Kamis, 13 September 2018

KONFLIK DAN HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK DALAM ORGANISASI


KONFLIK DAN HUBUNGAN

ANTAR KELOMPOK DALAM ORGANISASI

Ringkasan Bab 11 Kepemimpinan dan Perilaku organisasi
Prof. Dr. Badeni, MA.






Ringkasan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi
Dosen Pengampu Dr. Osa Juarsa, M.Pd.


Oleh :




Jhon Sastro


PROGRAM STUDI

MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA FKIP
UNIVERSITAS BENGKULU
2014




KONFLIK DAN HUBUNGAN
ANTAR KELOMPOK DALAM ORGANISASI

1. Apakah Konflik Itu ?
Menurut World Book Dictionary, conflict is a fight, struggle, battle, disagreement, dispute or quarrel (konflik adalah pertarungan, pemertahanan diri, perang, ketidaksetujuan, atau perselisihan) (David W. Johnson/Frank P. Johnson, 1997). Berdasarkan pengertian ini, kita dapat melihat bahwa konflik dapat berarti mulai dari hal yang kecil, seperti perbedaan pendapat, hingga pada yang besar yaitu perang.

2. Pandangan tentang konflik
Pandangan tradisional, konflik merupakan situasi yang merugikan organisasi sehingga harus dihindari. Pandangan hubungan manusia, konflik dalam organisasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dan akan selalu melekat dalam hubungan antar manusia. Pandangan interactionist, mengatakan bahwa konflik justru merupakan sesuatu yang harus distimulasi, sebab konflik dapat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi.
2.1.Konflik dapat konstruktif dan destruktif
Konstruktif ; konflik tidak selalu merugikan, menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik. Destruktif; konflik selalu merugikan, menghasilkan kemarahan, permusuhan, mengakhiri persatuan, atau bahkan kekerasan dan perang.
2.2. Proses Konflik
Proses konflik berasal dari dalam diri orang yang berkonflik (individu) atau bersumber dari lingkungan (organisasi) yang dapat menimbulkan;  latent konflik, perceived conflict, felt conflict, manifest conflict, dan conflict aftermanth.


3. Klasifikasi Konflik
W.F.G. Mastenbroek, (1986), berdasarkan sifatnya penyebab konflik dapat dibedakan menjadi tiga; (a) Konflik instrumental, (b) Konflik sosial dan emosional, (c) Konflik kepentingan.
(a) Konflik instrumental, disebabkan situasi lingkungan, seperti sumber daya yang langka, ragam sistem, persaingan untuk mendapatkan sumber daya, struktur yang mengakibatkan perbedaan fungsi, dan sasaran dari berbagai pihak.
(b) Konflik sosial dan emosional,
Terjadi akibat adanya identifikasi  diri yang kuat terhadap suatu kelompok, persepsi diri yang benar, prasangka buruk pada orang atau kelompok lain. Hal ini besumber dari sejarah pertentangan kelompok.
(c) Konflik kepentingan.
Konflik kepentingan merupakan konflik antara anggota kelompok yang muncul akibat adanya perbedaan kepentingan yang di dalamnya satu orang berusaha untuk memaksimalkan kepentingannya dan mencegah atau menghambat orang lain untuk mencapai tujuannya.
Menurut Judith R. Gordo (1993), konflik dilihat dari pihak-pihak yang terlibat dalam konfilik dibedakan menjadi :
1.      Intrapersonal conflict, konflik terjadi dalam diri seseorang.
2.      Iterpersonal conflict, konflik terjadi antara diri seseorang dengan lainnya.
3.      Intragroup conflict, konflik  terjadi antara anggota kelompok.
4.      Intergroup conflict, konflik terjadi kelompok satu dengan kelompok lain
5.      Intraorganizational conflict, konflik didalam organisasi,
6.      Interorganizational conflict, konflik antara organisasi.
Konflik juga diklasifikasikan menurut perbedaan status atau peran seseorang atau kelompok yang berkonflik, meliputi : konflik vertikal, konflik horizontal, konflik lini dan staf, dan konflik peran.
(d) Konflik antar kelompok dalam organisasi
Sumber konflik antar kelompok, adalah situasi yang menyebabkan kemungkinan terjadinya potensi konflik. Beberapa faktor yang memungkinkan terjadinya konflik, yaitu : saling ketergantungan pekerjaan, diferensiasi horizontal yang tinggi, formalisasi, ketergantungan sumber daya bersama yang langka, perbedaan dalam kriteria evaluasi dan sistem imbalan, proses pengambilan keputusan partisipatif, keanekaragaman anggota, ketidak cocokan status, ketidak puasan peran, dan distorsi komunikasi.
(e) Konflik Antar kelompok dan perilaku
Konflik dipastikan akan memengaruhi perilaku anggota kelompok sebab konflik membentuk sikap  terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri, misalnya keyakinan tentang kebenaran diri sendiri atau tidak suka dan selanjutnya membentuk kecenderungan perilaku yang meliputi ;
1.      Sikap dan perilaku yang terjadi dalam masing-masing kelompok yang berkonflik; anggota kelompok menjadi kompak, berorientasi pada tugas, kebutuhan psikologis menurun, dan pola kepemimpinan yang berubah.
2.      Sikap dan perilaku yang terjadi di antara kelompok yang berkonflik; kelompok menjadi sangat terstruktur dan terorganisir, melihat kelompok lain sebagai musuh, terjadi penyimpangan persepsi, dan komunikasi antara kelompok menurun.

4. Penyelesaian Konflik
Penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan beberapa cara yang meliputi :
1.      Pemecahan Masalah (Problem solving) / win-win solution,
2.       Penghindaran (avoidance),
3.      Pelunakan (smoothing),
4.      Kompromi (compromise),
5.      Perintah kekuasaan (authoritative command),
6.      Persaingan (competitian).
5. Mengurangi atau mencegah konflik
Penyelesaian konflik merujuk kepada bagaimana menyelesaikan konflik yang terjadi. Dengan demikian ada beberapa cara mengurangi kemungkinan terjadinya konflik melalui ;
1.    Tujuan Superordinat, menempatkan tujuan yang sama yang harus dicapai bersama-sama setiap pihak, melalui ; Apple system, Peningkatan interaksi, dan perluasan sumber daya.
2.    Negosiasi (Proses penyelesaian konflik) dapat dilakukan dengan pendekatan ; (a) Saling berbagi kepentingan (problem solving), dan (b) memenangkan konflik untuk mencapai tujuan sendiri (win-lose negotiation).
Agar negosisasi dapat dilakukan secara optimal syaratnya adalah :
1.      Participation independence (melibatkan semua pihak berkonflik), outcome independence (adanya kerja sama), dan information independence (sama-sama meberikan informasi). (David W. Johnson/Frank P. Johnson (1997).
2.      Making contractual norm (norm of reciprocity, norm of equity), dibuat standar untuk mencapai kesepakatan.
3.      Adanya proses yang memakan cukup waktu.
4.      Dalam negosiasi masing-masing pihak menghadapi goal dilemma (dilema tujuan).
Tanpa mengabaikan pentingnya win-lost negotiation, problem solving negotiation merupakan upaya penangan konflik yang paling baik. Menurut David W. Jhonson/Frank P. Johnson (1997) untuk mencapai problem solving negotiation perlu adanya langkah-langkah :
1.      Menjelaskan apa yang menjadi keinginan bersama,
2.      Saling mempertukarkan alasan keinginan masing-masing,
3.      Memahami pandangan pihak lain,
4.      Mengidentifikasi alternatif yang menguntungkan bersama,
5.      Mencari kesepakatan yang terbaik.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar