Selasa, 11 September 2018

INOVASI DAN PARADIGMA PENDIDIKAN






UJIAN AKHIR SEMESTER
INOVASI DAN PARADIGMA PENDIDIKAN

Disampaikan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
Menempuh Mata Inovasi dan Paradigma Pendidikan
Program Studi Magister/Manajemen Pendidikan
PPs FKIP Universitas Bengkulu Semester 1 Tahun Akademik 2012/1013
Dosen Dr. Osa Juarsa, M.Pd




                                                                       


Oleh
JON SASRTO
NIM A2K012116

PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI/MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2013


1.                  Factor yang mendasari reformasi dan inovasi pedidikan:
a.         Kegagalan yang telah dilaksanakan sebelumnya
Suatu kegagalan adalah hal yang tidak bisa di hindari trutama dalam hal pendidikan, sehingga dapat menjadi acuan untuk menuju paradigma pendidikan yang baru, kegagalan tersebut didasari oleh Definisi tujuan yang buruk, Buruknya mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan, Buruknya partisipasi anggota tim, Buruknya pengawasan produk dan Buruknya komunikasi dan akses informasi.
Bukti dari kegagalan sebelumnya dalam reformasi dan inovasi pendidikan yaitu kurikulum, mengapa? Karena kurikulum di Indonesia selalu gonta ganti karena merasa kurikulum tersebut kurang pas, dan bisa dikatakan kurikulum gagal, sehingga terjadi lah inovasi-inovasi dalam perbaikan system pendidikan di Indonesia dengan menyesuaikan dengan zaman dan kebutuhan dalam dunia pendidikan.

b.      Perkembangan perekonomian dunia yang membuka akses pasar global
Perkembangan perekonomian dunia yang membuka akses pasar global adalah salah satu factor yang mendasari reformasi dan inovasi pendidikan karena apa pasar global merupakan pasar internasonal, karena ruanglingkupnya meliputi word universal, meliputi dua negara atau meliputi beberapa Negara sehingga menuntut para pendidik harus lebih inovasi dalam pendidikan untuk menyesuaikan dengan perkembangan dunia agar paradigm pendidkan kita dan di sejajarkan dengan pendidikan international.
Buktinya yaitu masuknya perdagangan internasional di Indonesia menuntut SDM di Indonesia untuk lebih maju. Sehingga pemerintah telah menerapkan sekolah bertarap international untuk menciptakan SDM yang bekelas internasional..

c.       Percepatan peningkatan kwalitas dan kwantitas pendidikan
Begitu cepat dan pesatnya peningkatan mutu pendidikan di dunia membuat Indonesia ketar-ketir dalam mengejar ketertinggalan dari Negara-negara maju, sehingga ini menjadi PR yang berat seorang pendidik dan Dinas Pendidikan Nasional maupun Daerah dalam meningkatkan kwalitas dan kwantitas pendidikan
Buktinya yaitu Pendanaan, karena untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas pendidikan harus adanya pendanaan yang memadai, sehingga saat ini pemerintah telah mulai untuk meningkatkan anggaran dana untuk pendidikan.

d.      Mengakomodasikan aspirasi masyarakat dan perkembangan zaman
Dengan perkembangan zaman banyaknya permintaan masyarakat kepada pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Sehingga pemerintah memberikan program bahwa 12 tahun wajib sekolah.
Buktinya adalah meningkatnya 9 tahun wajib sekolah menjadi 12 tahun wajib sekolah, ini diharapkn anak-anak bangsa Indonesia minimal berpendidikan SMA/sderajat karena menyesuikan dengan zaman.

e.       Perintah hukum
Didalam pendidikan pun akan tampak membaik jika ada hukum yang tertulis dalam mengatur system pendidikan. Dan hukumpun juga membutuhkan suatu pendidikan dalam perkembangannya.
Buktinya adalah adanya UU yang melindungi dan mengatur pengadaan pendidikan yaitu “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional” Dimana pelaksanaan, pengadaan pendidikan dan propesi pendidik menjadi terlindungi dengan adanya UU tentang pendidikan tersebut. Hal ini sebagaimana azaz dan fungsi hukum yang di dalamnya terdapat a tool of social control, a tool of social engineering, sebagai symbol, a political instrument dan sebagai integrator.

2.      Pengalaman jepang dalam merombak masyarakatnya lewat pendidikan, bisa “dilirik” untuk di pelajari sungguh-sungguh oleh Indonesia dalam merencanakan masa depannya.
a.      Bagaimana system pendidikan di jepang?
Sistem pendidikan Jepang sebelum Perang Dunia II memakai system banyak jalur (multi-tracts) yang mendiversifikasikan mata pelajaran mulai dari anak usia 12 tahun ;yaitu disaat anak-anak menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar. Sistem ini diganti seluruhnya dalam reformasi pendidikan sesudah perang.


v   Taman Kanak-Kanak
Sebagian besar anak-anak di Jepang memasuki Taman Kanak-Kanak, bahkan juga mulai dari Nursery School. Taman Kanak-Kanak adalah institusi pendidikan dibawah Kementerian Pendidikan untuk anak-anak berusia 3-5 tahun, sedangkan Nursery School bagi anak-anak sampai 5 tahun. Aktivitas pada Nursery School bagi anak-anak usia 3 tahun atau lebih, tidak banyak berbeda dengan yang diberikan pada Taman Kanak-Kanak.
v   Pendidikan Dasar
Pada Usia 6 tahun, anak-anak mulai masuk sekolah dasar yang wajib bagi semua orang. Sekolah Dasar adalah institusi pendidikan yang berlangsung selama 6 tahun, memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak yang sesuai dengan perkembangan fisik dan mentalnya.
Jumlah jam pelajaran per tahun adalah 1015, bervariasi dari 850 jam pelajaran bagi grade 1 sampai 1015 bagi grade 4-6.
Kenaikan kelas dari grade 1 ke grade berikutnya berlangsung secara otomatis.Hampir seluruh anak umur sekolah terdaftar mengikuti pendidikan tingkat dasar ini, dan 97%  berada di sekolah negeri.
v   Pendidikan Menengah
Sekolah menengah tingkat pertama adalah wajib dan berlangsung selama tiga tahun. Promosi dari sekolah dasar kesekolah menengah tingkat pertama berjalan secara otomatis dalam lingkungan sekolah negeri.
Setelah menempuh pendidikan selama 9 tahun, anak-anak dapat memsuki sekolah menengah tingkat atas selam 3-4 tahun setelah diselksi melalui ujian masuk.
v   Pendidikan Tinggi
Pada prinsipnya sistem pendidikan di Jepang mengikuti pola penjenjangan yang mirip dengan yang ada di Indonesia yaitu pola penjenjangan dengan  sistem 6-3-3-4, yaitu enam tahun pendidikan dasar, masing-masing tiga tahun pendidikan menengah pertama dan menengah atas serta empat tahun pendidikan tinggi kecuali bidang kedokteran, kedokteran hewan dan dokter gigi. Untuk jenjang pendidikan pasca sarjana Jepang juga mengikuti pola 2-3, yaitu dua tahun untuk Program Magister dan tiga tahun untuk Program Doktor.

b.      Paradigma pendidikan yang berlaku di jepang
Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih dalam, setidaknya ada dua pemahaman di Jepang yang digunakan untuk merubah tatanan pendidikan sebagai salah satu pembentuk karakter bangsa, karena dalam konteks ini karakter bangsa bisa dibentuk bukan hanya melalui pendidikan saja, tetapi salah satunya adalah pendidikan itu. Pertama,adalah pemahaman radikal yang meyakini bahwa perubahan pendidikan hanya bisa dilakukan dengan cara perombakan secara simultan. Keduaadalah pemahaman konservatif yang meyakini bahwa perubahan pendidikan hanya bisa dilakukan dengan ikut serta dalam sistem yang ada sekarang.
Membahas tentang pendidikan Jepang adalah dengan melihat perkembangan paska PDII. Setelah PDII, Jepang melakukan pembangunan pendidikan yang intensif. Saat arus pembangunan pendidikan yang begitu derasnya, disayangkan saat itu Jepang berada dalam rezim yang konservatif, sehingga rezim menentang keras terhadap perubahan-perubahan yang diusung dalam pendidikan.  Saat itu juga kemudian mulai timbul banyak orang yang meragukan jika melalui perombakan pendidikan ini akan mampu mengubah masyarakat. Akan tetapi justru sebaliknya, penolakan rezim kemudian dilawan dengan gigih oleh persatuan guru di Jepang(Nikkyoso). Perubahan yang diusung adalah pendidikan Jepang yang egalitarian (persamaan derajat dan kognitif). Yang dimaksud adalah dalam pendidikan Jepang mengabaikan perbedaan latar belakang, semua dianggap sama dan tidak diskrimninasi antara keluarga kaya dengan miskin, dalam memuji murid yang (dianggap) pandai dengan yang (dianggap) bodoh. Semuanya adalah sama. Dalam hal biaya pendidikan, praktis tidak ada perbedaan biaya yang dikeluarkan oleh setiap murid dalam jenjang yang sama, meskipun  yang satu berada dalam sekolah yang ada teknologi TV, LCD, komputer dan yang satu hanya menggunakan papan tulis biasa. Akan tetapi Jepang sudah menetapkan infrastruktur minimal yang harus ada pada setiap sekolah dan Jepang sudah memenuhi hal tersebut.
Sesudah siswa-siswa tamat dari bangku sekolah, mereka masuk ke dalam lembaga-lembaga masyarakat dan mendesakkan ide egalitarian itu sehingga terpaksalah lembaga-lembaga tersebut menuruti desakan-desakan yang diusung. Boleh jadi Jepang adalah negara yang paling egaliter setelah PDII.
Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan Jepang, maka berikut ini adalah hal-hal yang nampak khas dan menonjol dalam pendidikan Jepang selain nilai egalitarian tersebut :
1. Perhatian pada pendidikan datang dari berbagai pihak
Dari pihak pemerintahan, elit politis hingga masyarakatnya sama-sama meyakini bahwa pendidikan adalah sangat penting dalam melatih tenaga terampil dan ahlii, untuk membentuk elit politik selanjutnya dan mengejarkan kebudayaan bagi seluruh rakyat Jepang.
Para orang tua sangat yakin menitipkan anak-anaknya ke pendidikan jepang dan respon terhadap pendidikan anak-anaknya sangat menakjubkan
2. Sekolah di Jepang tidak Mahal
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan tentang pendidikan salah satunya adalah mereka memberikan subsidi kepada orang-orang tidak mampu untuk makan siang disekolah dan kegiatan-kegiatan belajar lainnya. Perlu diketahui bahwa 46,5% biaya total pendidikan di Jepang adalah dari pemerintah.
3. Di Jepang tidak ada diskriminasi terhadap sekolah
Selain yang telah dijelaskan di atas tentang pembiayaan yang sama, jepang juga mendorong orang-orang terpencil untuk dapat menikmati pendidikan yang sama dengan yang lain, yakni dengan memberikan subsidi transportasi. Begitu pula untuk guru-gurunya. Guru yang cakap dan mau bekerja ditempat yang jauh (merantau) juga akan diberikan tunjangan.


4. Kurikulum di Jepang amat berat
Karena pendanaan pemerintah dalam pendidikan cukup besar, maka peran pemerintah dalam menentukan kebijakan pendidikan juga besar. Pemerintah pusat merencanakan kurikulum secara rinci dan terstruktur  dan memeriksa buku-buku pelajaran yang dijual untuk menjamin isi buku sesuai dengan standar, baik isi maupun alur kurikulumnya.
Dari segi variasi materi lebih banyak dan kedalaman materi juga lebih (Menteri Pendidikan, 1971: 56-63).  Agar kurikulum tersebut tercapai, maka tiap sekolah memberikan pelajaran sekurang-kurangnya 240 hari dalam setahun, sedangkan jika dibandingkan dengan Amerika hanya 180 hari saja dalam setahun. Sebagai tambahan, Jepang setelah PDII menyediakan setengah jam lebih banyak untuk pelajarannya di kelas dibanding sebelum PDII
5. Guru terjamin tidak akan kehilangan jabatan
Jabatan guru di Jepang merupakan jabtatan terhormat. Guru mendapat status sosial dan gaji yang layak, dan kebanyakan mereka ingin menjadi guru seumur hidup. Persatuan guru yang anggotanya mencakup tiga perempat dari jumlah total guru di Jepang selalu memperjuangakan hak-hak dan nasib guru di Jepang jika terjadi ketidakadilan.
Adanya Persatuan Guru Jepang sangat memberikan pengaruh dalam dinamika nasional Jepang, sudah dibilang perannya bisa disandingkan/disejarajarkan dengan elit politis yang ada di setiap negara. Jika ada pemerintahan/rezim yang berpikir tradisional/konservatif, maka mereka menentang tegas dan menyatakan bahwa sistem pendidikan mampu mengembangkan tokoh-tokoh besar serta kemampuan berpikir yang kritis yakni dengan egalitarian. Dan bisa jadi mereka menggalang dukungan dari semua pihak untuk menggulingkan rezim berkuasa jika perlu.
6. Guru di Jepang penuh dedikasi
Disekolah ada semacam mekanisme sehingga guru-guru berkerja dengan sebaik-baiknya. Misalnya seperti adanya pertemuan setiap pagi sebelum pengajaran, pertemuan staff sepekan sekali, pertemuan penelitian dua pekan sekali, pertemuan seminar tiap bulan sekali. Disamping itu pada tingkat yang sama, jika mereka menghadapi soal-soal mereka selesaikan dengan pembahasan secara bersama-sama, pengaruh timbal balik antar guru ini akan memberikan pengaruh yang baik dan setiap guru akan merasa wajib untuk mengikuti mekanisme yang ada secara sadar dengan sendirinya.
Untuk komunikasi dengan orang tua murid, maka setidaknya guru mengunjungi orang tua murid sekali dalam setahun, dengan kujungan ini guru akan mengetahui keadaan siswanya di rumah.  Dari sini akan menjadi dasar tindakan guru saat mengajar murid-muridnya. Selain itu, sebulan sekali orang tuanya diminta datang ke sekolah untuk melihat perkembangan anaknya, dan tiga bulan sekali ada kesempatan untuk membicarakan kemajuan anaknya dengan guru. Mereka diberi nomor telpon guru dan diminta untuk melakukan panggilan jikga ada kesulitan tertentu. Dengan ini maka respect orang tua akan sangat terbangun.


7. Guru Jepang merasa wajib memberi pendidikan “orang seutuhnya”
Selain mengacu pada perkembangan kognitif, pendidikan sekolah di Jepang ialah untuk membentukan anak untuk memiliki hati yang bersih dan lapang, jasmani yang kuat lagi sehat, merangsang bersedia untuk menderita apa saja dalam segala usahanya, menyadarkan kepada siswanya untuk saling melengkapi dengan teman-teman sekelasnya.
Pendidikan orang seutuhnya itu tampak jelas pada pendidikan tingkat dasar, disitu guru bekerja keras untuk menciptakan tata tertib dan mengajak siswa-siswanya belajar dalam kelas. Jika ada orang tua yang mengantarkan anaknya, maka saat memasuki wilayah sekolah orang tua tidak boleh membawakan tas atau barang lain dari anaknya, guru akan menyuruh agar anaknya membawa sendiri barang-barangnya kemudian diletakkan secara rapi ditempat-tempat yang telah disediakan. Hal ini mengajarkan betapa pentingnya kemandirian. Disamping itu mereka merasa wajib untuk memberikan pendidikan moral, tiga hal yang ditonjolkan adalah : egalitarianisme, “individualisme” dan partisipasi. Selain itu juga diajarkan nilai-nilai konvesional seperti persahabatan, keramah-tamahan, kerjasama dan disiplin.
8. Guru di Jepang bersifat adil
Suasana berjuang yang dialami guru Jepang dan di mana mereka bekerja membuat mereka secara ideologis menjadi lebih masak. Pertikain terus menerus antara Pemerintah Pusat dan Perserikatan Guru menunjukkan adanya aksi dari golongan guru.
Sejak dahulu pemerintah memandang pendidikan sebagai alat untuk menemukan bakat dan mengembangkannya, sebab itu menganjurkan pada guru untuk menemukan bakat siswa dan memberi pelajaran menurut bakat dan kelompok. Tetapi perserikatan guru menentang pengelompokan menurut bakat, alasannya hal itu akan merusak keserasian kelas dan rasa persatuan yang telah terpupuk diantara anak-anak yang sebaya. Kata yang kerap dipakai oleh Perserikatan Guru dalam oposisinya itu ialah kata “diskriminasi”. Pada pendapat mereka pengelompokan menurut bakat akan menghasilkan anak-anak yang termasuk golongan rendah dan golongan minoritas dan akan hanya cocok buat pekerjaan rendah selam-lamanya.
Guru-guru peka sekali terhadap soal itu dan hal itu berpengaruh pada tindakan mereka. Dalam ruang kelas mereka berusaha keras agar tiap siswa ikut secara aktif, punya sikap yang positif terhadap pekerjaan di sekolah. Tidak banyak guru yang menunjukkan sikap sayang yang berlebih-berlebihan kepada siswanya yang terpandai, sebaliknya mereka juga tidak mencela siswa yang lemah. Mereka berbuat apa yang dapat mereka lakukan untuk membimbing siswa menyelesaikan kurikulum dalam waktu yang sudah ditetapkan.
Itulah gambaran tentang sistem pendidikan yang diterapkan di Jepang sebagai salah satu komponen untuk membangun karakter Jepang yang sekarang ini. Nilai-nilai kemandirian, harga diri, persamaan derajat, kedisiplinan, dll telah ditanamkan sejak dini. Dan tugas mulia ini menjadi kesadaran kolektif, tidak hanya untuk para guru pengajar di bangku sekolah, tetapi dari pihak masyarakat luas dan pemerintah sangat respect akan tugas mulia ini.
Terakhir adalah, dimanakah dan seberapa besar posisi pendidikan Jepang dalam mebangun karakter bangsa Jepang yang sekarang ini ? Dalam bukunya William K. Cumming yang berjudul Edication and Equality in Japanhalaman 4 menyebutkan bahwa “Mula-mula ada revolusi politik yang dicetuskan oleh golongan elite berpolitik, kemudian dilakukan perubahan-perubahan sosial yang menuju egalitarianisme dan pendidikan dikerahkan untuk menunjang pembaharuan itu”. Sehingga untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mengakar, diperlukan studi lanjutan mengenai dinamika politik yang terjadi dalam sejarah Jepang.

c.       Pelajaran yang dapat di ambil dari pendidikan di jepang untuk membangun pendidikan di Indonesia
Bagaimana Jepang berhasil dalam merombak masyarakat melalui pendidikan? Menurut Wiliam K. Cummings, beberapa faktor yang mendukung adalah sebagai berikut. Pertama, perhatian pada pendidikan datang dari pelbagai macam pihak. Kedua, sekolah Jepang tidak mahal. Ketiga, di Jepang tidak ada diskriminasi terhadap sekolah. Keempat, kurikulum sekolah Jepang amat berat. Kelima, sekolah sebagai unit pendidikan. Keenam, guru terjamin tidak akan kehilangan jabatan. Ketujuh, guru Jepang penuh dedikasi. Kedelapan, guru Jepang merasa wajib memberi pendidikan “manusia seutuhnya”. Terakhir, guru Jepang bersikap adil. Sehingga beberapa faktor di atas dapat kita ambil untuk dijadikan landasan pendidikan di Indonesia.

3.      Analisis tentang kesalahan paradigma pendidikan yang di pakai sekarang, sehingga pendidikan di Indonesia di nilai tertinggal  diwilayah Negara-negara asia
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Siswa SMA di negeri kita “diharuskan” menjadi manusia super yang menguasai seluruh ilmu, baik sains, sosial dan juga bahasa. Ya, mereka memang mempelajarinya namun tidak banyak yang bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Hal ini bisa dilihat dari lulusan SMA yang bisa dikatakan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja.
Kualitas pendidikan Indonesia dianggap masih rendah oleh banyak kalangan. Hal ini bisa dilihat dari  lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja. Menurut pengamat ekonomi, Dr. Berry Priyono, bekal kecapakapan yang diperoleh dari lembaga pendidikan tidak memadai untuk digunakan secara mandiri. Sebab yang dipelajari di lembaga pendidikan hanya terfokus pada teori sehingga mengakibatkan peserta didik kurang kreatif dan inovatif. Indikator rendahnya kualitas pendidikan Indonesia ini diperparah dengan data dari  Badan Pusat Statistik yang menyebutkan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja berjumlah 111,28 juta penduduk dan 55,12 juta diantaranya adalah tamatan SD. Artinya 50 persen pekerja Indonesia adalah tamatan pendidikan dasar.

Jika dibangdingkan dengan Negara ASEAN, Singapura memiliki presentase kelulusan terbanyak di secondary sebanyak 24,6 persen dan lulusan pergurutan tinggi sebanyak 11,7  persen. Berdasarkan QS World Universities Ranking, ranking perguruan tinggi negeri kita juga kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Kita berada di peringkat 50 Asia dan 217 Dunia. Kalah jauh dibanding Singapura yang memperoleh peringkat 3 (NUS) dan 58 (NTU). Di Asia tenggara perguruan tinggi kita kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Indonesia juga menurun poinnya tahun ini di EDI (Education Development Index). Kemerosotan ini dipengaruhi oleh kualitas dan paradigm pendidikan di negeri kita.
B.     Rumusan Masalah
Apa yang menyebabkan kesalahan dari paradigma pendidikan Indonesia?
C.    Tujuan
Untuk mengetahui penyebab-penyebab buruknya atau salahnya dari paradigma pendidikan Indonesia.

PEMBAHASAN
A.    Kesalahan Paradigma Pendidikan Indonesia
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia timbul dengan adanya isu kecurangan Ujian Nasional yang selalu diperbincangkan setiap tahun, sebab ini dapat menjadi tolak ukur jalannya system pendidikan Indonesia yang masih jauh dari keempurnaan. Penugasan anggota kepolisian guna memantau jalannya Ujian Nasional serta penggunaan kamera pemantau untuk mengawasi jalannya UN di sekolah-sekolah menjadi hal yang justru tidak pernah terjadi di negeri lain. Selain itu, Indonesia berada di urutan 12 se-Asia dibawah Vietnam dan Thailnad terkait kualitas system pendidikan yang dikaitkan dengan daya saing tenaga kerja pada 12 negara di Asia. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas lulusan sarjana  di negeri kita belum mampu di letakkan secara sejajar dengan negara-negara lain bahkan dengan Vietnam sekalipun. Kondisi ini menyebabkan bahwa ada ketidakpercayaan publik terhadap system dan kualitas pendidikan di Indonesia serta paradigma yang keliru terhadap pendidikan di negeri ini.
Pada tahun 1872, Jepang menerbitkan Fundamental code of education dimana ditegaskan komitmen dari masyarakat harus berpendidikan dan tidak boleh ada yang buta huruf. Pada tahu 1910 hampir seluruh anak muda Jepang sudah menyenyam pendidikan. Pada tahun 1913 mash banyak orang miskin, maka jepang kemudian menerbitkan lebih banyak buku. Penerbitan yang ada di Eroap dan Amerika dalam waktu satu minggu sudah harus ada di Jepang dan sudah diterjemahkan di Jepang untuk mempermudah masyarakat mempelejari ilmu tadi serta hal ini berdampak pada kemajuan ekonomi dan kesejahteraan social. Kita ingat pula ketika Jepang terkena bom atom, pertanyaan kaisar jepang saat itu bukan berapa banyak warga yang menjadi korban, tetapi berapa guru baik yang masih hidup.
Di Singapura, pemerintah memberikan fasilitas setiap tahun kepada kepala sekolah untuk mengadakan studi banding di luar negeri. Begitu laporan hasil diterima oleh menteri pendidikan Singapura, hasilnya langsung diteruskan ke parlemen untuk mendapat tindak lanjut. Malaysia pada awalnya meng-import guru-guru dari Indonesia karena tarifnya masih reatif murah, tetapi mahasiswanya langsung dalam jumlah besar melanjutkan ke luar negeri (Inggris dan USA) atas biaya negara. Pada waktu perang dunia kedua di Inggris, Sir Winston Churchill menekankan parlemen untuk menambah anggaran pendidikan negara tersebut. Selain itu kurikulum teknologi yang dipakai di Inggris, sudah diberika di Grade 1 (usia 5 tahun) sampai Grade 10, sudah pula diajarkan pola fikir untuk menjadikan anak didik di Inggris dapat mandiri/memiliki life skill sebagai dasar dari entrepreneur, sehingga lulus SMU tak tergantung lagi pada orangtua.
Dari beberapa contoh diatas, kita bisa menraik benang merah kesalahan paradigma pendidikan yang dipakai sekarang adalah, pertama: mempersiapkan anak didik yang “siap pakai”. Hal ini secara mendasar telah membentuk budaya Employye. Kita seharusnya mempersiapkan anak didik yang “siap memakai”. Kita sadar bahwa sebagai employye nasibnya ditentukan oleh orang lain, bukan menentukan nasib orang lain. Sasaran pendidikan dari paradigma SIAP PAKAI adalah keterampilan khusus seperti akuntan, hokum dan lainnya. Kemudian dengan kursus singkat yang diharapkan memimpin bebagai macam disiplin keilmuan, atau bermain diluar bidang keahliannya,. Kita lihat dampaknya sekarang, mismanajemen dalam birokrasi sebab tidak ada standar kompetensi sebagai Patoka untuk menjadi pimpinan.
Ini sejalan dengan penjelasan Bukhori Nasution, bahwa “untuk waktu yang mungkin tidak terlalu lama jepang bercita-cita agar di Negara tersebut tidak lag memiliki industri yang menghasilkan limbah berbahaya, semuanya akan di letakkan di luar jepang, dengan saham terbesar tetap dimiliki oleh jepang, dan mereka mempersiapkan anak bangsanya untuk menjadi pemikir atau bergerak dalam hal desain serta perdagangan, sedangkan pekerjaan dirty/kotor, dangerous/berbahaya pelaksanaannya serta difficult work akan diserahkan kepada orang lain di luar negaranya.” Dan ternyata China, Korea  dan Taiwan telah sejak awal menyadari serta mengikuti jejak jepang. ini indikasi bahwa mereka mempersiapkan anak bangsanya siap memakai dan siap mempekerjakan,
Kedua:Pemerintah dalam hal ini dianggap tdak pernah berbuat salah dan tidak boleh dianggap salah membuat keputusan merugikan rakyat seperti ujian dengan system multiple choices yang menyebabkan anak didik kurang mampu menganalisa, standar untuk lanjut pendidikan tergantung nilai NEM sehingga anak didik selalu mentok di ranah kognitifnya. Bukan itu saja, tapi konsep menghafal yang sudah menjadi konsep dasar pendidikan, learning by memorizing bukan dengan learning by doing sehingga menurut pakar pendidikan Bukhori Nasuiton, anak didik tidak mendapatkan haqqul yaqin.
Ketiga:Kekeliruan paradigma pendidikan kita yang lain adalah adanya standar Terdaftar, Diakui, Disamakan, yang ditentukan oleh pemerintah padahal terdapat sekolah swasta yang memiliki gedung yang lebih baik dari sekolah negeri namun sangat sulit mendapat status disamakan,sementara sekolah negeri dengan kondisi gedung yang memperihatinkan, langsung mendapatkan predikat disamakan. Selain itu, pendidikan harus mempergunakan buku paket hingga perpustakaan pun hanya di isi dengan buku paket akhirnya berdampak hilangnya budaya baca anak didik karena buku paket yang dibagikan sama dengan yang ada di perpustakaan.
Dan keempat: sistem pendidikan kita belum mampu mengakomodir perbedaan potensi dan kemampuan setiap individu anak bangsa ini. Seluruh kejanggalan yang sudah muncul di public maupun yang menunggu giliran menjadi indikasi bahwa tidak ada komitmen secara nasional untuk memperioritaskan pendidikan seperti di Jepang dan negara lain. Baru sejak tahun 2002 anggaran pedidikan mulai di naikkan untuk memenuhi amanat UU pendidikan nasional. Itupun masih menunggu optimalisasi pemerataan anggaran ke seluruh satuan pendidikan.
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa ada beberapa factor yang menyebabkan salahnya paradigma pendidikan di Indonesia yang pertama: mempersiapkan anak didik yang “siap pakai”. Hal ini secara mendasar telah membentuk budaya Employye. Kita seharusnya mempersiapkan anak didik yang “siap memakai”. Kedua:Pemerintah dalam hal ini dianggap tdak pernah berbuat salah dan tidak boleh dianggap salah membuat keputusan merugikan rakyat seperti ujian dengan system multiple choices yang menyebabkan anak didik kurang mampu menganalisa. Ketiga:Kekeliruan paradigma pendidikan kita yang lain adalah adanya standar Terdaftar, Diakui, Disamakan, yang ditentukan oleh pemerintah padahal terdapat sekolah swasta yang memiliki gedung yang lebih baik dari sekolah negeri namun sangat sulit mendapat status disamakan. Dan terakhir: sistem pendidikan kita belum mampu mengakomodir perbedaan potensi dan kemampuan setiap individu anak bangsa ini.
B.     Saran
Diharapkan kepada para pengambil kebijakan, guru dan stakeholder pendidikan lainnya seperti orang tua dan LSM, agar bisa fokus untuk memperbaiki kesalahan paradigma tentang pendidikan yang terjadi di negeri ini serta turunan masalahnya. agar nasib bangsa ini lebih baik dan bermartabat.

4.      Factor yang berpengaruh terhadap pembangunan pendidikan
1.      Perkembangan Iptek dan Seni
a.       Perkembangan Iptek
Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.
b.      Perkembangan seni
Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominant efektif khususnya emosi yang posiutif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominant kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.


2.      Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.
3.      Aspirasi Masyarakat
Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.
4.      Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar