Kamis, 13 September 2018

DASAR KONSEP KEPEMIMPINAN PERSPEKTIF ISLAM






DASAR KONSEP KEPEMIMPINAN PERSPEKTIF ISLAM

MAKALAH
Disampaikan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
Menempuh Mata Kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi
Program Studi Magister Administrasi Pendidikan
PPs FKIP Universitas Bengkulu Semester 3 Tahun Akademik 2013/1014
Dosen Dr. Aliman, M.Pd


 
 

Oleh

Jon Sastro


PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2014



KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahim

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Dasar Konseptual Kepemimpinan Perspektif Islam.
Makalah ini berisikan tentang Kepemimpinan islam seperti, tentang pengertian kepemimpinan islam, dasar konseptual kepemimpinan perspektif islam, pribadi seorang pemimpin yang ideal, tentang kepemimpinan islam di Indonesia serta tentang model kepemimpinana rasulullah. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi terutama dalam kepemimpinan Islam.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada dosen mata kuliah Dr. Aliman, M.Pd serta rekan-rekan seperjuangan di semester 3 Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Tahun Akademik 2013/1014.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin Ya robbal’Alamin.
Wassalamualaikum wr.wb


Bengkulu,      Maret 2014

Tim  penyusun
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ...........................................................................................  i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................  ii

BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang .............................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C.     Tujuan ........................................................................................................... 2
D.    Manfaat ......................................................................................................... 2

BAB II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kepemimpinan ........................................................................ 3
B.     Pengertian Kepemimpinan Islam................................................................... 4
C.     Dasar Konseptual Kepemimpinan Perspektif Islam...................................... 5
D.    Pribadi Seorang Pemimpin yang Ideal........................................................... 6
E.     Kepemimpinana Islam di Indonesia.............................................................. 8
F.      Model Kepemimpinan Rasulullah.................................................................. 9

BAB III. PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 13
B.     Saran ............................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 15





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Agama bukan hanya sekedar lambang kesalehan umat atau topik dalam kitab suci umat beragama, namun secara konsepsional kehadiran agama semakin dituntut aktif untuk menunjukkan cara-cara paling efektif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.
Tuntutan yang demikian itu akan mudah dijawab oleh kita sebagai kalangan intelektual muslim dan siapa saja tatkala kita sebagai muslim memahami “agama kita sendiri”.bukan hanya sekedar pemahaman dengan pendekatan normatif namun juga harus dilengkapi dengan pendekatan lain (pendekatan historis dan pendekatan teoretik), yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan umat.
Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu pengetahuan yang selanjutnya digunakan dalam memahami dasar konseptual kepemimpinan perspektif islam.
Berdasarkan latar belakang persoalan diatas, maka dirasa penting untuk mengetahui dasar konseptual kepemimpinan perspektif islam dengan berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama sekaligus menjawab permasalahan-permasalahan umat manusia . Sehingga agama akan terasa lebih bermakna dan hadir kokoh dalam masyarakat tatkala kita paham akan agama kita. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, agama akan menjadi sulit untuk difahami oleh masyarakat, tidak fungsional dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama (Naudzubillahi Min Dzalik). Oleh karna itu dalam hal ini kami akan mencoba menggali dan mengemukakan sebuah dasar konseptual kepemimpinan perspektif islam yaitu memalui pendekatan normative, pendekatan historis dan pendekatan teotetik.
B.   Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada dan untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas, maka penulis mencoba mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1.      Apa Pengertian Kepemimpinan?
2.      Apa Pengertian Kepemimpinan Islam?
3.      Apa Dasar Konseptual Kepemimpinan Perspektif Islam?
4.      Bagaimana Pribadi Seorang Pemimpin yang Ideal?
5.      Bagaimana Kepemimpinana Islam di Indonesia?
6.      Bagaimana Model Kepemimpinan Rasulullah?

C.   Tujuan masalah
Berdasrkan rumusan masalah diatas maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Pengertian Kepemimpinan
2.      Untuk mengetahui Pengertian Kepemimpinan Islam
3.      Untuk mengetahui Dasar Konseptual Kepemimpinan Perspektif Islam
4.      Untuk mengetahui Pribadi Seorang Pemimpin yang Ideal
5.      Untuk mengetahui Kepemimpinana Islam di Indonesia
6.      Untuk mengetahui Model Kepemimpinan Rasulullah

D.   Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini adalah  memberikan informasi tentang Kepemimpinan islam seperti, tentang pengertian kepemimpinan islam, dasar konseptual kepemimpinan perspektif islam, pribadi seorang pemimpin yang ideal, tentang kepemimpinan islam di Indonesia serta tentang model kepemimpinana rasulullah.  


BAB II
PEMBAHASAN

A.        Pengertian Kepemimpinan
            Menurut Mc, Farland (1997) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberikan perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  0tt (1996) mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses hubungan antar pribadi yang di dalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan dan prilaku   orang lain.
      Dilihat dari berbagai sisi, kepemimpinan dapat diartikan sebagai :
Ø  Fokus proses-proses kelompok
Ø  Suatu kepribadian dan akibatnya
Ø  Seni mempengaruhi orang lain
Ø  Penggunaan pengaruh
Ø  Tindakan atau tingkah laku
Ø  Bentuk persuasi
Ø  Alat mencapai tujuan
Ø  Akibat dari interaksi
Ø  Perbadaan peran
Ø  Inisiasi struktur
            Dari berbagai macam pendapat tentang pengertian kepemimpinan terdapat dua hal yang dominan yaitu mempengaruhi dan saling mempengaruhi. Atas dasar itu dapatlah disusun definisi kepeminpinan yang mudah difahami, yaitu rangkaian kegiatan penataan  berupa kemampuan mempengaruhi prilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.



B.         Pengertian Kepemimpinan Islam
            Dalam Islam istilah kepemimpinan dikenal dengan istilah khilafah, imamah, dan ulil amri juga ada istilah ra’in. Kata khalifah mengandung makna ganda. Di satu pihak khalifah diartikan diartikan sebagai kepala negara dalam pemerintahan dan kerajaan islam di masa lalu, yang dalam konteks kerajaan pengertiannnya sama dengan sulthan. Selain itu dikenal pula istilah khalifatur Rasul atau khalifatun nubuwwah yaitu pengganti Nabi sebagai pembawa risalah atau syariat, memberantas kedhaliman dan menegakkan keadilan. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwasanya tidak sekedar menunjuk pada para khalifah pengganti Rasulullah, tetapi adalah penciptaan              manusia yang diberi tugas untuk memakmurkan bumi. Tugasnya adalah menyeru dan menyuruh orang lain berbuat amar ma’ruf nahi munkar.
            Dalam surat Yunus ayat 4 dijelaskan bahwa perbuatan manusia yang disebut kepemimpinan tidak pernah lepas dari perhatian dan penilaian Allah. Oleh karena itu secara spiritual kepemimpinan harus diartikan sebagai kemampuan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah baik secara bersama-sama maupun perseorangan. Kepemimpinan dalam arti spiritual tiada lain daripada ketaatan atau kemampuan mentaati perintah dan larangan Allah dan RasilNya dalam semua aspek Kehidupan. Dalam pengertian spiritual ini kita dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan Islam secara mutlak adalah bersumber dari Allah yang telah menjadikan manusia sebagi khalifah di bumi sehingga dimensi control tidak terbatas pada interaksi antara yang memimpin dengan yang dipimpin, tetapi baik antara pemimpin dan yang dipimpin harus sama-sama mempertanggung jawabkan amanah yang diembannya sebagai seorang khalifah di bumi.
            Secara empiris kepemimpinan merupakan proses, yang berisi rangkaian kegiatan yang saling mempengaruhi, berkesinambungan dan terarah pada satu tujuan. Rangkaian kegiatan itu berwujud kemampuan mempengaruhi dan mengarahkan perasaan dan pikiran  orang lain agar bersedia melakukan sesuatu yang diinginkan pemimpin dan terarah pada  tujuan yang telah disepakati bersama.
C.        Dasar Konseptual Kepemimpinan Perspektif Islam
Dalam memahami dasar konsep kepemimpinana perspektif islam ada tiga pendekatan yang digunakan yaitu: pendekatan normative, pendekatan historis dan pendekatan teoretik.
1.      Pendekatan Normatif
Normatif adalah peraturan yang mengatur tentang baik buruknya perbuatan berdasarkan norma yang berlaku. Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Menurut Lubis (2011) Pendekatan normatif adalah sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek norma-norma dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah.
Dasar konseptual kepemimpian Islam secara normative bersumber pada al-Qur’an dan Hadits yang terbagi atas empat prinsip pokok ,
-          Prinsip tanggung jawab
Memahami makna tanggung jawab adalah substansi utama yang harus difahami oleh seorang pemimpin agar dapat menjalankan amanh yang diberikan kepadanya.
-          Prinsip etika tauhid
Kepemimpinan islam harus dikembangkan di atas prinsip-prinsip etika tauhid. Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim, karena bagaimanapun akan mempengaruhi kualitas keberagamaan rakyatnya.
-          Prinsip kesederhanaan
Sebagai seorang pemimpin harus bersikap sederhana dan mementingkan pengabdiannya terhadap masyarakat.
-          Prinsip keadilan
Untuk menjaga keseimbangan kepemimpinan, maka keadilan harus benar-benar dijaga agar tidak muncul stigma-stigma ketidakadilan seperti kelompok marginal dll.

2.      Pendekatan historis
Historis adalah suatu ilmu yang membahas berbagai peristiwa dengan menggunakan unsur-unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan perilaku dari peristiwa tersebut. Pendekatan historis adalah salah satu upaya memahami agama dengan menumbuhkan perenungan untuk memperoleh hikmah dengan cara mempelajari sejarah nilai-nilai Islam yang berisikan kisah dan perumpamaan.
            Al-Qur’an begitu kaya akan kisah-kisah umat masa lalu sebagai pelajaran dan bahan perenungan bagi umat yang akan dating.  Dengan pendekatan historis ini diharapkan akan lahir output pemimpin islam yang memiliki sifat-sifat pemimpin yang ideal. Al Quran terdiri dari dua bagian yaitu tentang konsep-konsep dan kisah sejarah perumpamaan. Dari sejarah perumpamaan inilah seseorang bisa mengambil hikmah.

3.      Pendekatan teoritis
            Ideology Islam adalah ideology yang terbuka. Hal ini mengandung arti walaupun dasar-dasar konseptual yang ada di dalam bangunan ideology islam sendiri sudah sempurna namun Islam tidak menutup kesempatan mengomunikasikan ide-ide dan pemikiran-pemikiran dari luar Islam selama pemikiran tersebut tidak bertentangan  dengan al-Qur’an dan Hadits.

D.    Pribadi Seorang  Pemimpin Yang Ideal
a.       Perspektif al-Qur’an
Dalam suatu riwayat Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab : akhlak Rasul adalah al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang akhlak mulia seorang pemimpin.
Berpengetahuan luas, kreatif, inisiatif, peka, lapang dada, selalu tanggap. Hal ini di jelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat : 11
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Adil, jujur, dan konsekuen. Dalam surat an-Nisa ayat 58 :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Bertanggung jawab. Dalam surat al-An’am ayat 164
Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
Dapat menjaga amanah dan kepercayaan orang lain. Dalam surat al-Baqarah ayat 166
 (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.s
 Ikhlas dan memiliki semangat pengabdian.[4]Dalam surat al-baqarah ayat 245
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. 
Memberikan petunjuk dan pengarahan. Dalam Surat as-Sajdah ayat 24
 Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.
Suka bermusyawarah. Dalam surat Ali Imran ayat 159 
 Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itU. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

b.      Perspektif Hadits
 Zuhud terhadap kekuasaan
“Kami tidak mengangkat orang yang berambisi kedudukan”. (HR. Muslim)
Memiliki visi keumatan
“Ka’ab bin Iyadh ra bertanya : Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya itu tergolong fanatisme ?, Nabi Menjawab : Tidak, fanatisme adalah bila seseorang mendukung kaumnya atas suatu kedhaliman. (HR. Ahmad).

E.     Kepemimpinan Islam di Indonesia
1.  Formal
            Memasuki masa awal kemerdekaan Indonesia, kepemimpinan Islam masih memiliki peranan yang sangat kuat. Hal ini bisa kita buktikan dengan tercantumnya kalimat kewajiban menjalankan syariat Islam di dalam piagam Jakarta yang dengan keiklasan hati demi menjaga ikatan persatuan nasional, para pemimpin Islam rela menghapus kalimat tersebut dari dasar Negara republic Indonesia. Namun jika kita lihat mukaddimah UUD 1945 maupun pancasila sila pertama di dalamnya warna Islam sangatlah kental . kepemimpinan soekarno-Hatta mendapat legitimasi dari masyarakat Islam juga disebabkan faktor dukungan dari tokoh-tokoh Islam yang dengan setia memback-up perjuangan mereka dengan segala cara. Bukti lagi lain dari begitu berperannya umat Islam pada masa-masa awal berdirinya Indonesia adalah dengan mendirikannya majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai wadah aspirasi politik Indonesia. Di bawah naungan MASYUMI bersatu seluruh golongan umat Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, PSI dan Petti. Selain itu banyak kerajaan Islam yang berdiri di Indonesia pada awal masuknya Islam di Indonesia yang diawali dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai.
2. Non Formal
            Umat Islam di Indonesia masih memandang sosok ulama’ di Indonesia sebagai pemimpin-pemimpin nonformal dengan wilayah kepemimpinan yang bahkan melebihi pemimpin formal itu sendiri. Pada zaman revolusi kemerdekaan peran ulama’ sebagai pemimpin informal dalam mengarahkan proses perjuangan teramat kuat. Bahkan 99% perjuangan perjuangan yang dikobarkan di seluruh tanah air adalah perjuangan yang dipimpi oleh para ulama’ yang berjuang dengan keikhlasan hati.

F.      Model Kepemimpinan Rasulullah
            Pada masa kebangkitan peradaban, dimana Nabi Muhammad menjadi Rosululloh dimuka bumi ini, mengusung model kepemimpinan yang ditujukan untuk mengubah paradigma kepemimpinan tidak beradab. Model kepemimpinan Muhammad ditujukan bahwa pemimpin dan perangkat kepemimpinannya merupakan sosok yang membawa rakyat sebagai manusia yang merdeka dan beradab, serta sumberdaya alam dikelola untuk kesejahteraan manusia (rakyat). Sehingga seorang pemimpin sejatinya merupakan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan moral, serta memiliki kemampuan leadership untuk membawa rakyatnya mampu memanfaatkan potensi dirinya untuk mandiri dan bermanfaat bagi diri dan masyarakat, dan membawa rakyatnya mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki negaranya untuk kesejahteraan umum.
            Masa kebangkitan peradaban moral ini menyuguhkan model kepemimpinan yang ideal bagi kehidupan berbangsa di dunia, yang ditandai dengan penghapusan perbudakan, penghancuran rasdiskriminasi, pemeliharaan kekayaan negara yang diperuntukan untuk kesejahteraan msyarakat umum, penyelenggaraan lembaga keuangan yang menekankan kepada efisiensi penggunaan modal dan berkeadilan, serta mengedepankan pemerataan pendapatan melalui mekanisme zakat yang benar dan profesional dalam pengelolaannya, membangun mekanisme pasar komoditas yang terhindar dari kecurangan, dan memperlihatkan kecerdasan hubungan internasional yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam negeri dengan mengedepanlan kemandirian bangsa.
            Kepemimpinan Rasulullah tidak hanya menggunakan akal dan fisik, tetapi Beliau memimpin dengan kalbunya karena hati tidak akan pernah bisa disentuh kecuali dengan hati. Rasulullah menabur cinta kepada sahabatnya sehingga setiap orang bisa merasakan tatapannya dengan penuh kasih sayang, tutur katanya yang rahmatan lil alaamiin, dan perilakunya yang amat menawan. Seorang pemimpin yang hatinya hidup akan selalu merindukan kebaikan, keselamatan, kebahagiaan bagi yang dipimpinnya. Kepribadian sebagai pemimpin di dalam pola berpikir , bersikap dan berperilaku, merupakan pancaran isi kandungan Al-Qur’an sehingga sepatutnya diteladani. Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah memiliki lima sifat utama yang mulia , yaitu :
1. Siddiq(Benar).
            Sifat ini berarti Rasulullah SAW mencintai dan berpihak pada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT, sehingga seluruh pikiran, sikap dan emosi yang ditampilkan dalam perilaku, ucapan (sabda) dan diamnya beliau merupakan sesuatu pasti benar. Seluruh wahyu Allah SWT adalah sesuatu yang benar dan Rasulullah SAW hanya mengikuti apa yang diwahyukan pada beliau. Dalam kepemimpinan berarti semua keputusan, perintah dan larangan beliau, agar orang lain berbuat atau tidak berbuat sesuatu pasti benar, karena bermaksud mewujudkan kebenaran dari AllahSWT.

2. Amanah(Terpercaya)
            Sifat ini berarti bahwa Rasulullah SAW merupakan seseorang yang dapat dipercaya, karena mampu memelihara kepercayaan dengan merahasiakan sesuatu yang harus dirahasiakan dan sebaliknya selalu mampu menyampaikan sesuatu yang seharusnya disampaikan. Sesuatu yang harus disampaikan bukan saja tidak ditahan-tahan, tetapi juga tidak akan diubah, ditambah atau dikurangi. Demikianlah kenyataannya bahwa setiap firman selalu disampaikan Rasulullah SAW sebagaimana difirmankan Allah SWT kepada beliau.

3. Tabligh(Menyampaikan)
            Sifat ini sejalan dengan sifat amanah, meskipun yang dimaksud terutama sekali bukan terpercaya, tetapi memiliki kemampuan dalam menyampaikan atau mendakwahkan wahyu Allah SWT, sehingga jelas maksudnya dan dapat dimengerti. Dengan demikian semua wahyu yang disampaikan dijadikan juga sebagai pedoman beliau dalam kehidupan, sehingga setiap perilaku beliau merupakan bagian dari dakwah mengenai petunjuk dan tuntunan Allah SWT.

4 . Fatanah(Pandai)
            Sifat ini berarti Allah SWT pasti mendekati Rasulullah SAW dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Kecerdasan itu tidak saja diperlukan untuk memahami dan menjelaskan wahyu Allah SWT seperti tersebut di atas. Kecerdasan dibekalkan juga karena beliau mendapat kepercayaan Allah SWT untuk memimpin umat, karena agama Islam diturunkan adalah untuk semua manusia dan sebagai rakhmat bagi alam semesta. Oleh karena itu hanya pemimpin yang cerdas akan mampu memberikan petunjuk, nasihat, bimbingan, pendapat dan pandangan bagi umatnya, dalam memahami firman-firman Allah SWT.

5. Maksum(Bebas dari Dosa)
            Sifat ini berarti Rasulullah SAW merupakan seseorang yang berakhlaq mulia, yang tidak mungkin ditipu dan disesatkan setan yang terkutuk. Dengan demikian Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling sempurna dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. Kondisi ini dijadikan Rasulullah SAW sebagai manusia yang bebas dari dosa, baik dalam berpikir, bersabda (bertutur kata) atau diamnya jika ditanya, maupun dalam berperilaku setiap saat beliau menjalankan kepemimpinan bagi umatnya.
 Perkembangan kepemimpinan di Dunia saat ini, terlebih di Indonesia cenderung    mengabaikan model kepemimpinan yang telah disuguhkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahkan cenderung kepemimpinan Muhammad hanya dijadikan literatur ideal dan sebagai gambaran hayali yang tidak perlu dicapai. Kehidupan berbangsa pada masa modern lebih memilih model teori kepemimpinan yang ditawarkan oleh ilmuwan ketatanegaraan  modern meskipun teori tersebut banyak memiliki kelemahan dalam praktiknya. Seolah model kepemimpinan Muhammad SAW bukan produk ilmiah, karena tidak termasuk kepada teori hasil pemikiran tokoh/ilmuan ternama. Sehingga pilihan lebih tertuju kepada model kepemimpinan yang memiliki cacat dan keraguan dalam mensejahterakan kehidupan berbangsa.
Bahkan di Indonesia semakin lama para pemimpin dan wakil rakyat semakin tidak perduli terhadap masyarakat terutama masyarakat miskin. Melihat realita yang ada bahkan para wakil rakyat semakin jelas mempertontonkan gaya hidup mereka yang serba mewah, sedangkan banyak rakyat miskin yang semakin kesulitan.





BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
            Dalam Islam istilah kepemimpinan dikenal dengan istilah khilafah, imamah, dan ulil amri juga ada istilah ra’in. Kata khalifah mengandung makna ganda. Di satu pihak khalifah diartikan diartikan sebagai kepala negara dalam pemerintahan dan kerajaan islam di masa lalu, yang dalam konteks kerajaan pengertiannnya sama dengan sulthan. Selain itu dikenal pula istilah khalifatur Rasul atau khalifatun nubuwwah yaitu pengganti Nabi sebagai pembawa risalah atau syariat, memberantas kedhaliman dan menegakkan keadilan.
Dalam memahami dasar konsep kepemimpinan perspektif islam ada tiga pendekatan yang digunakan yaitu: pendekatan normative, pendekatan historis dan pendekatan teoretik.
Dalam kepemimpinan islan ada beberapa pribadi pemimpin yang ideal yang harus kita miliki yaitu:
Ø  Berpengetahuan luas, kreatif, inisiatif, peka, lapang dada, selalu tanggap. Hal ini di jelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat : 11
Ø  Adil, jujur, dan konsekuen. Dalam surat an-Nisa ayat 58
Ø  Bertanggung jawab. Dalam surat al-An’am ayat 164
Ø  Dapat menjaga amanah dan kepercayaan orang lain. Dalam surat al-Baqarah ayat 166
Ø  Ikhlas dan memiliki semangat pengabdian.[4]Dalam surat al-baqarah ayat 245
Ø  Memberikan petunjuk dan pengarahan. Dalam Surat as-Sajdah ayat 24
Ø  Suka bermusyawarah. Dalam surat Ali Imran ayat 159 
Begitu juga dengan kepemimpinan Rasulullah tidak hanya menggunakan akal dan fisik, tetapi Beliau memimpin dengan kalbunya karena hati tidak akan pernah bisa disentuh kecuali dengan hati. Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah memiliki lima sifat utama yang mulia , yaitu :
1. Siddiq (Benar) 2. Amanah (Terpercaya) 3. Tabligh (Menyampaikan) 4 . Fatanah (Pandai) 5. Maksum (Bebas dari Dosa)
B.     Saran
Seorang Pemimpin dalam persepektif Islam harus mempunyai empat prinsip yaitu prinsip tanggung jawab dalam organisasi yang mana dalam islam telah digariskan bahwa setiap diri adalah pemimpin ,dan dituntut untuk bertanggung jawab,ke dua pemimpin harus mempunyai prinsip etika tauhit yang mana telah dijelaskan dalam firman allah dalam surat Ali Imran(3)Ayat: 118, ketiga pemimpin harus mempunyai Prinsip Keadilan untuk menjaga keseimbanagan kepentingan bersama  yang mana dijelaskan dalam firman allah dalam surat Shaad(38) Ayat:26 dan yang ke empat pemimpin harus mempuyai prinsip kesederhanaan yang mana dalam firman Allah berbunyi seorang Pemimpin itu harus melayani dan tidak meminta untuk dilayani.






DAFTAR PUSTAKA

Al-Quranu Al-Karim dan Terjemahannya
Ilmutuhan.blogspot.com/2011/03/ pendekatan-studi-islam-perspektif. html// Grms.multiply.com/journal/item/19. diakses pada tanggal 24 Maret 2014
Lubis, adi mansah. 2011. Studi Islam dengan Pendekatan Normatif. http://bujangsetia.blogspot.com/2011/11/makalah-studi-islam-dengan-pendekatan.html. diakses pada tanggal 24 Maret 2014
Rivai, Veithzal dan Mulyadi, Deddy. 2012. Kepemimpinan dan prilaku Organisasi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Sarjoko. 2010. Pendekatan Historis Dalam Studi Islam http://nawawielfatru.blogspot.com. diakses pada tanggal 24 Maret 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar