Rabu, 12 September 2018

UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN GURU MELALUI SISTEM REWARD DAN FUNISHMENT GUNA MENUNJANG EFEKTIVITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMP N 16 BENGKULU



PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH



UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN GURU MELALUI SISTEM REWARD DAN FUNISHMENT GUNA MENUNJANG EFEKTIVITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR
DI SMP N 16 BENGKULU

Disampaikan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
Menempuh Mata Kuliah Inovasi Pengelolaan Pendidikan
Program Studi Magister Administrasi Pendidikan
PPs FKIP Universitas Bengkulu Semester 2 Tahun Akademik 2013/1014
Dosen Dr. Osa Juarsa, M.Pd


 





Oleh

JON SASTRO
A2K012115

PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2013
ABSTRAK

Upaya Peningkatkan Disiplin Guru Melalui Sistem Reward Dan Funishment Guna Menunjang Efektivitas Proses Belajar Mengajar Di SMP N 16 Kota Bengkulu

Penelitian ini dilatarbelakangi kendala yang ditemukan terhadap guru yang kurang disiplin waktu ternyata disebabkan oleh beberapa hal diantaranya letak geografis, dan kesibukan di rumah misalnya ada yang harus mengantarkan anaknya dulu, memasak (guru perempuan).faktor jarak tempat tinggal guru dengan sekolah rata-rata di atas 10 km, ditambah transportasi umum yang tidak terjangkau sampai ke rumah mereka. Guru yang tidak memiliki kendaraan pribadi merasa kesulitan. Hal ini berdampak terjadinya guru kesiangan. Begitu pula dengan jam-jam terakhir, Belum lagi kalau cuacanya buruk, sehingga guru malas untuk ke sekolah. Hal ini berdampak pada stabilitas sekolah seperti alokasi waktu pelajaran jadi berkurang, siswa berkeliaran di lingkungan sekolah, otomatis prestasi belajar siswa rendah.
Dengan tujuan pada persoalan disiplin waktu dan disiplin guru dalam melakukan persiapan administrasi pembelajaran sehingga dengan adanya disiplin sebagaimana disebutkan di atas maka diharapkan akan dapat meningkatkan keluaran hasil proses belajar mengajar siswa. Dengan demikian harus dilakukan satu solusi yang tepat agar kegiatan belajar mengajar menjadi fleksible dan terarah, yaitu dengan upaya peningkatkan disiplin guru melalui sistem reward dan funishment guna menunjang efektivitas proses belajar mengajar di SMP N 16 Kota Bengkulu, digunakan metode penelitian tindakan sekolah dengan dua siklus yang masing-masing siklusnya terdiri dari tahap (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan perbaikan, (3) observasi, dan (4) refleksi.

Kata Kunci: Disiplin Guru, Reward Dan Funishment



KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahim

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur dengan ucapan Alhamdulillah Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. atas segala bimbingan dan rahmat-Nya Penulis telah menyelesaikan laporan Penelitian Tindakan Sekolah dengan judul “Upaya Peningkatkan Disiplin Guru Melalui Sistem Reward Dan Funishment Guna Menunjang Efektivitas Proses Belajar Mengajar Di SMP 16 Kota Bengkulu.” .
Penelitian ini dilatarbelakangi kendala yang ditemukan terhadap guru yang kurang disiplin waktu ternyata disebabkan oleh beberapa hal diantaranya letak geografis, dan kesibukan di rumah misalnya ada yang harus mengantarkan anaknya dulu, memsak (guru perempuan).faktor jarak tempat tinggal guru dengan sekolah rata-rata di atas 10 km, ditambah transportasi umum yang tidak terjangkau sampai ke rumah mereka. Guru yang tidak memiliki kendaraan pribadi merasa kesulitan. Hal ini berdampak terjadinya guru kesiangan. Begitu pula dengan jam-jam terakhir, Belum lagi kalau cuacanya buruk, sehingga guru malas untuk ke sekolah. Hal ini berdampak pada stabilitas sekolah seperti alokasi waktu pelajaran jadi berkurang, siswa berkeliaran di lingkungan sekolah, otomatis prestasi belajar siswa rendah.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan PTS ini tidak menutup kemungkinan masih terdapat kekurangan dari berbagai segi, mungkin sistematikanya, mungkin isinya, maupun segi kebahasaannya. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca umumnya sangat penulis harapkan. Betapapun begitu, penulis tetap berharap laporan PTS ini bisa memberikan kontribusi kepada dunia pendidikan umumnya dan khususnya kepada kepala sekolah serta guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah.
Wassalamualaikum wr.mb


Bengkulu,      Desember 2013

Penulis















DAFTAR ISI

ABSTRAK ..............................................................................................................  I
KATA PENGANTAR............................................................................................ III
DAFTAR ISI ...........................................................................................................  V

BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang .............................................................................................. 1
B.     identifikasi Masalah ...................................................................................... 6
C.     pembatasan Masalah ..................................................................................... 6
D.    Perumusan Masalah ...................................................................................... 7
E.     Tujuan Penelitian........................................................................................... 7
F.      Manfaat Penelitian......................................................................................... 7

BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A.    Disiplin Guru ............................................................................................... 11
B.     Sistem Reward dsn Funishment.................................................................... 14
C.     Kegiatan Proses Belajar Mengajar................................................................. 15
D.    Deskripsi Kondisi Sekolah............................................................................. 19

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A.    Subjek Penelitian........................................................................................... 25
B.     Setting Penelitian........................................................................................... 25
C.     Waktu Penelitian............................................................................................ 26
D.    Teknik Pengumpulan Data............................................................................. 26
E.     Instrument Penelitian..................................................................................... 26
F.      Rencana Tindakan......................................................................................... 28
G.    Rencana Penelitian......................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 31

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup baik yang bersifat manual individual maupun sosial (Sagala, 2006 : 1). Upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa tersebut dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk. Ada yang diselenggarakan secara sengaja, terencana, terarah dan sistematis seperti pada pendidikan formal, ada yang diselenggarakan secara sengaja, akan tetapi tidak terencana dan tidak sistematis seperti yang terjadi di lingkungan keluarga (pendidikan informal), dan ada yang diselenggarakan secara sengaja dan berencana, di luar lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan formal, yaitu melalui pendidikan non formal.
Apapun bentuk penyelenggarannya, secara umum pendidikan bertujuan untuk membantu anak-anak atau peserta didik mencapai kedewasaannya masing-masing, sehingga mereka mampu berdiri di lingkungan masyarakatnya. Untuk masyarakat kita, sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, pendidikan berfungsi dan bertujuan sebagai berikut : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Agar pendidikan bisa berfungsi dan mencapai tujuan seperti dirumuskan dalam undang-undang tersebut, maka pendidikan harus ”diadministrasikan”, atau dikelola dengan mengikuti ilmu administrasi. Yang paling sederhana, administrasi menurut Henry Fayol diartikan sebagai fungsi dalam organisasi yang unsur-unsurnya adalah perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemberian perintah (commanding), pengkoordinasian (coordinating), dan pengawasan (controlling) (Sagala, 2006 : 23).
Pada level ujung tombak pendidikan, yaitu pada proses pembelajaran oleh guru di kelas, betapapun administrasinya tidak serumit organisasi yang melibatkan banyak personal, fungsi-fungsi administrasi yang disebutkan Henry Fayol tersebut sebaiknya tetap ada, sebab tanpa itu pencapaian tujuan pembelajaran akan susah dicapai. Dalam kaitannnya dengan fungsi-fungsi administrasi ini, lebih spesifik dalam hal proses belajar mengajar, Gage dan Berliner dalam Makmun (2005 : 23) mengemukakan tiga fungsi atau peran guru dalam proses tersebut, yaitu sebagai :
a.       Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang harus dilakukan di dalam proses belajar-mengajar (pre-teaching problems).
b.      Pelaksana (organizer) yang harus menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, bertindak sebagai nara sumber (source person), konsultan kepemimpinan (leader), yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
c.       Penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement) atas tingkat keberhasilan belajar mengajar tersebut berdasarkan kriteria yang ditetapkan baik mengenai aspek keefektifan prosesnya, maupun kualifikasi produk (output)-nya.
Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui proses edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode.
Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus untuk itu. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi). Dengan keahliannya itu seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik secara pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.
Di samping dengan keahliannya, sosok professional guru ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru professional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, Negara, dan agamanya.
Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, social, intelektual, moral, dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya. Tanggung jawab social diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk yang beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dam moral.
Terkait dengan norma maka salah satunya adalah norma yang terkait dengan ketentuan waktu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab profesinya. Kapan dia harus mulai masuk, dan keluar berapa lama melaksanakan proses belajar mengajar dan sebagainya, yang kesemuanya itu musti ditaati sebagai salah satu ciri dari guru yang profesional yang memiliki sifat disiplin dalam penggunaan waktu.
Waktu juga merupakan salah satu “modal” kerja yang sangat terbatas, sehingga harus digunakan secara efisien. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penggunaan waktu dimasyarakat khususnya di SMP N 16 Kota Bnegkulu belum efisien. Bahkan banyak kebiasaan yang membuang - buang waktu. Misalnya pada jam pertama masuk kegiatan belajar mengajar (KBM) jam 07.30 WIB, akan tetapi guru ataupun siswa tidak siap, mereka sepertinya tidak bisa masuk tepat jam 07.30, walaupun ada beberapa guru/siswa bisa masuk tepat jam 07.30, namun itupun tidak stabil, sehingga hal ini berdampak pada stabilitas sekolah.
Memang salah satu faktor penyebab nya adalah 70% jarak tempat tinggal guru dengan sekolah rata-rata di atas 10 km, ditambah transportasi umum yang tidak terjangkau sampai ke rumah mereka. Guru yang tidak memiliki kendaraan pribadi merasa kesulitan. Hal ini berdampak terjadinya guru kesiangan. Begitu pula dengan jam-jam terakhir, Belum lagi kalau cuacanya buruk, sehingga guru malas untuk ke sekolah. Hal ini berdampak pada stabilitas sekolah seperti alokasi waktu pelajaran jadi berkurang, siswa berkeliaran di lingkungan sekolah, otomatis prestasi belajar siswa rendah.
Sebagai pimpinan tertinggi di sekolah, kepala sekolah harus mampu mengelola waktu secara efisien, baik untuk tugas-tugas sendiri maupun untuk sekolah secara keseluruhan. Sehingga keluhan kegiatan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Kebiasaan menggunakan waktu yang produktif oleh kepala sekolah diharapkan dapat menjadi contoh bagi guru, staf administrasi, maupun siswa. Disamping itu perlu menyusun rencana penggunaannya serta pemanfaatan waktu kerja hendaknya di prioritaskan pada kegiatan pengajaran, pembinaan kesiswaan, & pengembangan profesional lainnya di bidang kegiatan lain yang bersifat administratif.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang akan dituangkan dalam sebuah bentuk tulisan laporan penelitian tindakan sekolah dengan judul “ Upaya Peningkatan Disiplin Guru Melalui Sistem Reward and Funishment Guna Menunjang Efektivitas Proses Belajar Mengajar di SMP N 16 Kota Bengkulu”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diungkapkan di atas, masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.      Guru SMP N 16 Kota Bengkulu belum memiliki disiplin waktu
2.      Guru SMP N 16 Kota Bengkulu belum memiliki disiplin dalam melaksanakan persiapan administrasi pembelajaran
3.      Keluaran hasil pembelajaran siswa masih belum mencapai nilai yang optimal

C. Pembatasan Masalah
Disiplin guru merupakan permasalahan yang sangat luas dan menyangkut berbagai dimensi persoalan. Agar lebih terarah dalam melaksanakan penelitian ini maka penulis membatasi permasalahan disiplin ini hanya pada persoalan disiplin waktu dan disiplin guru dalam melakukan persiapan administrasi pembelajaran sehingga dengan adanya disiplin sebagaimana disebutkan di atas maka diharapkan akan dapat meningkatkan keluaran hasil proses belajar mengajar siswa.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah penerepan sistem reward dan funishment dapat meningkatkan disiplin guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar ?
2.      Apakah disiplin guru memiliki pengaruh terhadap efektifitas kegiatan proses belajar mengajar ?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitan ini adalah untuk mengetahui :
1.      Agar ditemukan cara terbaik dalam peningkatan disiplin guru sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil proses belajar mengajar
2.      Terciptanya kegiatan proses belajar mengajar yang efektif

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Kepala Sekolah
a.       Ditemukannya suatu cara dalam meningkatkan displin guru guna meningkatakan hasil proses pembelajaran
b.      Terciptanya kegiatan proses belajar mengajar yang efektif
c.       Ketertiban sekolah akan menjadi lebih baik
2. Manfaat Bagi Guru dan Siswa
a.       Semakin meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab profesi
b.      Semakin memahami pentingnya disiplin dalam melaksanakan tugas profesi guna meningkatakan hasil proses belajar mengajar
c.       Kegiatan proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik sehingga target kurikulum dapat tercapai tepat pada waktunya




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Untuk dapat memecahkan masalah, menuju penyusunan kerangka berfikir penelitian, maka diperlukan teori-teori yang relevan dengan penelitian ini misalnya dikatakan Setjadin,B dan Burhanudin tahun 1966 dalam bukunya yang berjudul Manajemen Waktu Bahwa” waktu adalah sumber daya terpenting dan merupakan salah satu modal kerja yang sangat terbatas, sehingga harus digunakan secara efisien”. Begitu pula kita sering mendengar kalimat yang mengungkapkan bahwa waktu adalah uang (time is money). Bahkan tidak hanya sekedar teori, tuntunan umat islam adalah al-qur’an, dalam qs.Al Asr mengatakan “demi waktu sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh”. Jadi Waktu bagi umat islam adalah ibadah. Oleh karena itu jelaslah bahwa penggunaan waktu secara produkrif dan efisien harus merupakan kebiasaan dan dijadikan suatu budaya.
Kepala sekolah merupakan personel sekolah yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan sekolah, ia mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya dengan dasar Pancasila dan bertujuan untuk :
a.       meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
b.      meningkatkan kecerdasan dan keterampilan,
c.       membertinggi budi pekerti,
d.      memperkuat kepribadian,
e.       mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air
Kegiatan kegiatan sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah diantaranya : (1) Kegiatan mengatur proses belajar mengajar, (2) Kegiatan mengatur kesiswaan, (3) Kegiatan mengatur personalia, (4) Kegiatan mengatur dan memelihara gedung dan perlengkapan sekolah, (5) Kegiatan mengatur keuangan, dan (6) kegiatan mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah mempunyai fungsi : (1) perumus tujuan kerja dan pengambil kebijaksanaan sekolah, (2) pengatur tata kerja (mengorganisasi) sekolah yang mencakup : pembagian tugas dan wewenang, mengatur petugas pelaksana, menyelenggarakan kegiatan (mengkoordinasi), dan (3) pensupervisi kegiatan sekolah yang meliputi mengawasi kelancaran kegiatan, mengarahkan pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan, membimbing dan menginkatkan kemampuan pelaksana dan sebagainya.
Atas dasar tugas dan fungsi kepala sekolah tersebut maka sudah seyogyanya kepala sekolah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas sekolahnya terutama kualitas pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar guru. Salah satu upaya guna meningkatkan kualitas sekaligus efektivitas pembelajaran itu diantaranya melalui peningkatan disiplin guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.



A. Disiplin Guru
1. Pengertian disilpin
Banyak sekali dari kita yang mengerti dan paham disiplin tapi ketika ditanya tentang arti disiplin mereka agak kebingungan. Disiplin diri adalah sikap patuh kepada waktu dan peraturan yang ada. Dari pengertian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa disiplin itu mengandung dua makna yaitu patuh waktu dan juga peraturan atau tata tertib ataupun norma
Patuh pada waktu, tentunya kita sering mendengar kata disiplin waktu. Disiplin memiliki arti demikian ketika kita dihadapkan pada waktu dalam melakukan sesuatu artinya dalam melakukan sesuatu tersebut kita memiliki sebuah tanggungjawab kepada waktu. Contoh realnya seperti ini, sebagai pelajar kita tentu mengetahui jam masuk sekolah kita sehingga kita sebisa mungkin untuk datang ke sekolah lebih awal agar tidak terlambat. Dari contoh tersebut kita dapat mengetahui kalau seorang pelajar yang disiplin itu memiliki tanggung jawap pada waktu yang berupa jam masuk sekolah.
Patuh pada tata tertib atau peraturan, di sekolah sebagai pelajar tentunya kita telah mengetahui tata tertib sekolah. Di lingkungan masyarakat kita juga telah mengenal itu norma. Di dalam keluarga juga dapat di temui sebuah aturan meskipun biasa tak tertulis. Disiplin memiliki arti demikian ketika dihadapkan kepada peraturan peraturan atau tata tertib saat ingin melakukan sesuatu. Setiap peraturan itu bersifat mengikat artinya siapapun yang berada pada lingkungan yang memiliki suatu peraturan secara tidak langsung orang tersebut memiliki tanggung jawab pada peraturan tersebut. Ketika orang tersebut mematuhi peraturan tersebut maka ia telah bersikap disiplin dan ketika berbuat sebaliknya dia telah berbuat tidak disiplin dan akan dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Kedua makna ini harus dipenuhi oleh setiap orang jika ingin disebut telah memiliki sikap disiplin diri. Sikap disiplin diri ini merupakan sebuah sikap kebiasaan, artinya sesorang yang telah terbiasa disiplin akan mudah untuk berlaku disiplin dimanapun dia berada tetapi ketika seseorang tersebut tidak terbiasa maka dia juga akan sulit untuk berlaku disiplin dimanapun itu.
2. Ruang lingkup displin
Sukses adalah hasil dari berbagai aspek seperti kerja keras, kepandaian, rencana dan pelaksanaan yang hati-hati, serta, sedikit keberuntungan. Di samping itu, sukses juga ditentukan oleh displin atau tidaknya seseorang meraih segala sesuatu dan ‘meletakkan sesuatu di tempat yang layak’.
Tanpa disiplin, seseorang tak akan mampu menyelesaikan segala apa yang telah direncanakannya. Dia tak akan mampu melakukan sebuah strategi secara berkesinambungan untuk meraih tujuan jika tidak punya disiplin. Disiplinlah yang membuat kita berada on track, tak peduli seberapa berat yang dihadapi. Orang yang disiplin tahu apa saja yang perlu dilakukan dan berfokus pada hal itu.
1. Dimulai pagi hari
Sebetulnya, disiplin tidak usah dibicarakan terlalu muluk. Secara sederhana, sejak pagi dimulai, kedisiplinan tanpa sadar sudah menyertai. Bangun pukul sekian, mandi, kemudian berangkat dari rumah, adalah contoh kecil tentang disiplin. Banyak orang sukses akan setuju bila faktor disiplin disertakan sebagai salah satu resep keberhasilan mereka. Bila kita bangun dengan kaki yang salah misalnya, sebagai akibatnya kita merasa tidak enak badan, bisa dipastikan bahwa hari itu kita akan lebih tidak produktif ketimbang hari-hari di mana segala sesuatunya berjalan lancar.
Kiat penting untuk mengoptimalkan pagi hari adalah dengan membuat semacam rutinitas kecil. Bangunlah di waktu-waktu yang sama – misalnya pukul 5-6 pagi (bukannya bisa bangun jam lima, bisa juga jam sepuluh nanti), dan kerjakan hal hal kecil yang efisien, seperti menyiapkan pakaian, atau memanaskan mobil, dan sebagainya. Jangan lupa pula sarapan pagi untuk memberi energi.
2. Optimalkan waktu kerja
Disiplin tak terlepas dari optimalisasi waktu kerja. Kalau di waktu kerja kita cenderung bermalas-malasan, menunda pekerjaan, dan sebangsa, kapan kesuksesan itu bakal muncul? Singgah saja pun jangan-jangan tak sudi. Untuk itu, agar kedisiplinan kita berjalan teratur, buatlah daftar tugas setiap hari. Kita bisa membaginya dalam beberapa periode, tergantung dari rutinitas atau proyek yang sedang dikerjakan. Dengan menuliskan manajemen waktu, kita bisa membayangkan segala tujuan, dan kemudian mengukur efisiebsi kerja kita sendiri. Selain itu, kita juga bisa tahu sebanyak apa kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek tertentu. Dengan melihat hasilnya, kita juga bisa tahu apakah target yang kita tentukan itu gagal atau tidak. Kalau iya, apakah hal itu disebabkan rencana yang tidak layak, atau karena terinterupsi oleh orang lain, atau karena kita sendiri yang tidak disiplin mengerjakan tugas sesuai jadwal.


B. Sistem Reward dan Funishment
Telah banyak diungkapkan para akhli tentang bagaimana cara meningkatkan dan atau mengembangkan sumber daya manusia termasuk guru sebagai sumber daya manusia yang memiliki peran penting dalam mengubah potret bangsa ini. Pendekatan yang dapat dilakukan oleh seorang pemimimpin seperti kepala sekolah dapat dikelompokan menjadi tiga jenis pendekatan saja, yaitu : persuasip, compulsari, dan coursion.
Dari ketiga jenis pendekatan tersebut yang paling banyak diterapkan oleh para kepala sekolah adalah pendekatan secara persuasif, diantaranya dalam penegakkan disiplin guru diterapakan dengan teknik reward dan funisment.
Reward merupakan pemberian penghargaan kepada guru yang telah dapat melakukan atau menunjukkan prestasi kerja yang memuaskan terutama dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Reward yang diberikan dapat berupa materi ataupun non materi seperti pujian atau dijadikannya sebagai contoh teladan bagi guru yang lain. Reward berupa materi dapat berupa penambahan insentif, penambahan jumlah transport dan sebagainya.
Namun pada kondisi tertentu kepala sekolah perlu juga menerapkan pendekatan secara coursion atau pemaksaan yakni apabila dipandang guru itu telah keluar dari batas-batas kewajaran misalnya terlalu sering meninggalkan tugas, dan lain-lain. Penerapan pendekatan ini misalnya dengan memberikan sanksi atau teguran kepada guru itu yang berpedoman kepada Undang-Undang Disiplin Pegawai Nomor 30 Tahun 1980.

C. Kegiatan Proses Belajar Mengajar
1. Pengertian Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar merupakan bagian dari kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Kegiatan pendidikan itu pada dasarnya kegiatan mempengaruhi orng lain yang dilakukan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa, sehingga yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dari tidak baik menjadi baik, yang akan berguna bagi peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebutuhannya
2. Kriteria/ Indikator Keberhasilan Proses Belajar Mengajar
Beberapa faktor yang dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan guru dalam kegiatan proses belajar mengajar adalah tercermin dalam keluaran hasil belajar diantaranya seperti telah diungkapkan di atas. Secara garis besar dapat diungkapkan bahwa salah satu indikator keberhasilan dalam kegiatan proses belajar mengajar itu adalah terjadinya perubahan pada diri peserta didik. Perubahan tersebut mencakup perubahan aspek pengetahuannya (Cognetif), aspek sikap (afektif), dan aspek keterampilannya (psikomotorik).
3. Faktor – faktor yang memperngaruhi keberhasilan Proses Belajar Mengajar
Masalah kegiatan proses belajar mengajar merupakan masalah yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor yang saling terkait satu sama lain. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi proses dan hasil proses belajar mengajar; terdapat dua faktor yang sangat menentukan, yaitu faktor guru sebagai subjek pembelajaran dan faktor peserta didik sebagai objek pembelajaran. Tanpa ada faktor guru dan peserta didik dengan berbagai potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki, tidak mungkin proses proses belajar mengajar di kelas atau di tempat lain dapat berlangsung dengan baik. Namun, pengaruh berbagai faktor lain tidak boleh diabaikan, misalnya faktor media dan instrumen pembelajaran, fasilitas belajar, infrastruktur sekolah, fasilitas laboratorium, manajemen sekolah, sistem pembelajaran dan evaluasi, kurikulum, metode dan strategi pembelajaran, dan sebagainya (Arief, 1989).
Kesemua faktor-faktor di luar faktor guru dan peserta didik tersebut berkontribusi berarti dalam meningkatkan kualitas dan hasil proses belajar mengajar di kelas dan tempat belajar lainn Fasilitas belajar yang tersedia dalam jumlah memadai di suatu sekolah atau lembaga pendidikan juga memberikan sumbangan yang besar dalam membantu memfasilitasi guru dan peserta didik di kelas atau di tempat belajar lainnya dalam menyukseskan proses belajar mengajar. Tanpa ada fasilitas belajar yang tersedia dalam jumlah yang memadai di sekolah, proses proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik kurang dapat berjalan secara maksimal dan optimal. Sebagai contoh sekalipun pihak guru dan peserta didik telah siap untuk melaksanakan proses pembelajaran di kelas, namun tidak tersedia fasilitas belajar yang memadai di kelas atau di tempat belajar lainnya yang memadai sesuai dengan kebutuhan, maka proses belajar mengajar kurang dapat berlangsung maksimal dan optimal, misalnya di kelas tidak tersedia kursi dan meja belajar dalam jumlah yang memadai sesuai dengan jumlah siswa, maka akan dapat mengganggu kelancaran proses belajar mengajar di kelas, karena peserta didik yang tidak mendapatkan kursi dan meja belajar akan dapat mengganggu teman kelasnya dalam belajar.
Infrastruktur suatu sekolah atau lembaga pendidikan yang kurang memadai dan memenuhi syarat, juga mempengaruhi proses belajar mengajar di suatu sekolah. Jika suatu sekolah telah memiliki gedung sebagai tempat pembelajaran tetapi tidak tersedia dalam jumlah yang memadai sesuai dengan jumlah peserta didik yang dimiliki oleh suatu sekolah, maka daya tampung suatu kelas melebihi yang semestinya, akibatnya proses belajar mengajar tidak dapat berjalan secara maksimal dan optimal. Dan yang paling parah lagi jika suatu sekolah telah memiliki gedung dalam jumlah yang cukup sesuai dengan jumlah peserta didik yang dimiliki, namun atap dari gedung sekolah tersebut telah dirembesi oleh air hujan yang menyebabkan para siswa tidak dapat belajar dengan baik dan guru juga tidak dapat membelajarkan peserta didik dengan baik. Akibatnya proses belajar mengajar di kelas akan terganggu.
Faktor metode dan strategi serta pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru, juga mempengaruhi kelancaran dan kesuksesan proses belajar mengajar di kelas (Nasution, 1987). Guru yang menerapkan metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan dan perbedaan individual peserta didik akan dapat memperlancar dan menyukseskan intraksi belajar mengajar di kelas. Adapun metode dan strategi belajar mengajar yang dapat digunakan oleh guru sebagai pengajar dan pendidik dalam membelajarkan peserta di kelas atau di tempat belajar lainnya ialah metode dan strategi mengajar ceramah dan tanya jawab, ceramah dan oleh suatu sekolah,
Faktor gedung daya tampung suatu kelas merpakan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasil proses belajar mengajar. Daya tampung suatu kelas melebihi yang semestinya dapat mengakibatkan proses belajar mengajar tidak dapat berjalan secara maksimal dan optimal. Dan yang paling parah lagi jika suatu sekolah telah memiliki gedung dalam jumlah yang cukup sesuai dengan jumlah peserta didik yang dimiliki, namun atap dari gedung sekolah tersebut telah dirembesi oleh air hujan yang menyebabkan para siswa tidak dapat belajar dengan baik dan guru juga tidak dapat membelajarkan peserta didik dengan baik. Akibatnya proses belajar mengajar di kelas akan terganggu.
Faktor kurikulum juga memegang peranan penting dalam memperlancar proses belajar mengajar di kelas. Kurikulum yang disusun sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan mental peserta didik, sesuai dengan tuntutan kebutuhan siswa dan kebutuhan orangtua siswa, masyarakat, dan dunia kerja, serta sesuai dengan kebutuhan guru sebagai pendidik dan pembelajaran di kelas akan mendukung pencapaian proses belajar mengajar yang optimal dan maksimal, sehingga keluaran suatu lembaga pendidikan akan lebih berkualitas. Demikian juga dengan faktor metode dan strategi serta pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru, juga mempengaruhi kelancaran dan kesuksesan proses belajar mengajar di kelas (Nasution, 1987).




D. Deskripsi Kondisi Sekolah
1. Letak Geografis Sekolah
SMP N 16 Kota Bengkulu sebagai sekolah yang berjarak 20km dari arah pusat kota, SMP N 16  berada di perbatasan antara kota bengkulu denan kabupaten seluma. Lebih tepatnya berada di di Jl. A. Rahman Betungan, Selebar Bengkulu. Beberapa masalah strategis yang berhasil diidentifikasi melalui evaluasi diri secara umum adalah sebagai berikut, masih lemahnya Sumber Daya Manusia, implementasi KTSP belum optimal baik dalam administrasi maupun dalam hal pelaksanaan apalagi sekarang sudah masuk kurikulum baru yaitu kurikulum 2013, belum optimalnya pemanfaatan media pembelajaran yang berbasis teknologi dalam proses belajar mengajar, Sarana dan Prasarana Pendidikan yang belum memadai, manajemen sekolah belum sepenuhnya menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah, bantuan sumber dana dan anggaran yang belum Optimal, sistem penilaian pendidikan belum dikelola dengan baik, lingkungan sekolah relatif belum kondusif, bakat minat kemampuan siswa masih belum terakomodasi dengan baik, Pendidikan Teknologi Dasar dan Pendidikan Kecakapan Hidup belum terintegrasikan secara optimal dalam kurikulum. Oleh karena itu segala bentuk dan sekecil apapun masalah yang ada perlu diupayakan Untuk dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali. Namun demikian upaya kearah itu tidaklah mudah, hal ini memerlukan dukungan moril dan materi yang tidak sedikit, serta keseriusan dari semua pihak.


2. Perangkat Organisasi Sekolah
Perangkat-perangkat pada Struktur organisasi SMP N 16 Kota Bengkulu secara struktur tidak mengalami perubahan besar. Perangkat tersebut adalah kepala sekolah pada kedudukan tertinggi di tingkat sekolah, wakil kepala sekolah, pembantu sekolah yang di bagi dalam beberapa bidang/urusan yaitu pembantu kepala sekolah bidang kurikulum, pembantu kepala sekolah bidang sarana dan prasarana, pembantu kepala sekolah bidang kesiswaan, pembantu kepala sekolah bidang humas, perangkat lainnya adalah wali kelas dan kepanitiaan-kepanitiaan. Pada tugas-tugas bidang administratif kepala sekolah di bantu oleh kepala urusan Tata Usaha yang membawahi stafnya.
Hasil evaluasi diri terhadap sistem tatakerja organisasi dan kelembagaan adalah :
1. Keunggulan/kekuatan
a.         Pengelolahan sekolah sebagian sudah menggunakan pola MBS berdasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi,dan pendelegasian kekuasaan
b.        Memberikan kesempatan yang sama kepada semua pihak dalam memberikan aspirasi dan partisipasi kepala sekolah
c.         Setiap unsur sekolah dapat mengembangkan diri sesuai potensi masing-masing.
d.        Telah memiliki dokumen job description untuk setiap komponen sekolah

2. Kelemahan
a.         Masih lemahnya SDM sekolah, terutama dalam hal administratif dan manajerial.
b.        Perangkat-perangkat pendukung dalam pengelolaan tatakerja organisasi masih kurang .
c.         Masih lemahnya pembinaan, pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja seluruh komponen sekolah.
d.        Pemberian penghargan dan pemberian sangsi belum efektif.
e.         Tata kerja dari organisasi belum sepenuhnya memenuhi job discription
f.         Belum optimalnya peran komite sekolah.
g.        Belum optimal memanfaatkan IT dalam sistem tatakerja dan organisasi.
a.         Masih minimnya dukungan dari orang tua siswa
3. Proses Belajar Mengajar
Berkaitan dengan diberlakukannya kurikulum 2013, SMP N 16 Bengkulu masih menerapkan kurikulum KTSP yang pada dasarnya adalah kurikulum berbasis kompetensi, maka proses belajar mengajar juga harus mengacu kepada aturan yang berlaku dimana proses pembelajaran ini, peran guru tidak lagi menjadi tokoh sentral tetapi hanya menjad fasilitator. Ini berarti ada pergeseran budaya mengajar di mana pada era sebelumnya menempatkan guru sebagai pusast sumber pemberi informasi (guru segala tahu).
Di SMP N 16 Kota Bengkulu kaitanya dengan hal tersebut di atas di akui untuk merubah tatanan yang telah berlaku sangat tidak mudah. Kebiasaan mengajar dengan cara lama masih mendominasi setiap proses belajar mengajar berlangsung. Hanya beberapa orang saja yang menggunakan strategi dan model – model pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Hal ini terjadi karena para guru masih banyak yang belum mengetahui dan memahami strategi dan model – model pembelajaran yang seharusnya diterapkan pada saat ini. Belum lagi ada sikap apatis guru terhadap inovasi pada proses PBM khususnya pada penerapan model dan strategi pembelajaran. Imbasnya pada siswa adalah kejenuhan dan menganggap kelas seperti penjara dan secara otomatis tujuan pembelajaran akan sulit dicapai.
Hal ini yang sering juga menjadi permasalahan adalah ketika setiap tahun ajaran berganti, masih ada administrasi pembelajaran yang tidak di perbaharui atau mengalami revisi, padahal mungkin sudah tidak up to date lagi digunakan. Kelemahan yang lainnya juga ditemukan pada implementasi administrasi pembelajaran yang tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan ketika proses belajar mengajar berlangsung
Selain kondisi tersebut di atas, kondisi yang mendukungnya antara lain seluruh tenaga pengajar di SMP N 16 Kota Bengkulu telah memenuhi kualifikasi pendidikan dimana hampir 90% adalah lulusan strata satu dan 10% lulusan diploma, semuanya mengajar berdasarkan kualifikasi lulusannya. Kondisi lainnya adalah semua guru telah membuat administrasi pembelajaran tetapi masih belum mengacu pada administrasi yang ideal terutama sejak diberlakukannya KTSP. Selain itu buku – buku referensi sebagai bahan rujukan sudah ada tetapi masih belum mencukupi kebutuhan.

4. Sistem Penilaian
Sejak pemberlakuan KTSP telah merubah paradigma dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar baik proses belajar mengajarnya ataupun sistem penilaiannya. Pada Kurikulum ini yang berbasis pada kompetensi, sistem penilaian harus bersifat integral. Ini berarti harus ada reformasi sistem penilaian yang berlaku pada saat sebelum pemberlakuan KTSP. Dalam sistem ini, guru memberikan penilaian kepada anak bukan saja didasarkan pada salah satu aspek saja tetapi seluruh aspek yang meliputi afektif, kognitif dan psikomotor yang berbasis pada life skill.
Pemberlakuan ini menimbulkan permasalahan – permasalahan baru. Kurangnya pengetahun dari para guru menyebabkan pemahaman terhadap sistem ini masih sedikit, sehingga berimbas pada administrasi dan instrumen penilaian yang masih bertumpu pada kebiasaan lama yang cenderung merugikan siswa.
Demikian pula di SMP N 16 Kota Bengkulu ini. Sistem penilaian yang digunakan masih merupakan “kebiasan” lama walaupun formatnya sudah di buat up to date. Adanya sikap apatis dan apriori terhadap perubahan sistem ini merupakan salah faktor yang mendorong tidak berjalannya sistem. Hal ini merupakan sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap sistem penilaian yang seharusnya diterapkan. Padahal jika dilihat dari sumber daya manusianya (tenaga Guru) sudah cukup memenuhi standar pendidikan.
Faktor lainnya adalah lemahnya sistem pengawasan dan evaluasi pada sistem penilaian yang terkadang percaya begitu saja pada hasil laporan yang berupa angka – angka bukan pada proses kegiatan pembelajaran. Sarana dan prasarana pendukung proses KBM juga merupakan faktor yang memicu terhambatnya pelaksanaan sistem ini.
Melihat permasalahan di atas, sepertinya wajib bagi lembaga ini menyelenggarakan sebuah kegiatan yang mampu memberikan informasi mengenai sistem penilaian yang berlaku secara lengkap sehingga para guru dapat memahami dan melaksanakannya. Selain itu mengingat banyaknya jenis penilaian dan jumlah siswa yang dinilai maka diperlukan perangkat baik itu hardware dan software yang dapat meningkatkan kinerja guru dan tenaga pendidikan lainnya dalam mengeloal nilai, agar sistem penilaian bisa lebih efektif dan efisien.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan yang difokuskan pada situasi sekolah, atau yang lazim disebut action research (Kemmis, 1982:Suwarsih) Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik kegiatan guru dalam proses pembelajaran di kelas lebih professional (Suyanto, 1997: ) Metode ini dipilih didasarkan atas pertimbangan bahwa : (1) Analisis masalah dan tujuan penelitian yang menuntut sejumlah informasi dan tindak lanjut berdasarkan prinsip “daur ulang”, (2) Menurut kajian dan tindakan secara reflektif, kolanoratif, dan partisipatif berdasarkan situasi alamiah yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan guru dalam rangka melaksanakan kegiatan proses pembelajaran.

A. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh guru pada SMP N 16 Kota Bengkulu yang terdiri atas 12 orang laki-laki dan 8 wanita ( 20 orang guru ).

B. Setting Penelitian
Tempat penelitian ini di SMP N 16 Kota Bengkulu Tahun Pelajaran 2013/2014. SMP  ini merupakan sekolah dimana penulis biasa melaksanakan tugas sehari-hari.
C. Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2013/2014 mulai bulan Januari sampai dengan bulan April 2014.

D. Teknik Pengumpulan Data
Tekni pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : dokumentasi, observasi atau pengamatan Dokumentasi dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran hasil belajar siswa sebagai indikator efektifitas proses belajar mengajar guru yang tercermin dalam nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada setiap kali pertemuan. Sedangkan observasi dan pengamatan dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan disiplin guru baik disiplin waktu maupun dalam pengadaan administrasi perangkat pembelajaran.

E. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data penelitian yang akan dianalisis. Instrument yan dipergunakan dalam penelitian ini adalah berupa lembar/ format pengamatan dengan menggunakan sistem chek list atas jawaban yang telah Instrument ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran data tentang kegiatan disiplin guru baik dalam penggunaan waktu dan penyelenggaraan administrasi persiapan pembelajaran.


Format Lembar Pengamatan Disiplin Guru
Pertemuan/ Siklus ke               :
Nama Guru                             :
Hari/ Tanggal                           :
No
Apek yang diamati
ya
tidak
A.    Disiplin waktu
1
Guru datang 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai


2
Guru datang tepat / bersamaan dengan dimulainya jam pelajaran


3
Guru datang 15 menit setelah jam pelajaran dimulai


4
Guru datang kemudian langsung masuk kelas untuk melaksanakan KBM


5
Guru datang tidak langsung melaksanakan KBM/ masuk kelas


6
Guru melaksanakan KBM dan mengakhirinya 15 menit sebelum waktu habis


7
Guru melaksanakan KBM dan mengakhirinya 10 menit sebelum waktu habis


8
Guru melaksanakan KBM dan mengakhirinya 5 menit sebelum waktu habis


9
Guru melaksanakan KBM dan mengakhiri KBM tepat pada waktunya sesuai jadwal


10
Guru melaksanakan KBM dan mengakhiri KBM melebihi waktu yang disediakan


B. disiplin pengadaan perangkat administrasi pembelajaran
1
Memiliki Program Tahunan


2
Memiliki Program Semester


3
Memiliki silabus


4
Memiliki RPP


5
Memiliki jadwal tatap muka


F. Rencana Tindakan
Sebagai pimpinan tertinggi di sekolah, kepala sekolah harus mampu mengelola waktu secara efisien, baik untuk tugas-tugas sendiri maupun untuk sekolah secara keseluruhan. Sehingga keluhan kegiatan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien
Kebiasaan menggunakan waktu yang produktif oleh kepala sekolah diharapkan dapat menjadi contoh bagi guru, staf administrasi, maupun siswa. Disamping itu perlu menyusun rencana penggunaannya serta pemanfaatan waktu kerja hendaknya di prioritaskan pada kegiatan pengajaran, pembinaan kesiswaan, & pengembangan profesional lainnya di bidang kegiatan lain yang bersifat administratif.
Disiplin waktu dan pengadaan administrsi persiapan pembelajaran oleh guru merupakan sesuatu yang mutlak dilaksanakan guna menunjang keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar. Untuk meningkatkan disiplin tersebut maka direncakan akan diterapkan sistem reward dan funisment terhadap guru dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya. Dengan harapan disiplin ini akan mengkristal pada individu guru dan menjadi budaya di lingkungan sekolah.
Prosedur penelitian tindakan sekolah ini terdiri atas dua tahapan ( siklus ). Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Untuk mengetahui disiplin waktu guru penulis menerapkan sistem reward dan funishment Reward diberikan kepada guru yang dapat datang sekurang-kurangnya 15 menit sebelum kegiatan proses pembelajaran dan mengakhiri kegiatan KBM tepat pada waktunya, serlain itu reward diberikan pula kepada guru yang telah dapat melengkapi perangkat administrasi persiapan pembelajaran secara lengkap yang meliputi Program tahunan, Program smester, silabus, dan RPP / Rencana Proses Pembelajaran
Berpedoman pada refleksi awal tersebut, maka dilaksanakan penelitian dengan prosedur : (a) perencanaan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) pemantauan (monitoring), (d) analisis hasil dan refleksi.
Keempat tahapan ini dilaksanakan dalam satu siklus. Apabila dalam pelaksanaan dalam satu siklus belum menunjukkan disiplin , maka peneliti akan melaksanakan tindakan lagi pada siklus berikutnya dengan mengubah hal-hal yang dianggap menghambat. Penelitian ini difokuskan pada peningkatan disiplin guru melalui pemberian reward dan funisment guna terciptanya efektivitas proses belajar mengajar di SMP N 16 Kota Bengkulu.

G. Rencana Penelitian
Pada awal pelaksanaan siklus, peneliti merancang mengajak guru agar mau meningkatkan disiplin dalam hal waktu dan pengadaan persiapan perangkat administrasi pembelajaran melalui brifing. Pada tahap awal sebelum pelaksanaan siklus, peneliti mempersiapkan hal-hal sebagai berikut :
a.       Mengadakan format penelitian sebagai mana telah disebutkan di atas
b.      Mengamati / mengobservasi waktu kedatangan setiap guru pada awal kegiatan
c.       Mengamati penggunaan waktu dalam pelaksanaan proses kegiatan pembelajaran di kelas
d.      Meminta data hasil evaluasi atau ketercapaian target pembelajaran dari masing-masing guru yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata yang dicapai.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kemudian diadakan analisis terhadap data yang didapat kemudian diadakan tindak lanjut berupa pendekatan-pendekatan persuasif (reward dan funisment) melalui brifing Reward yang dipergunakan berupa pemberian tambahan transport atau honor tambahan kepada setiap guru yang dapat menunjukkan kegiatan disiplin dan funishment berupa teguran teguran dan arahan bagi guru yang tidak dapat disiplin melalui pemanggilan secara individual.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta
Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung:Alfabeta
Hidayat, Sucherli. (1986). Peningkatan Produktivitas Organisasi dan Pegawai Negeri Sipil: Kasus Indonesia, Jakarta:Prisma
Makmun, Abin Syamsudin. (2005). Psikologi Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nugroho, Bambang. (2006). Reward dan Punishment. Bulletin CiptaKarya Departemen Pekerjaan Umum Edisi No. 6/IV/Juni 2006
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Peraturan Pemerintah  Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sagala, H. Syaiful. (2006). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : Alfabeta.
Sanjaya, W. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana Prenada Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar