Jumat, 07 September 2018

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM


MAKALAH

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM
“FASE KLASIK”












DISUSUN OLEH:

JON SASTRO



PEMBIMBING: Drs. NAZAR, M.Ag



PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERISTAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
2010




ABSTRAK


Periode klasik ini secara umum terbagi menjadi dua. Pertama adalah periode klasik (650-1000) yaitu periode zaman di mana daerah Islam mulai meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan di Persia sampai ke India di Timur. Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, dan kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Di masa inilah berkembang dan maju pesat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang coraknya bermacam-macam seperti fiqh, filsafat, sufisme dan termasuk teologi.
Kedua adalah fase disintegerasi (1000-1250 M). Di masa ini persatuan dan kesatuan umat Islam mulai mengalami kemunduran. Konflik poloitik seringkali melanda sehingga klimkanya adalah hancurnya imperium Islam yang menyebabkan Baghdad berhasil dikuasasi oleh Hulaghu Khan di tahun 1258.



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan wahyu berupa ayat – ayat yang siapapun menggunakannya dapat mengantarkan manusia menuju pengakuan keimanan yang hakiki. Salam dan shalawat atas Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa menjadikan Sunnah Rasul SAW sebagai hujjah yang kokoh.  Dalam penulisan makalah sederhana ini penulis sungguh sangat banyak mendapat pengalaman dan wawasan yang luar biasa tentang cakrawala ilmu pengetahuan dalam Islam dimana pembahasan teologi yang diangkat dalam makalah ini menjadi pengetahuan baru yang coba dituangkan dalam penulisan makalah sederhana ini dan coba diangkat dalam diskusi perkuliahan yang diharapkan tercipta dinamika pemikiran Islam di tengah – tengah mahasiswa Islam yang saat ini terlihat mulai pudar seiring modernisasi. Padahal sesungguhnya kebangkitan Islam kedepan diawalii dari para pemuda yang mengemban pemikiran Islam yang jernih dan cemerlang. Yang pemikiran tersebut dibangun dengan landasan akidah yang kokoh.  Semoga pembahasan teologi Islam dalam makalah ini sebagai pengantar studi lebih lanjut untuk mengemban konsep islamisasi ilmu dan semoga menjadi bahan bacaan yang dinamis bagi para pembaca.
 Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan sehingga saran dan kritik diharapakan untuk menambah dinamika pemikiran islam yang saat ini mulai tampak stagnan di tengah – tengah lingkungan masyarakat. Akhirul kalam, ucapan terima kasih atas seluruh kawan – kawan terlebih khusus kepada guru pembimbing studiIslam kami yang telah banyak memberika gambaran sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Demoga amal baik kita semua dalam memberikan kontribusi bagi bankitnya pemikiran Islam di tengah masyarakat menjadi investasi akhirat  dengan keridhoan-Nya tentunya. Wassalam. 
    

Pendahuluan
            Islam merupakan agama yang mempunyai sejarah pergulatan teologi yang panjang. Dengan rentang sejarah yang panjang itu, teologi Islam pernah menancapkan sebuah fakta untuk turut serta meramaikan pergulatan intelektual dalam pentas peradaban ilmu pengetahuan dan politik dunia. Berbagai konsep dan sudut pandang teologis muncul secara dialektis dalam atmosfir kebudayaan Islam. Secara konsvensional Islam memang mempunyai bangunan ketuhanan yang sifatnya monoteis. Sebuah agama yang mempunyai keyakinan tentang Tuhan yang satu. Namun, dalam realitas empiriknya, Tuhan yang satu tersebut melahirkan beragam pandangan dan konsep teologis yang berbeda-beda. Artinya meskipun Tuhan sebagai obyek keyakinan umat Islam sama yakni Allah, namun ketika Allah yang satu itu direspon dan dipahami oleh banyak indifidu umat Islam sejagad, maka justru melahirkan beragam konsep ketuhanan. Perbedaan pandangan teologis itu berangkat dari beragamnya logika forma atau paradigama, sudut pandang dan perspektif yang digunakan oleh umat Islam sendiri dalam menangkap dan menafsirkan Tuhan. Satu pihak umjat Islam ada yang menggunakan perpsketif logis, yakni usaha memahami Tuhan melalui rasio. Ada yang lebih mendasarkan pemahamannya melalui intuitif.
Di sisi lain ada yang cukup puas dengan informasi teks dan seterusnya. Selain dari itu, di samping banyaknya pendekatan yang digunakan oleh umat Islam dalam memahami Tuhan, hal yang turut serta menyeruakkan bermacam-macamnya konsep teolog Islam adalah berkaitan dengan wajah Tuhan itu sendiri. Syaikh Akbar Ibnu ‘Arabi membagi Tuhan pada dua wajah: Dzat dan Sifat. Wajah Tuhan yang terdiri dari dzat dan sifat ini menyebabkan munculnya perbedaan pandangan di kalangan para mutakallim. Ada yang menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sufat dan ada juga yang tidak myakini bahwa tuhan mempunyai sifat. Beraneka ragamnya konsep teologi tersebut, akhirnya juga membawa beraneka ragamnya pola hidup dan pola pikir umat Islam. Bagi umat Islam yang masuk pada kubu Jabariyyah akhirnya lebih cenderung fatalistik. Hal ini karena pakem teologi Jabariyyah adalah menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Sementara bagi umat Islam yang menjadi penganut Qodariyyah menjadikan umat Islam pada kelompok ini mempunyai sikap hidup yang optimis. Karena konsep teologi mereka menyatakan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia merupakan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu, termasuk nilai baik dan buruk adalah berasal dari manusia dan bukan dari Tuhan. Pola hidup dan pola pikir lainnya juga ditunjukkan oleh kelompok lainnya yang mempunyai konsep teologi berbeda.
            Dinamika dan dialektika sejarah teologi umat Islam di atas hingga kini masih terus menemukan geliatrnya, bahkan dalam kontek Indonesia justru mengalami penguatan. Munculnya gerakan-gerakan puritanisme Islam yang mengusung tema-tema radikalisme Islam, menuntut menarik Islam ke era awal adalah representasi dari menguatnya penanaman teologi wahabi dan salafiyah. Lahirnya konsep teologi ini sebagiannya ditopang oleh lahirnya gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam yang masuk kategori neokonservatisme.                                        

Muhammadiyah dan mata rantai pembaharuan islam
Muhammadiyah memang dikenal sebagai gerakan pembaharuan islam yang berwatak tajdid di Indonesia.Muhammadiyah lahir di kampung kauman yogyakarta tanggal 18 nopember 1912 miladiyah atau 8 dzulhijah 1330 Hijriah.KH ahmad dahlan selaku pesndiri muhammadiyah dikenal sebagai mujadid atau pembaru (karena gagasan dan langkah gerakannya) ketokohan pada abad ke 20.Istilah lain untuk GPI ;tajdid fial islam / revivalisme islam gerakan pemurnian.
Tokoh 2 atau lokomotof gerakan pembangkitan islam.Terjalinnya mata rantai ini  khususnya karena peloporanoleh Ibnu Taimiah,Muhammad bin abdil wahab,Jalaludin alafgani,M abduh,M rasyid ridha.
Tanggapan para tokoh pembaru pada ahir abad ke 19 dan awal abad ke 20 terhadap dampak barat kepada Masyarakat muslim terwujud dalam usaha yanag sungguh sungguh untuk mengiterpretasi islam dalam menghadapi perubahan kehidupan.Mereka menekan kan sikap dinamis,lues (adaptasi)yang menjadi cirri kemajuan islam klasik (650-1250) yang terutama mendapat tekanan khusus mereka adalah bidang hokum,pendidikan dan sains.Selain itu mereka juga menekankan pembaharuan internal melalui interpretasi (ijtihad) adaptasi secara selektif atau islamisasi ide ide dan teknologi barat.
Dari sinilah kemudian dikenal konsep konsep barat seperti ; demokrasi,hak asasi nasionalisme dan sebagainya.
Selanjutnya teologi Islam juga disebut sebagai ilmu kalam yakni ilmu yang mendalami kalam tuhan atau juga kalam yang dimaksud disini adalah kata – kata atau kalam yang sering digunakan oleh para teolog untuk berhujjah sehingga dalam Islam para teolog sering juga disebut sebagai mutakallimin.     
Islam di waktu itu, seperti digambarkan oleh W.M.Watt, telah merupakan kumpulan suku-suku bangsa Arab, yang mengikat tali persekutuan dengan (Nabi) Muhammad dalam berbagai bentuk, dengan masyarakat Madinah dan mungkin juga dengan masyarakat Makkah sebagai intinya. Selanjutnya, bagaimana bentuk teologi Islam dari masing-masing periode yang pernah muncul dalam sejarah Islam. Menurut Harun Nasution, dalam sejarah Islam, teologi Islam terbagi dalam periode atau zaman yakni zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M) dan zaman modern (1800 dan setererusnya).

1. Periode klasik (650-1250 M).
 Teologi yang berkembang di era klasik ini adalah teologi sunnatullah atau teologi yang berdasarkan pada hukum alam (natural law). Teologi natural pada prinsipnya keberimanan yang berdasarkan hanya pada rasio, teologi ini kajiannya murni filsafat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Sehingga produk teologi yang dihasilkan adalah teologi yang dibangun berdasarkan argumen-argumen logis-rasional.
Ciri-ciri teologi natural (sunnatullah) ini adalah : -kedudukan akal yang tinggi -kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan. -kebebasan berpikir hanya diikat oleh ajaran-ajaran dasar dalam al-Qur’an dan Haditas yang sedikit sekali jumlahnya. -Percaya pada adanya sunnatullah dan kausalitas -mengambil dari metaforis dari tek wahyu -Dinamika dalam sikap dan berpikir. Lahirnya teologi sunnatullah atau natural ini didukung oleh lahirnya iklim dialog antara dunia Islam dengan alam pemikiran Yunani. Ketika dunia Islam mulai bersentuhan dengan peradaban Yunani, maka rasionalisme mulai bergeliat dalam dunia Islam. Semangat rasionalisme yang ada dalam filsafat inilah yang dijadikan oleh para pemikir Islam untuk membangun teologi. Di anatara para filsof Yunani, Aristoteles adalah yang paling menarik bagi orang-orang Islam. Dari dia para pemikir muslim mengambil terutama metode berpikir sistematis dan rasional,
 yaitu al-Manthiq (logika formal), di samping biologi, ilmu bumi matematis dan lain-lain. Mereka memandangnya sebagai “al-mu’allim al-awwal” (guru pertama). Aristotalianisme dengan demikian menjadi bagian integral dari khazanah pemikiran Islam. Tetapi sesungguhnya, pemahaman kaum muslimin terhadap pikiran guru pertama itu, secara keseluruhannya, adalah terjadi melalui teropong neoplatonisme, karena sebagian besar lewat karya-karya para penafsir, khususnya karya-karya plotinus dan Prophiry. Salah satu karya kefilsafatan yang amat bgesar pengaruhnya kepada dunia pemikiran filsafat Islam adalah “Theologia Aristotelis”. Dengan logika formal yang demikian itu, maka bangunan teologi Islam di masa klasik penuh vitalitas rasionalisme. Sehingga pembuktian Tuhan mempunyai dasar agumennya yang rasionalistik. Bukan hanya itu, persolaan tentrang proses penciptaan alam semesta yang termasuk bagian dari teologi juga mempunyai dasar rasionalismenya. Seperti para filsof paripatetik yang mempunyai konsep penciptaan alam melalui penjelasan akal pertama, akal kedua, akal ketiga dan seterusnya.
 Periode klasik ini secara umum terbagi menjadi dua. Pertama adalah periode klasik (650-1000) yaitu periode zaman di mana daerah Islam mulai meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan di Persia sampai ke India di Timur. Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, dan kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Di masa inilah berkembang dan maju pesat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang coraknya bermacam-macam seperti fiqh, filsafat, sufisme dan termasuk teologi. Dari periode ini ulama –ulama fiqh yang mucul seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii. Sementara dalam bidang teologi ulama-ulama yang lahir adalah Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, Washil Bin Atho’ Abu Huzail, Al-Nizam dan Al-Jubai. Kedua adalah fase disintegerasi (1000-1250 M). Di masa ini persatuan dan kesatuan umat Islam mulai mengalami kemunduran. Konflik poloitik seringkali melanda sehingga klimkanya adalah hancurnya imperium Islam yang menyebabkan Baghdad berhasil dikuasasi oleh Hulaghu Khan di tahun 1258. Karena semangat pemikirannya yang cenderung antoposentris itulah, maka teologi di abad klasik ini termasuk teologi Qadariyyah. Paham ini terkenal dengan nama free wil,.dan free act. Artinya manusia mempunyai kebebasan atau kemerdekaan dalam menentukan hidupnya. Seluruh prestasi yang dihasilkan oleh manusia bukanlah dari Tuhan melainkan dari manusianya sendiri karena manusia diyakini mempunyai kekuatan dan kapabelitas untuk menghasilkan prestasi tersebut. Teologi sunnatullah atau Qadariyyah ini bukan sekedar beroreintasi pada kehidupan ahirat, melainkan juga mempunyai target dunia. Oleh karena itu, di era Qadariyah ini, di samping basis keimanan umat Islam karena ditopang oleh rasionalisme, bidang-bidang lain seperti ekonomi, politik dan sejenisnya mengalami kemajuan pesat. Mesir, Suriah dan Persia, ketika itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, sutra dan lain-lain di Timur Tengah. Hasil-hasil yang berasal dari Timur di bawa ke Barat harus melalui daerah-daerah tersebut. Kairo, Alexandria, Damsyik, Baghdad dan Siraz (Persia) menjadi kota-kota dagang yang penting.                                                
 Sementara itu di bidang tasawuf yang berkembang adalah tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi merupakan sebuah pemikiran atau aktifitas untuk mengenal lebih dekat kepada Tuhan tetapi tetap menggunakan pemikiran filosofis. Dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, para sufi menempuh jalan panjang dan sulit meskipun akhirnya sampai juga pada tujuan mereka. Dalam mendekatkan diri, mereka dihinggapi oleh rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan, sehingga mereka di stasiun al-mahabbah atau cinta ilahi. Kalau cinta mereka dibalas Tuhan mereka akan meningkat ke level yang lebih tinggi, yaitu al-ma’rifat.
Bukan hanya itu, pada zaman klasik ini sains juga mengalami kemajuan pesat meskipun tidak sepesat era sekarang. Ilmu kedokteran banyak dikembangkan oleh para ahli seperti Ibnu Rusd, AlRazi dan Ibnu Shina. Ilmu kimia mengalami kemajuan di tangan jabir dan Ala-razi. Sumbangan ulama Islam bagi ilmu kimia lebih banyak dari yang diberikan oleh orang-orang Yunani. Matematika dikembangkan oleh al-Khawarizmi, Umar Al-Khayam. Angka kosong (nol) adalah penemuan ulama Islam yang kemudian bersama angka Arab lainnya dibawa ke Eropa pada permulaan abad ke dua belas M. Astronomi berkembang di tangan Al-Fazzari , AlFarghani dan lain-lain.


Kesimpulan
 Periode klasik ini secara umum terbagi menjadi dua. Pertama adalah periode klasik (650-1000) yaitu periode zaman di mana daerah Islam mulai meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan di Persia sampai ke India di Timur. Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, dan kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Di masa inilah berkembang dan maju pesat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang coraknya bermacam-macam seperti fiqh, filsafat, sufisme dan termasuk teologi. Dari periode ini ulama –ulama fiqh yang mucul seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii. Sementara dalam bidang teologi ulama-ulama yang lahir adalah Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, Washil Bin Atho’ Abu Huzail, Al-Nizam dan Al-Jubai.
 Kedua adalah fase disintegerasi (1000-1250 M). Di masa ini persatuan dan kesatuan umat Islam mulai mengalami kemunduran. Konflik poloitik seringkali melanda sehingga klimkanya adalah hancurnya imperium Islam yang menyebabkan Baghdad berhasil dikuasasi oleh Hulaghu Khan di tahun 1258. Karena semangat pemikirannya yang cenderung antoposentris itulah, maka teologi di abad klasik ini termasuk teologi Qadariyyah. Paham ini terkenal dengan nama free wil,.dan free act. Artinya manusia mempunyai kebebasan atau kemerdekaan dalam menentukan hidupnya. Seluruh prestasi yang dihasilkan oleh manusia bukanlah dari Tuhan melainkan dari manusianya sendiri karena manusia diyakini mempunyai kekuatan dan kapabelitas untuk menghasilkan prestasi tersebut. Teologi sunnatullah atau Qadariyyah ini bukan sekedar beroreintasi pada kehidupan ahirat, melainkan juga mempunyai target dunia.

 


DAFTAR PUSTAKA



Nasution, Harun.Dr. Prof, Islam Rasional, Mizan , Bnadung, 1995

Nasution, Harun.Dr. Prof, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, 1990

Nasution, Harun.Dr. Prof, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 2007

Madjid, Nurcholis (Ed), Khazanah Intelektual Islam, Jakarta, 1985

Kertanegara, Mulyadhi, Panorama Filsafat Islam





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar