuan baru yakni manajemen, yang semula masih segan diakui sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini bukanlah suatu yang baru. Ilmu kemasyarakatan (sosiologi) harus memperjuangkan kedudukannya untuk menjadi ilmu pengetahuan disamping ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Demikian pula halnya ilmu ”manajemen” yang menjadi bahan perbincangan kita sekarang. Barulah pada masa Taylor dan Fuyol, seiring dengan tumbuhnya negara-negara industri ilmu manajemen itu mulai dianggap sebagai ilmu. Kelahiran ilmu manajemen kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan yang kemudian disintesiskan menjadi menajemen pendidikan.
Menurut Suriasumantri (2005:35), Setiap pembahasan tentang gejala atau objek sesuatu ilmu pengetahuan (manajemen pendidikan), paling sedikit ada 3 hal yang pertanyakan (1) apa hakikat gejala/objek itu (landasan ontologis), (2) bagaimana cara mendapatkan atau penggarapan gejala/objek itu (landasan epistemologis), (3) apa manfaat gejala/objek itu (landasan aksiologis).

B.                 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas yaitu:
1.      Pengertian filsafat, manajemen, pendidikan, dan manajemen pendidikan
2.      Dasar ontologi, epistemologi  dan aksiologi manajemen pendidikan 
3.      Analisis filsafati manajemen pendidikan berbasis paradigma konservatif, liberal dan kritis

C.    Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, yang mejadi tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Pengertian filsafat, manajemen, pendidikan, dan manajemen pendidikan
2.      Untuk mengetahui Dasar ontologi, epistemologi  dan aksiologi manajemen pendidikan
3.      Untuk mengetahui Analisis filsafati manajemen pendidikan berbasis paradigma konservatif, liberal dan kritis

D.    Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini adalah  memberikan informasi tentang pengertian filsafat, manajemen, pendidikan dan manajemen pendidikan, dasar ontologi, epistemologi  dan aksiologi manajemen pendidikan Dan analisis filsafati manajemen pendidikan berbasis paradigma konservatif, liberal dan kritis.  Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang peranan filsafat ilmu dalam pengembangan ilmu manajemen pendidikan.
  



BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian Filsafat, Manajemen, Pendidikan, Dan Manajemen Pendidikan
1.      Filsafat
Filsafat merupakan ilmu dari segala ilmu pengetahuan. Filsafat merupakan benih dari munculnya ilmu-ilmu lain di dunia sehingga muncullah berbagai disiplin ilmu yang kini dipelajari secara khusus. Filsafat lahir dari adanya rasa ingin tahu manusia tentang segala hal di sekitarnya, rasa ingin tahu tersebutlah yang mendorong munculnya pertanyaan-pertanyaan awal filosofis tentang pengertian sesuatu yang diamati. Lambat laun mulai dirumuskan beberapa teori sehingga terkumpul banyak teori yang akhirnya terkomulasi menjadi disiplin ilmu tertentu sesuai dengan ilmunya.

2.      Manajemen
Sebagaimana dicatat dalam Encyclopedia Americana manajemen merupakan "the art of coordinating the ele-ments of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization", yaitu suatu seni untuk mengkoordinir sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Sumberdaya organisasi tersebut meliputi manusia(men), bahan baku(ma-terials) danmesin(machines).Koordinasi dimaksudkan agar tujuan organisasi bisa dicapai dengan efisien sehingga dapat memenuhi harapan berbagai pihak (stake-holders) yang mempunyai kepentingan terhadap organisasi.

3.      Pendidikan
Pendidikan merupakan setiap proses di mana seseorang memperoleh pengetahuan (knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/keterampilan (skills developments) sikap atau mengubah sikap (attitute change). Pendidikan adalah suatu proses transformasi anak didik agar mencapai hal _hal tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya.
Sebagai bagian dari masyarakat, pendidikan memiliki fungsi ganda yaitu fungsi sosial dan fungsi individual. Fungsi sosialnya untuk membantu setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif dengan memberikan pengalaman kolektif masa lalu dan sekarang, sedangkan fungsi individualnya untuk memungkinkan seorang menempuh hidup yang lebih memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan (pengalaman baru). Fungsi tersebut dapat dilakukan secara formal seperti yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan, maupun informal melalui berbagai kontak dengan media informasi seperti buku, surat kabar, majalah, TV, radio dan sebagainya.

4.      Manajemen pendidikan
Dari pengertian diatas, manajemen pendidikan merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, dsb untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan.

B.       Dasar Ontologi, Epistemologi  Dan Aksiologi Manajemen Pendidikan
1. Ontologi Manajemen Pendidikan
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari manajemen pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan manajemen pendidikan melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kualitas maupun kuantitas hasil yang dicapai. Objek materi manjemen pendidikan pendidikan ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan, yaitu, Perencanaan, pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negoisasi serta pengembangan organisasi) dan pengendalian (Meliputi Pemantauan penilaian, dan pelaporan).

a. Konsep Manajemen Pendidikan
Menurut Husaini (2006:7) pengertian manajemen pendidikan adalah seni atau ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaa, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Manajemen pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Sumber daya pendidikan adalah sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi enam hal; (1) administrasi peserta didik; (2) administrasi tenaga pendidik; (3) administrasi keuangan; (4) administrasi sarana dan prasarana; (5) admistrasi hubungan sekolah dengan masyarakat; dan (6) administrasi layanan khusus.

b. Tujuan Dan Manfaat Manajemen Pendidikan
Sesuai dengan tujuannya, maka manfaat manajemen pendidikan; Pertama, terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang Aktif, Inovative, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM); Kedua, terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara; Ketiga, terpenuhinya salah satu dari 4 kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan (tertunjangnya kompetensi profesional sebagai pendidik dan tenaga kependidikan sebagai manajer); Keempat, tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien; Kelima, terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer pendidikan atau konsultan manajemen pendidikan); Keenam, teratasinya masalah mutu pendidikan.(Husaini, 2006:8)

c. Temuan masalah
Ada tiga faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yaitu : (1) kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-input analisis yang tidak consisten; (2) penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara birokratik-sentralistik; (3) peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim (Husaini Usman, 2002).
Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan..Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas – batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement) (Umaedi: 1999).
Dari uraian teori dan temuan tersebut tentu saja kita harus mendapatkat titik penyelesaian secara teoritis dengan mengadakan pendekatan teori pula dengan berlandaskan pada filsafat. Karena Jika pendidik tidak bersikap afektif utuh demikian maka menurut Gordon akan terjadi mata rantai yang hilang (the missing link) atas faktor hubungan serta didik-pendidik atau antara siswa-guru. Dengan begitu pendidikan hanya akan terjadi secara kuantitatif sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB summatif, NEM atau pemerataan pendidikan yang kurang mengajarkan demokrasi jadi kurang berdemokrasi. Sedangkan kualitas manusianya belum tentu  utuh. Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler dalam Umaedi, 1999).
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari manajemen pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan manajemen pendidikan melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kualitas maupun kuantitas hasil yang dicapai. Objek materi manjemen pendidikan ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan, yaitu, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengkomunikasian dan pengawasan.

2. Epistemologis Manajemen Pendidikan
Dasar epistemologis diperlukan dalam manajemen pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula namun telaah atas objek formil ilmu manajemen pendidikan memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin studi empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Karena penelitian tertuju tidak hanya pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan & Biklen, dalam Umaedi: 1999)
Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management) atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut School Based Quality Improvement.
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan;
a. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.
b. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural, sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya.
c. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.
d. Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing – masing.
e. Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.
f. Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut.
g. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah.
h. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun. 5 tahun,dst,sehingga tercapai misi sekolah kedepan
Peran esensial pemimpin mempunyai peran strategis dalam upaya perbaikan kualitas. Setiap anggota organisasi harus memberikan konstribusi penting dalam upaya tersebut. Namun, setiap upaya perbaikan yang tidak didukung secara aktif oleh pimpinan, komitment, kreatifitas, maka lama-kelamaan akan hilang .

3. Dasar Aksiologis Managemen Pendidikan
Kemanfaatan teori Manajemen pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai manajemen pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan administrasi pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula untuk menjembatani persoalan yang sedang berlangsung maupun yang akan terjadi.
Implikasinya pada penyelesaian temuan diatas ialah aplikasi teoritis untuk menjabarkan fenomena sekaligus peneyelesaian secara konperhensif. Terkait dengan masalah kualitas (mutu) tersebut maka penyusunan program peningkatan mutu dengan mengaplikasikan empat teknik : a) school review, b) benchmarking, c) quality assurance, dan d) quality control. Berdasarkan Panduan Manajemen Sekolah (2000:200-202) dijelaskan sebagai berikut :
a. School review
Suatu proses dimana seluruh komponen sekolah bekerja sama khususnya dengan orang tua dan tenaga profesional (ahli) untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas sekolah, serta mutu lulusan.
School review dilakukan untuk menjawab pertanyaan berikut :
1) Apakah yang dicapai sekolah sudah sesuai dengan harapan orang tua siswa dan siswa sendiri ?
2) Bagaimana prestasi siswa ?
3) Faktor apakah yang menghambat upaya untuk meningkatkan mutu?
4) Apakah faktor-faktor pendukung yang dimiliki sekolah ?
School review akan menghasilkan rumusan tentang kelemahan-kelemahan, kelebihan-kelebihan dan prestasi siswa, serta rekomendasi untuk pengembangan program tahun mendatang.


b. Benchmarking
Suatu kegiatan untuk menetapkan standar dan target yang akan dicapai dalam suatu periode tertentu. Benchmarking dapat diaplikasikan untuk individu, kelompok ataupun lembaga.
Tiga pertanyaan mendasar yang akan dijawab oleh benchmarking adalah :
1) Seberapa baik kondisi kita?
2) Harus menjadi seberapa baik?
3) Bagaimana cara untuk mencapai yang baik tersebut?
Langkah-langkah yang dilaksanakan adalah :
a) Tentukan fokus
b) Tentukan aspek/variabel atau indikator
c) Tentukan standar
d) Tentukan gap (kesenjangan) yang terjadi.
e) Bandingkan standar dengan kita
f) Rencanakan target untuk mencapai standar
g) Rumuskan cara-cara program untuk mencapai target

c. Quality assurance
Suatu teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana seharusnya. Dengan teknik ini akan dapat dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada proses. Teknik menekankan pada monitoring yang berkesinambungan, dan melembaga, menjadi subsistem sekolah. Quality assurance akan menghasilkan informasi, yang :
1) Merupakan umpan balik bagi sekolah
2) Memberikan jaminan bagi orang tua siswa bahwa sekolah senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa.
Untuk melaksanakan quality assurance menurut Bahrul Hayat dalam hand out pelatihan Calon kepala sekolah (2000:6), maka sekolah harus :
a) Menekankan pada kualitas hasil belajar
b) Hasil kerja siswa dimonitor secara terus menerus
c) Informasi dan data dari sekolah dikumpulkan dan dianalisis untuk memperbaiki proses di sekolah.
d) Semua pihak mulai kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, dan juga orang tua siswa harus memiliki komitmen untuk secara bersama mengevaluasi kondisi sekolah yang kritis dan berupaya untuk memperbaiki.
d. Quality control
Suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar. Quality control memerlukan indikator kualitas yang jelas dan pasti, sehingga dapat ditentukan penyimpangan kualitas yang terjadi.





C.      Analisis Filsafati Manajemen Pendidikan Berbasis Paradigma Konservatif, Liberal Dan Kritis
Sebagaimana yang disampaikan Paula Allman (1999), proses pendidikan tidaklah dimaknai sebagai proses memiliki dan mengakumulasi pengetahuan, tapi lebih sebagai proses untuk memahami, mengkritik, memproduksi dan menggunakan pengetahuan sebagai sebuah alat untuk mengubah realitas. Namun apakah para pendidik menerapkan hal tersebut? Lalu, apakah paradigma pendidikan yang, sadar atau tidak sadar, digunakan oleh para pendidik kita saat ini? Apakah paradigma konservatif, paradigma liberal, atau paradigma pendidikan kritis? Dan pendekatan pendidikan seperti apa yang mereka gunakan? Apakah pendekatan pedagogi ataukah andragogi?
Menurut Giroux dan Aronowitz (1985), paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa bahwa masyarakat, dalam hal ini peserta didik, pada dasarnya tidak merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial. Dengan pandangan seperti itu, para pendidik yang menggunakan paradigma konservatif menganggap peserta didik tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk melakukan perubahan atas kondisi mereka.
Para pendidik ini sangat melihat pentingnya harmoni dan menghindari konflik dan kontradiksi. Hampir senada dengan paradigma konservatif, para pendidik yang menggunakan paradigma liberal menganggap bahwa pendidikan adalah sesuatu yang apolitis dan menganggap bahwa masalah masyarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Pendidikan justru dijadikan alat untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi dengan baik untuk menjaga kestabilan sistem yang ada.
Pengaruh positivisme sangat besar dalam paradigma liberal ini, di mana paham ini mensyaratkan pemisahan fakta dan nilai-nilai dalam rangka menuju pemahaman yang objektif terhadap realtias sosial yang terjadi. Pendidikan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran para pendidik Indonesia. Hal ini terlihat dari pendidikan yang lebih mengutamakan prestasi melalui persaingan antar peserta didik. Namun adakah pendidik yang menggunakan paradigma pendidikan kritis dalam proses pendidikannya? Suatu paradigma yang menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat di mana pendidikan berada. Hal ini berbeda dengan paradigma konservatif yang bertujuan untuk menjaga status quo dan paradigma liberal yang menginginkan perubahan moderat. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap “the dominant ideology” ke arah transformasi sosial.
Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan sruktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin dan tidak bisa bersikap netral, bersikap objektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme.
Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistem sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain, sebagaimana yang disampaikan Driyarkara (1980), tugas utama pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.
Lalu bagaimana implikasi dari paradigma pendidikan tersebut pada pendekatan pendidikan yang digunakan oleh para pendidik? Knowles (1970) mengungkapkan bahwa pendekatan pendidikan pada dasarnya diklasifikasikan ke dalam dua bentuk pendekatan yang saling kontradiktif, yakni antara pedagogi dan andragogi. Pedagogi sebagai “seni mendidik anak” mendapat pengertian lebih luas dimana suatu proses pendidikan yang “menempatkan objek pendidikannya sebagai “anak-anak”, meskipun usia biologis mereka sudah termasuk “dewasa”. Konsekuensi logis dari pendekatan ini adalah menempatkan peserta didik sebagai “murid” yang pasif. Murid sepenuhnya menjadi objek suatu proses belajar seperti misalnya: guru menggurui, murid digurui, guru memilihkan apa yang harus dipelajari, murid tunduk pada pilihan terseut, guru mengevaluasi, murid dievaluasi, dan seterusnya.
Kegiatan belajar mengajar model ini menempatkan guru sebagai inti terpenting sementara murid menjadi bagian pinggiran. Sebaliknya, andragogi atau pendekatan pendidikan “orang dewasa” merupakan pendekatan yang menempatkan peserta belajar sebagai orang dewasa. Di balik pengertian ini, Knowles ingin menempatkan “murid” sebagai adalah subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyimpulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan.
Fungsi guru adalah sebagai “fasilitator”, dan bukan menggurui. Oleh karena itu relasi antara guru-murid bersifat “multicommunication” dan seterusnya. Sebagai pendekatan, andragogi dan pedagogi sering digunakan dalam ketiga paradigma konservatif, liberal, dan kritis tersebut. Banyak sekali dijumpai proses pendidikan yang konservatif atau liberal, tetapi dilakukan dengan cara pendekatan andragogi.
Perkawinan antara andragogi dan paradigma konservatif atau liberal sesungguhnya adalah menghubungkan dua hal yang kontradiktif. Pendidikan kritis mensyaratkan penggunaan andragogi sebagai pendekatan ketimbang pedagogi. Secara prinsipil meletakkan “anak didik” sebagai “objek” pendidikan adalah problem dehumanisasi. Sebaliknya pendidikan liberal yang bersifat I (blaming the victim) meskipun digunakan pedekatan andragogi, namun yang terjadi pada dasarnya adalah menjadikan pendidikan sebagai proses “menjinakkan” untuk menyesuaikan ke dalam sistem dan struktur yang sudah mapan. “Penjinakan” sendiri sebenarnya bukan karakter dari andragogi. Sebaliknya, banyak juga pendidikan yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kritis namun dilakukan dengan cara pedagogi ataupun indoktrinasi.
Meskipun materi pendidikan sesungguhnya menyangkut persoalan persoalan mendasar tentang sistem dan struktur masyarakat, namun dalam proses pendidikannya lebih “banking concept of education” bersifat indoktrinatif dan menindas. Indoktrinasi sendiri adalah anti-pendidikan dan pembunuhan sikap kritis manusia sehingga bertentangan dengan hakekat pendidikan kritis. Sehingga dengan demikian pendidikan kritis yang dilakukan secara pedagogi pada dasarnya adalah kontradikif dan anti-pendidikan. Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk memanusiakan kembali manusia setengah dewa agar dapat memanusiakan kita sebagai peserta didik?
Pertama kesadaran magis, yakni suatu kesadaran masyarakat tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural ) sebagai penyebab dan ketakberdyaan.
Dalam dunia pendidikan jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidika fatalistik. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan, dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pandangan guru. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis, Kaitan antara sistem dan struktur terhadap suatu permasalahan satu masyarakat. Murid secara dogmatik menerima ‘ kebenaran ‘ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami makna ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif di kategorikan dalam kesadaran magis ini.
Kesadaran kedua adalah kesadaran naïf. Keadaan yang dikatagorikan dalam kesadaran ini lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini masalah etika, kreativitas need for achievement dianggap sebagai suatu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena salah masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki jiwa kewiraswsataan, atau tidak memiliki budaya membangun, dan seterusnya. Oleh karena itu “man power development” adalah suatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan.
Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar, merupakan faktor given; oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Paradigama umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naïf.
Kesadaan ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “blaim the victims” dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan system sosial , politik, ekonomi dan budaya, dan akibatnya pada keadaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi “ketidakadilan” dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistem dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya.
Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta didik terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakn model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran kritis. Dalam pemetaan diatas, sistem pendidikan di Indonesia selama ini masih jauh untuk dikatagorikan pendidikan kritis. Dapat pula dikatakan, dalam tarap tertentu pendidikan kita justru terjebak dalam paradigma konservatif, meskipun kalau dilihat secara umum pendidikan nasional termasuk dalam mainstream liberal. Hal ini ditandai dengan adanya privatisasi pendidikan, model subjek-objek (walau secara de yure saat ini menggunakan model KTSP), serta orientasinya yang kental dengan idiologi kapitalisme.          
Ketika kita membincangkan masalah hakekat pendidikan berarti kita membicarakan aspek ontologis dari pendidikan itu sendiri. Mempermasalahkan tentang apa itu sebenarnya pendidikan. Pendidikan merupakan instrumen (alat) bagi manusia yang mengajarkan tentang bagaimana berperilaku, bertindak, berkomunikasi, berfikir dalam menghadapi problematika kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan media untuk “memanusiakan manusia”. Manusia adalah mahluk berfikir, dimana karakteristik ini membedakan dirinya dengan mahluk yang lain. Melalui pendidikan, diharapkan partisipan didik mampu berperan aktif dalam mencerap segala pengetahuan sehingga dia mampu mengenal dirinya dan lingkungannya.
Pada tahap awal perkembangan manusia, proses pendidikan berlangsung sangat sederhana. Transformasi pengetahuan dan tingkah laku langsung didapat anak-anak dari orang tua mereka. Dalam perkembangan selanjutnya, seiring kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh manusia, pendidikan tidak lagi menjadi monopoli para orang tua. Mulai terdapat orang lain yang secara khusus meluangkan waktunya dengan diberi imbalan tertentu. Inilah yang menjadi permulaan dari institusionalisasi pendidikan bernama sekolah.
Kata sekolah sendiri berasal dari bahasa latin scolae yang berarti waktu senggang. Namun, keberadaan  sekolah (termasuk juga universitas) sekarang ini tak lebih dari rumah-makan cepat saji semacam McDonalds, yang hanya mengutamakan citra dan poduktivitas untuk memenuhi target kelulusan belaka. Dengan pola pendidikan yang demikian alih-alih produk yang dihasilkan menjadi kritis dan berkualitas. Bisa-bisa terjadi pembodohan secara sistematis. Kondisi yang seperti ini klop dengan bentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang sekarang ini sedang marak digagas di beberapa perguruan tinggi negeri. BHMN mengandaikan adanya kemandirian dari tiap PTN dalam hal akademik maupun keuangan.
Kemandirian  lantas diartikan sebagai legitimasi untuk meraup sebanyak-banyaknya pemasukan bagi BHMN, dimana jika tidak dimbangi dengan sumber daya yang mumpuni dalam PTN tersebut maka akan mengarah pada sikap yang pragmatis (mengejar keuntungan semata). Untuk meghindari pragmatisme dalam dunia pendidikan, maka semua harus dikembalikan pada hakekat pendidikan, sehingga paradigma yang dipakai pun juga sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Landasan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi (pragmatis) dalam Managemen pendidikan mempunyai peran penting dalam :
1. Menentukan nilai-nilai filosofis dalam pengembangan manajemen pendidikan.
2. Dasar ontologi manajemen pendidikan adalah objek materi manjemen pendidikan ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan, yaitu, Perencanaan, pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negoisasi serta pengembangan organisasi) dan pengendalian (Meliputi Pemantauan,penilaian, dan pelaporan.
3. Dasar epistemologis diperlukan dalam manajemen pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab.
4. Dasar Aksiologis Managemen Pendidikan adalah Kemanfaatan teori Manajemen pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai manajemen pendidikan.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka setiap pembahasan mengenai ilmu pengetahuan diharapkan melalui kajian landasan filosofis, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi agar supaya upaya dan usaha yang menjadi program dalam manajemen pendidikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.



DAFTAR PUSTAKA

Anan, Nur, 2011. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Akses Internet Jurnal 25 mei 2013
Endaswara, Suwardi. 2012. Filsafat Ilmu.: Yogjakarta. Universitas Negeri Yogyakarta
Suriasumantri, Jujun S. 1981. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.






2 komentar: